POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Bagian 21

Bussairi D Nyak DiwaOleh Bussairi D Nyak Diwa
March 20, 2025
Sang Pembangkang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

​Minggu-minggu pertama menjalani proses belajar-mengajar di SMA Muhammadiyah, aku mengalami sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri. Kebanyakan siswa yang belajar di kelas sore ini adalah anak-anak perantauan. Hampir semua siswa warga kelas I-3 adalah anak-anak yang berasal dari luar Kota Banda Aceh. Ada dari Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Timur, Sabang, Aceh Selatan, Singkil, Seumeulu, bahkan ada yang dari Sumatera Utara. 

Sitrisno misalnya, pemuda jangkung sang ketua kelas ini berasal dari Siantar. Ada juga Meslin Debataraja yang berasal dari daerah yang lebih jauh lagi, yakni Dumai. Dari Aceh Selatan sendiri, di mana aku berasal, ada dua orang selain aku; Firman Aihis dan Suryaman.

​Meskipun aku dari udik (istilah anak kampung waktu itu), aku mudah bergaul. Hal ini mungkin karena pengalamanku yang lama tinggal mondok di pesantren dulu. Hampir semua teman sekelas akrab denganku. Ini kemungkinan karena aku sedikit ‘dermawan’ membagikan tugas-tugas rumah alias pe-er.
Memang, kebiasaanku sejak SMP di kampung halaman dulu terbawa-bawa hingga ke SMA. Salah satunya adalah ‘suka’ membagikan tugas pe-er kepada siapa saja yang meminta.

Sebagai seorang anak perantau yang sadar akan tujuan bersekolah di kota, aku selalu mengerjakan setiap pe-er yang ditugaskan oleh guru. Jadi, teman-teman yang malas mengerjakan pe-er pasti mendekatiku. Bukan hanya siswa, siswi ‘pemalas’ juga sering menggodaku untuk meminta jawaban tugas pe-er. Dan celakanya, aku tak tega mengecewakan mereka, siapa saja teman satu kelas pasti akan kubantu. Meskipun sebenarnya pe-er yang kukerjakan belum tentu benar. 

​Aku senang musik dan suka menyanyi. Hampir semua jenis musik aku suka. Dangdut, pop, rock, slow rock, bahkan musik country aku juga suka. Tapi yang sering aku bawakan jika sedang sendirian adalah dangdutnya Rhoma Irama, balladanya Ebiet G. Ade, countrynya Tantowi Yahya, rocknya Ikang Fauzi, popnya Meriam Bellina, Diana Nasution, Dian Pishesha, dan lain-lain.

📚 Artikel Terkait

Selamat Ulang Tahun ke-22 Majalah POTRET

Tanah Mandailing

Leiden University Launches Powerful “Picturing Scholasticide” Exhibition

Bimbingan Konseling Kini Dan Esok

Biasanya, Meslin Debataraja, temanku dari Dumai itu sering membawa gitar ke sekolah. Dan hal ini kesempatan bagi kami berdendang ria di kelas, jika kebetulan guru tidak masuk atau di sudut mushalla sehabis shalat ashar. Aku sering membawakan lagu ‘Begadang’ diiringi gitar Meslin yang nyaring dan seru. Atau ‘Berita Kepada Kawan’nya Ebiet G. Ade yang sedih dan sendu. Kadang-kadang kami bernyanyi ‘koor’ beramai-ramai, sehingga kelas sering gaduh jika guru tidak masuk.

​Guru-guru yang mengajar di kelas sore ini ternyata sangat istimewa. Kukatakan istimewa karena rata-rata mereka adalah dosen dari perguruan tinggi negeri terutama dari Unsyiah (kini USK) dan IAIN Arraniry (kini UIN). Jadi kebanyakan guru itu sudah berusia lanjut. Tetapi ada juga beberapa orang yang masih muda dan belum berkeluarga. Ternyata mereka juga bakal tenaga dosen alias asisten dosen. Jadi wajar saja ilmu yang kami peroleh, terutama yang aku rasakan, sangat berkualitas dan mendalam. 

