POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menafsir “Ketika Kuputari Ka’bah”dalam Perspektif Pendidikan dan Filsafat Islam

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
March 29, 2025
Ketika Kuputari Ka’bah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro

Puisi esai “Ketika Kuputari Ka’bah” karya Denny JA menghadirkan refleksi spiritual yang dalam mengenai pengalaman thawaf di sekitar Ka’bah. Di balik rangkaian kata yang puitis, tulisan ini menggugah kesadaran akan makna perjalanan manusia menuju Tuhan. Jika kita melihatnya dari perspektif pendidikan agama Islam dan filsafat Islam, ada beberapa poin utama yang dapat dikaji lebih lanjut.

  1. Pendidikan Agama Islam: Transformasi Spiritual dan Kesadaran Diri

Dalam pendidikan Islam, ibadah tidak sekadar serangkaian ritual, tetapi juga sarana untuk mendidik jiwa. Ibadah haji dan umrah, khususnya thawaf, merupakan simbol perjalanan spiritual manusia. Dalam puisi ini, thawaf diibaratkan sebagai perjalanan ke dalam diri sendiri:

“Ketika kukitari Ka’bah, aku tak hanya thawaf di bumi, aku mengitari pusaran kesadaranku.”

Dalam pendidikan Islam, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menjadi salah satu aspek utama. Sebagaimana dalam ayat:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9).

Puisi ini mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya rutinitas fisik, tetapi juga latihan menyucikan hati dari berbagai penyakit batin seperti kesombongan, keakuan, dan keterikatan duniawi.

Lebih lanjut, pendidikan agama Islam juga menekankan kesetaraan manusia di hadapan Allah, yang tergambar dalam pemakaian ihram:

“Baju ihram ini, putih bersih, bukan sekadar kain, tetapi penghapus ego dan identitas.”

Ini mengingatkan kita pada ajaran Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada’:

📚 Artikel Terkait

Unity in Diversity: Living with Justice and Compassion in God’s World

Ketika Jalanan Menjadi Mimbar Demokrasi: Suara Rakyat yang Tak Boleh Dibungkam

Bhoi Morica: Inovasi Kue Tradisional Aceh Oleh 3 Mahasiswi USK Sebagai Solusi Anti-Stunting dan Anti-Cacingan

BUPATI ABDYA HADIRI WISUDA TAHFIZ SDIT MUHAMMADIYAH MANGGENG

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, atau bagi orang non-Arab atas orang Arab, kecuali dengan ketakwaan.”

Dengan demikian, puisi ini mencerminkan nilai pendidikan Islam yang menekankan kesadaran spiritual, introspeksi, serta nilai persaudaraan universal.

  1. Filsafat Islam: Eksistensi, Waktu, dan Kesadaran Ketuhanan

Dari perspektif filsafat Islam, puisi ini menggambarkan konsep eksistensialisme spiritual. Dalam pemikiran filsafat Islam, manusia terus mencari hakikat dirinya, dan pencarian ini berpuncak pada pertemuan dengan Tuhan. Ini selaras dengan pandangan Ibnu Arabi, yang mengatakan bahwa perjalanan manusia adalah perjalanan menuju kesadaran akan Tuhan yang selalu hadir.

“Semakin aku menelusuri diriku, semakin aku menjumpai-Mu.”

Pernyataan ini menggambarkan konsep “wahdatul wujud” atau kesatuan wujud, di mana Tuhan bukan sesuatu yang terpisah dari pencariannya, tetapi justru ditemukan dalam setiap perjalanan menuju diri sendiri.

Selain itu, puisi ini juga menyentuh konsep waktu dalam filsafat Islam. Dalam thawaf, waktu terasa berhenti:

“Mengelilingi pusat kerinduan, tempat waktu tak lagi bergerak.”

Ini mengingatkan kita pada gagasan waktu absolut dan waktu relatif dalam pemikiran filsafat Islam. Dalam pemikiran Al-Farabi dan Mulla Sadra, waktu duniawi bersifat linier, sementara waktu dalam dimensi spiritual bisa menjadi siklikal atau bahkan berhenti ketika seseorang mencapai kesadaran tertinggi.

Kesimpulan
Puisi ini bukan sekadar refleksi personal, tetapi juga bisa menjadi bahan kajian dalam pendidikan agama Islam dan filsafat Islam. Ia mengajarkan bagaimana ibadah dapat menjadi sarana pembersihan jiwa, kesadaran akan kesetaraan, serta perjalanan menemukan Tuhan dalam diri sendiri.

Dari sisi filsafat Islam, puisi ini mengandung gagasan tentang eksistensi, waktu, dan kesadaran ketuhanan, yang berakar dalam pemikiran para sufi dan filsuf Muslim klasik.

Dengan demikian, Ketika Kuputari Ka’bah tidak hanya mengajak pembaca untuk memahami pengalaman thawaf, tetapi juga menyelami kedalaman makna spiritual dan filsafat dalam Islam.


Rumah Kayu Cepu, 28 Maret 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00