POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Masih soal tarif bea masuk dari Paman Sam. Setelah membahas upaya China melawan AS, sekarang giliran Vietnam. Sambil seruput kopi Vietnam, mari kita dalami negeri Nguyen melawan kesombongan Donald Trump.

Vietnam pernah bikin Amerika kocar-kacir. Bukan dalam kontes cosplay atau lomba TikTok, tapi dalam perang beneran. Tentara Vietkong bersembunyi di hutan, makan nasi kepal, dan bikin jebakan yang bisa bikin tentara Amerika nyangkut kayak kabel headset. Hasilnya? Amerika mundur, pulang, dan sejak saat itu menyimpan satu rasa, dendam nasional berskala emosional.

Tahun demi tahun berlalu. Dunia berubah. Teknologi canggih, TikTok mendunia, dan hubungan internasional mulai membaik. Tapi Amerika? Masih ngambek. Kalau dulu perang pakai senapan, sekarang mereka perang pakai tarif. Vietnam jadi sasaran favorit.

Di antara semua negara ASEAN yang polos, imut, dan penuh harapan, Vietnam dihantam tarif impor tertinggi, 46 persen. Gila..gila..! Ini bukan sekadar angka, ini deklarasi dendam terselubung. “Kalian menang perang? Sip. Nih, coba ekspor kursi lipat ke kami. Bayar dulu hampir separuh harganya.”

Vietnam? Kaget. Mereka pikir semua sudah baik-baik saja. Bahkan, mereka dengan tulus bilang, “Hei, kami siap kok me-nol-kan tarif untuk barang-barang dari Amerika. Asal kalian juga sopan, ya, kasih kami tarif ringan juga.” Itu bukan tanda menyerah, itu strategi. Mereka kasih umpan. Kalau ini catur, Vietnam lagi ngorbanin pion buat jebak raja.

Tapi Paman Sam kayaknya masih trauma. Atau mungkin dia pikir, kalau tidak bisa menang pakai peluru, coba pakai pajak. Seolah-olah spreadsheet bisa menebus kehormatan yang hilang di hutan belantara tahun 70-an.

📚 Artikel Terkait

Makan Daging Qurban Bakar di Senja Usia

Bahasa Ibu Memercikkan Cahaya

Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

Hujan Pagi ini

Tentu saja Vietnam tidak tinggal diam. Negara ini punya DNA ngotot. Mereka langsung aktif, mendiversifikasi pasar ekspor, merayu Jepang, menggoda Kanada, dan bersolek di depan Uni Eropa. Pokoknya siapa pun yang siap nerima barang mereka tanpa drama tarif, langsung disamperin. Amerika dicuekin dulu, biar kangen.

Sementara itu di dalam negeri, Vietnam perkuat industrinya. Mesin-mesin berdentam, pabrik-pabrik disulap jadi benteng produksi. Barang elektronik, tekstil, furnitur, semua disiapkan untuk menghadapi tarif seperti pendekar menghadapi badai. Kalau itu belum cukup, Vietnam main trik, ubah kode barang, utak-atik label. Bahkan, ganti komponen supaya barang terlihat ‘tidak terlalu Vietnam’ ketika masuk pelabuhan Amerika.

Bayangkan seorang anak muda yang habis diputusin pacar, tapi tetap ngirim kado ulang tahun. Begitulah Vietnam. Tetap baik, tetap berharap, sambil ngebangun masa depan lebih cerah tanpa tergantung pada si mantan.

Sementara itu, meja diplomasi tetap ramai. Vietnam datang dengan senyum tipis dan suara halus, “Kami siap nolkan tarif untuk kalian. Ayo kita kerja sama.” Tapi di dalam hati, mereka menggumam, “Kita lihat siapa yang tertawa terakhir, ya.”

Paman Sam, dengan segala kebesaran dan ego historisnya, mungkin mengira dia masih pegang kendali. Tapi kita tahu, sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang underestimate negara kecil yang hobi bertahan hidup. Vietnam bukan cuma jago perang gerilya, mereka sekarang juga jago perang dagang.

Jadi, 46 persen? Silakan. Vietnam tetap berdiri. Ekspor tetap jalan. Perjanjian dagang makin banyak. Bahkan sekarang mereka bisa nyengir sambil ngetik invoice. Karena dendam masa lalu boleh jadi belum reda, tapi masa depan selalu milik mereka yang bisa negosiasi sambil ngopi.

“Bang, Indonesia gimanalah?” Ah, sudah ada Pak Probowo memikirkannya. Kita mah bisanya seruput kopi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00