• Latest
Sang Pembangkang

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Maret 20, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Bagian 21

Bussairi D Nyak Diwaby Bussairi D Nyak Diwa
Maret 25, 2025
Reading Time: 3 mins read
Sang Pembangkang
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

​Minggu-minggu pertama menjalani proses belajar-mengajar di SMA Muhammadiyah, aku mengalami sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri. Kebanyakan siswa yang belajar di kelas sore ini adalah anak-anak perantauan. Hampir semua siswa warga kelas I-3 adalah anak-anak yang berasal dari luar Kota Banda Aceh. Ada dari Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Timur, Sabang, Aceh Selatan, Singkil, Seumeulu, bahkan ada yang dari Sumatera Utara. 

Sitrisno misalnya, pemuda jangkung sang ketua kelas ini berasal dari Siantar. Ada juga Meslin Debataraja yang berasal dari daerah yang lebih jauh lagi, yakni Dumai. Dari Aceh Selatan sendiri, di mana aku berasal, ada dua orang selain aku; Firman Aihis dan Suryaman.

Baca Juga

Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Maret 23, 2026

​Meskipun aku dari udik (istilah anak kampung waktu itu), aku mudah bergaul. Hal ini mungkin karena pengalamanku yang lama tinggal mondok di pesantren dulu. Hampir semua teman sekelas akrab denganku. Ini kemungkinan karena aku sedikit ‘dermawan’ membagikan tugas-tugas rumah alias pe-er.
Memang, kebiasaanku sejak SMP di kampung halaman dulu terbawa-bawa hingga ke SMA. Salah satunya adalah ‘suka’ membagikan tugas pe-er kepada siapa saja yang meminta.

Sebagai seorang anak perantau yang sadar akan tujuan bersekolah di kota, aku selalu mengerjakan setiap pe-er yang ditugaskan oleh guru. Jadi, teman-teman yang malas mengerjakan pe-er pasti mendekatiku. Bukan hanya siswa, siswi ‘pemalas’ juga sering menggodaku untuk meminta jawaban tugas pe-er. Dan celakanya, aku tak tega mengecewakan mereka, siapa saja teman satu kelas pasti akan kubantu. Meskipun sebenarnya pe-er yang kukerjakan belum tentu benar. 

​Aku senang musik dan suka menyanyi. Hampir semua jenis musik aku suka. Dangdut, pop, rock, slow rock, bahkan musik country aku juga suka. Tapi yang sering aku bawakan jika sedang sendirian adalah dangdutnya Rhoma Irama, balladanya Ebiet G. Ade, countrynya Tantowi Yahya, rocknya Ikang Fauzi, popnya Meriam Bellina, Diana Nasution, Dian Pishesha, dan lain-lain.

Biasanya, Meslin Debataraja, temanku dari Dumai itu sering membawa gitar ke sekolah. Dan hal ini kesempatan bagi kami berdendang ria di kelas, jika kebetulan guru tidak masuk atau di sudut mushalla sehabis shalat ashar. Aku sering membawakan lagu ‘Begadang’ diiringi gitar Meslin yang nyaring dan seru. Atau ‘Berita Kepada Kawan’nya Ebiet G. Ade yang sedih dan sendu. Kadang-kadang kami bernyanyi ‘koor’ beramai-ramai, sehingga kelas sering gaduh jika guru tidak masuk.

​Guru-guru yang mengajar di kelas sore ini ternyata sangat istimewa. Kukatakan istimewa karena rata-rata mereka adalah dosen dari perguruan tinggi negeri terutama dari Unsyiah (kini USK) dan IAIN Arraniry (kini UIN). Jadi kebanyakan guru itu sudah berusia lanjut. Tetapi ada juga beberapa orang yang masih muda dan belum berkeluarga. Ternyata mereka juga bakal tenaga dosen alias asisten dosen. Jadi wajar saja ilmu yang kami peroleh, terutama yang aku rasakan, sangat berkualitas dan mendalam. 

​Ada satu hal yang aku rasakan perubahan pada diri pribadiku sejak aku menempuh pendidikan di sekolah swasta ini. Hal ini mulai kurasakan sejak kehadiran seorang guru muda yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Bapak guru yang kabarnya seorang asisten dosen dari Unsyiah ini selalu membawa inovasi-inovasi baru dalam mengajar. 

Bukan hanya metode mengajar yang menarik, tapi ilmu yang ditularkan kepada kami juga terasa mendalam dan tepat sasaran. Misalnya tentang sastra, kami sering diajak untuk ikut merasakan dan mengenal langsung dengan karya sastra dengan menonton atau mengikuti even-even sastra. Malah kepada kami sering ditawarkan untuk ikutserta dalam kegiatan-kegiatan sastra di Taman Budaya. Bukan hanya sekadar diajak menonton pembacaan puisi, teater, drama, tetapi kami juga diajak berdiskusi untuk membahas karya-karya sastra. Baik karya sastra Indonesia maupun karya sastra dunia.

​Sejak saat itu aku mulai tertarik pada pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata, yang perlu dipelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia bukan sekadar menulis kata, kalimat, dan paragraf. Tetapi lebih dari itu, bahkan siswa harus mengenal sastra dan budaya Indonesia yang merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia itu. Aku semakin gemar membaca. Sering berlama-lama di perpustakaan sekadar membaca buku.

Cakrawala pikiranku mulai terbuka. Mulai memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membaca. Maka mulailah aku mengenal para sastrawan Indonesia dan dunia. H.B. Yassin, Khairil Anwar, A.A. Nafis, Goenawan Mohammad, William Sakesver, Khalil Kibran, dan berpuluh-puluh bahkan ratusan nama sastrawan lainnya mulai kukenal dan kucari-cari karyanya di rak-rak perpustakaan.

ADVERTISEMENT

(bersambung)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Rahasia Bank Swiss, Tabungan Masa Depan Para Koruptor?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com