Dengarkan Artikel
Oleh Bussairi D. Nyak Diwa
Minggu-minggu pertama menjalani proses belajar-mengajar di SMA Muhammadiyah, aku mengalami sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri. Kebanyakan siswa yang belajar di kelas sore ini adalah anak-anak perantauan. Hampir semua siswa warga kelas I-3 adalah anak-anak yang berasal dari luar Kota Banda Aceh. Ada dari Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Timur, Sabang, Aceh Selatan, Singkil, Seumeulu, bahkan ada yang dari Sumatera Utara.
Sitrisno misalnya, pemuda jangkung sang ketua kelas ini berasal dari Siantar. Ada juga Meslin Debataraja yang berasal dari daerah yang lebih jauh lagi, yakni Dumai. Dari Aceh Selatan sendiri, di mana aku berasal, ada dua orang selain aku; Firman Aihis dan Suryaman.
Meskipun aku dari udik (istilah anak kampung waktu itu), aku mudah bergaul. Hal ini mungkin karena pengalamanku yang lama tinggal mondok di pesantren dulu. Hampir semua teman sekelas akrab denganku. Ini kemungkinan karena aku sedikit ‘dermawan’ membagikan tugas-tugas rumah alias pe-er.
Memang, kebiasaanku sejak SMP di kampung halaman dulu terbawa-bawa hingga ke SMA. Salah satunya adalah ‘suka’ membagikan tugas pe-er kepada siapa saja yang meminta.
Sebagai seorang anak perantau yang sadar akan tujuan bersekolah di kota, aku selalu mengerjakan setiap pe-er yang ditugaskan oleh guru. Jadi, teman-teman yang malas mengerjakan pe-er pasti mendekatiku. Bukan hanya siswa, siswi ‘pemalas’ juga sering menggodaku untuk meminta jawaban tugas pe-er. Dan celakanya, aku tak tega mengecewakan mereka, siapa saja teman satu kelas pasti akan kubantu. Meskipun sebenarnya pe-er yang kukerjakan belum tentu benar.
Aku senang musik dan suka menyanyi. Hampir semua jenis musik aku suka. Dangdut, pop, rock, slow rock, bahkan musik country aku juga suka. Tapi yang sering aku bawakan jika sedang sendirian adalah dangdutnya Rhoma Irama, balladanya Ebiet G. Ade, countrynya Tantowi Yahya, rocknya Ikang Fauzi, popnya Meriam Bellina, Diana Nasution, Dian Pishesha, dan lain-lain.
📚 Artikel Terkait
Biasanya, Meslin Debataraja, temanku dari Dumai itu sering membawa gitar ke sekolah. Dan hal ini kesempatan bagi kami berdendang ria di kelas, jika kebetulan guru tidak masuk atau di sudut mushalla sehabis shalat ashar. Aku sering membawakan lagu ‘Begadang’ diiringi gitar Meslin yang nyaring dan seru. Atau ‘Berita Kepada Kawan’nya Ebiet G. Ade yang sedih dan sendu. Kadang-kadang kami bernyanyi ‘koor’ beramai-ramai, sehingga kelas sering gaduh jika guru tidak masuk.
Guru-guru yang mengajar di kelas sore ini ternyata sangat istimewa. Kukatakan istimewa karena rata-rata mereka adalah dosen dari perguruan tinggi negeri terutama dari Unsyiah (kini USK) dan IAIN Arraniry (kini UIN). Jadi kebanyakan guru itu sudah berusia lanjut. Tetapi ada juga beberapa orang yang masih muda dan belum berkeluarga. Ternyata mereka juga bakal tenaga dosen alias asisten dosen. Jadi wajar saja ilmu yang kami peroleh, terutama yang aku rasakan, sangat berkualitas dan mendalam.
Ada satu hal yang aku rasakan perubahan pada diri pribadiku sejak aku menempuh pendidikan di sekolah swasta ini. Hal ini mulai kurasakan sejak kehadiran seorang guru muda yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Bapak guru yang kabarnya seorang asisten dosen dari Unsyiah ini selalu membawa inovasi-inovasi baru dalam mengajar.
Bukan hanya metode mengajar yang menarik, tapi ilmu yang ditularkan kepada kami juga terasa mendalam dan tepat sasaran. Misalnya tentang sastra, kami sering diajak untuk ikut merasakan dan mengenal langsung dengan karya sastra dengan menonton atau mengikuti even-even sastra. Malah kepada kami sering ditawarkan untuk ikutserta dalam kegiatan-kegiatan sastra di Taman Budaya. Bukan hanya sekadar diajak menonton pembacaan puisi, teater, drama, tetapi kami juga diajak berdiskusi untuk membahas karya-karya sastra. Baik karya sastra Indonesia maupun karya sastra dunia.
Sejak saat itu aku mulai tertarik pada pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata, yang perlu dipelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia bukan sekadar menulis kata, kalimat, dan paragraf. Tetapi lebih dari itu, bahkan siswa harus mengenal sastra dan budaya Indonesia yang merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia itu. Aku semakin gemar membaca. Sering berlama-lama di perpustakaan sekadar membaca buku.
Cakrawala pikiranku mulai terbuka. Mulai memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membaca. Maka mulailah aku mengenal para sastrawan Indonesia dan dunia. H.B. Yassin, Khairil Anwar, A.A. Nafis, Goenawan Mohammad, William Sakesver, Khalil Kibran, dan berpuluh-puluh bahkan ratusan nama sastrawan lainnya mulai kukenal dan kucari-cari karyanya di rak-rak perpustakaan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






