• Latest
Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam - 1000481677_11zon | Amerika | Potret Online

Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam

April 6, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 6, 2025
in Amerika
Reading Time: 3 mins read
0
Vietnam Memilih “Takluk” dari Paman Sam - 1000481677_11zon | Amerika | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Masih soal tarif bea masuk dari Paman Sam. Setelah membahas upaya China melawan AS, sekarang giliran Vietnam. Sambil seruput kopi Vietnam, mari kita dalami negeri Nguyen melawan kesombongan Donald Trump.

Vietnam pernah bikin Amerika kocar-kacir. Bukan dalam kontes cosplay atau lomba TikTok, tapi dalam perang beneran. Tentara Vietkong bersembunyi di hutan, makan nasi kepal, dan bikin jebakan yang bisa bikin tentara Amerika nyangkut kayak kabel headset. Hasilnya? Amerika mundur, pulang, dan sejak saat itu menyimpan satu rasa, dendam nasional berskala emosional.

Tahun demi tahun berlalu. Dunia berubah. Teknologi canggih, TikTok mendunia, dan hubungan internasional mulai membaik. Tapi Amerika? Masih ngambek. Kalau dulu perang pakai senapan, sekarang mereka perang pakai tarif. Vietnam jadi sasaran favorit.

Di antara semua negara ASEAN yang polos, imut, dan penuh harapan, Vietnam dihantam tarif impor tertinggi, 46 persen. Gila..gila..! Ini bukan sekadar angka, ini deklarasi dendam terselubung. “Kalian menang perang? Sip. Nih, coba ekspor kursi lipat ke kami. Bayar dulu hampir separuh harganya.”

Vietnam? Kaget. Mereka pikir semua sudah baik-baik saja. Bahkan, mereka dengan tulus bilang, “Hei, kami siap kok me-nol-kan tarif untuk barang-barang dari Amerika. Asal kalian juga sopan, ya, kasih kami tarif ringan juga.” Itu bukan tanda menyerah, itu strategi. Mereka kasih umpan. Kalau ini catur, Vietnam lagi ngorbanin pion buat jebak raja.

Tapi Paman Sam kayaknya masih trauma. Atau mungkin dia pikir, kalau tidak bisa menang pakai peluru, coba pakai pajak. Seolah-olah spreadsheet bisa menebus kehormatan yang hilang di hutan belantara tahun 70-an.

Tentu saja Vietnam tidak tinggal diam. Negara ini punya DNA ngotot. Mereka langsung aktif, mendiversifikasi pasar ekspor, merayu Jepang, menggoda Kanada, dan bersolek di depan Uni Eropa. Pokoknya siapa pun yang siap nerima barang mereka tanpa drama tarif, langsung disamperin. Amerika dicuekin dulu, biar kangen.

Sementara itu di dalam negeri, Vietnam perkuat industrinya. Mesin-mesin berdentam, pabrik-pabrik disulap jadi benteng produksi. Barang elektronik, tekstil, furnitur, semua disiapkan untuk menghadapi tarif seperti pendekar menghadapi badai. Kalau itu belum cukup, Vietnam main trik, ubah kode barang, utak-atik label. Bahkan, ganti komponen supaya barang terlihat ‘tidak terlalu Vietnam’ ketika masuk pelabuhan Amerika.

Bayangkan seorang anak muda yang habis diputusin pacar, tapi tetap ngirim kado ulang tahun. Begitulah Vietnam. Tetap baik, tetap berharap, sambil ngebangun masa depan lebih cerah tanpa tergantung pada si mantan.

Sementara itu, meja diplomasi tetap ramai. Vietnam datang dengan senyum tipis dan suara halus, “Kami siap nolkan tarif untuk kalian. Ayo kita kerja sama.” Tapi di dalam hati, mereka menggumam, “Kita lihat siapa yang tertawa terakhir, ya.”

Paman Sam, dengan segala kebesaran dan ego historisnya, mungkin mengira dia masih pegang kendali. Tapi kita tahu, sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang underestimate negara kecil yang hobi bertahan hidup. Vietnam bukan cuma jago perang gerilya, mereka sekarang juga jago perang dagang.

Jadi, 46 persen? Silakan. Vietnam tetap berdiri. Ekspor tetap jalan. Perjanjian dagang makin banyak. Bahkan sekarang mereka bisa nyengir sambil ngetik invoice. Karena dendam masa lalu boleh jadi belum reda, tapi masa depan selalu milik mereka yang bisa negosiasi sambil ngopi.

“Bang, Indonesia gimanalah?” Ah, sudah ada Pak Probowo memikirkannya. Kita mah bisanya seruput kopi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com