• Latest
Ketika Kuputari Ka’bah

Menafsir “Ketika Kuputari Ka’bah”dalam Perspektif Pendidikan dan Filsafat Islam

Maret 29, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menafsir “Ketika Kuputari Ka’bah”dalam Perspektif Pendidikan dan Filsafat Islam

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Maret 29, 2025
Reading Time: 3 mins read
Ketika Kuputari Ka’bah
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro

Puisi esai “Ketika Kuputari Ka’bah” karya Denny JA menghadirkan refleksi spiritual yang dalam mengenai pengalaman thawaf di sekitar Ka’bah. Di balik rangkaian kata yang puitis, tulisan ini menggugah kesadaran akan makna perjalanan manusia menuju Tuhan. Jika kita melihatnya dari perspektif pendidikan agama Islam dan filsafat Islam, ada beberapa poin utama yang dapat dikaji lebih lanjut.

  1. Pendidikan Agama Islam: Transformasi Spiritual dan Kesadaran Diri

Dalam pendidikan Islam, ibadah tidak sekadar serangkaian ritual, tetapi juga sarana untuk mendidik jiwa. Ibadah haji dan umrah, khususnya thawaf, merupakan simbol perjalanan spiritual manusia. Dalam puisi ini, thawaf diibaratkan sebagai perjalanan ke dalam diri sendiri:

“Ketika kukitari Ka’bah, aku tak hanya thawaf di bumi, aku mengitari pusaran kesadaranku.”

Dalam pendidikan Islam, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menjadi salah satu aspek utama. Sebagaimana dalam ayat:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9).

Puisi ini mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya rutinitas fisik, tetapi juga latihan menyucikan hati dari berbagai penyakit batin seperti kesombongan, keakuan, dan keterikatan duniawi.

Lebih lanjut, pendidikan agama Islam juga menekankan kesetaraan manusia di hadapan Allah, yang tergambar dalam pemakaian ihram:

“Baju ihram ini, putih bersih, bukan sekadar kain, tetapi penghapus ego dan identitas.”

Ini mengingatkan kita pada ajaran Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada’:

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, atau bagi orang non-Arab atas orang Arab, kecuali dengan ketakwaan.”

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Dengan demikian, puisi ini mencerminkan nilai pendidikan Islam yang menekankan kesadaran spiritual, introspeksi, serta nilai persaudaraan universal.

  1. Filsafat Islam: Eksistensi, Waktu, dan Kesadaran Ketuhanan

Dari perspektif filsafat Islam, puisi ini menggambarkan konsep eksistensialisme spiritual. Dalam pemikiran filsafat Islam, manusia terus mencari hakikat dirinya, dan pencarian ini berpuncak pada pertemuan dengan Tuhan. Ini selaras dengan pandangan Ibnu Arabi, yang mengatakan bahwa perjalanan manusia adalah perjalanan menuju kesadaran akan Tuhan yang selalu hadir.

“Semakin aku menelusuri diriku, semakin aku menjumpai-Mu.”

Pernyataan ini menggambarkan konsep “wahdatul wujud” atau kesatuan wujud, di mana Tuhan bukan sesuatu yang terpisah dari pencariannya, tetapi justru ditemukan dalam setiap perjalanan menuju diri sendiri.

Selain itu, puisi ini juga menyentuh konsep waktu dalam filsafat Islam. Dalam thawaf, waktu terasa berhenti:

“Mengelilingi pusat kerinduan, tempat waktu tak lagi bergerak.”

Ini mengingatkan kita pada gagasan waktu absolut dan waktu relatif dalam pemikiran filsafat Islam. Dalam pemikiran Al-Farabi dan Mulla Sadra, waktu duniawi bersifat linier, sementara waktu dalam dimensi spiritual bisa menjadi siklikal atau bahkan berhenti ketika seseorang mencapai kesadaran tertinggi.

Kesimpulan
Puisi ini bukan sekadar refleksi personal, tetapi juga bisa menjadi bahan kajian dalam pendidikan agama Islam dan filsafat Islam. Ia mengajarkan bagaimana ibadah dapat menjadi sarana pembersihan jiwa, kesadaran akan kesetaraan, serta perjalanan menemukan Tuhan dalam diri sendiri.

ADVERTISEMENT

Dari sisi filsafat Islam, puisi ini mengandung gagasan tentang eksistensi, waktu, dan kesadaran ketuhanan, yang berakar dalam pemikiran para sufi dan filsuf Muslim klasik.

Dengan demikian, Ketika Kuputari Ka’bah tidak hanya mengajak pembaca untuk memahami pengalaman thawaf, tetapi juga menyelami kedalaman makna spiritual dan filsafat dalam Islam.


Rumah Kayu Cepu, 28 Maret 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com