​Ada satu hal yang aku rasakan perubahan pada diri pribadiku sejak aku menempuh pendidikan di sekolah swasta ini. Hal ini mulai kurasakan sejak kehadiran seorang guru muda yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Bapak guru yang kabarnya seorang asisten dosen dari Unsyiah ini selalu membawa inovasi-inovasi baru dalam mengajar. 

Bukan hanya metode mengajar yang menarik, tapi ilmu yang ditularkan kepada kami juga terasa mendalam dan tepat sasaran. Misalnya tentang sastra, kami sering diajak untuk ikut merasakan dan mengenal langsung dengan karya sastra dengan menonton atau mengikuti even-even sastra. Malah kepada kami sering ditawarkan untuk ikutserta dalam kegiatan-kegiatan sastra di Taman Budaya. Bukan hanya sekadar diajak menonton pembacaan puisi, teater, drama, tetapi kami juga diajak berdiskusi untuk membahas karya-karya sastra. Baik karya sastra Indonesia maupun karya sastra dunia.

​Sejak saat itu aku mulai tertarik pada pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata, yang perlu dipelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia bukan sekadar menulis kata, kalimat, dan paragraf. Tetapi lebih dari itu, bahkan siswa harus mengenal sastra dan budaya Indonesia yang merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia itu. Aku semakin gemar membaca. Sering berlama-lama di perpustakaan sekadar membaca buku.

Cakrawala pikiranku mulai terbuka. Mulai memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membaca. Maka mulailah aku mengenal para sastrawan Indonesia dan dunia. H.B. Yassin, Khairil Anwar, A.A. Nafis, Goenawan Mohammad, William Sakesver, Khalil Kibran, dan berpuluh-puluh bahkan ratusan nama sastrawan lainnya mulai kukenal dan kucari-cari karyanya di rak-rak perpustakaan.

(bersambung)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Bussairi D Nyak Diwa

Bussairi D Nyak Diwa

Bussairi D. Nyak Diwa kerap menggunakan nama pena Bussairi Ende, atau B.S. Ende; lahir di Bakongan Aceh Selatan pada 10 Juli 1965. Saat ini menjabat Kepala SMP Negeri 4 Kluet Utara, Aceh Selatan. Alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah, 1992. Pernah memimpin Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) sebagai Ketua Umum Periode 1988-1992. Pendiri Majalah Mahasiswa FKIP Unsyiah KALAM, 1990. Bersama Said Fadhil, Agam Ismayani, dan Mohd. Harun mendirikan Majalah Mahasiswa Unsyiah Monomen, 1991. Menulis puisi, cerpen, dan esai sastra di beberapa koran lokal. Bulan November 2009 diundang ke Jakarta sebagai Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek Guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Cerpen dengan judul “Bulohseuma” terpilih sebagai 15 Cerpen Terbaik Tingkat Nasional 2009 dan memperoleh Tropi dari Depdiknas. Sementara Kumpulan Puisi dengan judul Ziarah Hati, memperoleh Juara III Tingkat Nasional dalam Lomba Menulis Buku Pengayaan Tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas Jakarta. Untuk menerima hadiah diundang ke Jakarta bersamaan dengan peringatan Hari Buku Nasional yang disiarkan langsung oleh TVRI Pusat Jakarta 9 Juni 2010. Penulis juga tercatat sebagai penulis Indonesia dalam Buku Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 7.  Hingga hari ini Penulis telah menghasilkan beberapa buku, di antaranya; Ziarah Hati (Kumpuln Puisi, Pusbuk, 2010), Senyum Terakhir Siti Sara (Kumpuln Cerpen, Fam Publishing 2017), Doa Sajadah (Kumpulan Puisi, Fam Publishing 2019), dan beberapa Buku Kumpulan Puisi Bersama. Sedangkan Buku yang bakal terbit dalam waktu dekat adalah Kumpulan Cerpen Ayah dan Anak (2021).

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Rahasia Bank Swiss, Tabungan Masa Depan Para Koruptor?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00