POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu!

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
March 19, 2025
Guru Jadi Tersangka Lagi, Yok Kita Bantu!
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya tu paling gedek bila ada orang menjadikan tersangka seorang guru. Apalagi kejadiannya untuk mendisiplinkan murid. Kasus Supriani belum cukup lagi, ini ada lagi. Kasusnya mirip. Yok, kita dalami kasusnya.

Hening. Sepi. Tapi tidak bagi Muhammad Saelan. Dunia seakan menggelegar, menghantam dadanya yang kini sesak oleh ketidakadilan. Ia, seorang guru, pilar pendidikan, obor penerang bagi anak-anak yang dahaga akan ilmu, kini hanya seorang tersangka. Bukan karena korupsi, bukan karena mengkhianati negara, bukan pula karena kejahatan besar yang mengguncang dunia. Tidak. Ia hanya menegur. Satu kata sederhana yang seharusnya bersemayam dalam etika pendidikan. Sebuah teguran yang kini menghancurkan kehidupannya.

Tiga kali teguran. Tiga kali seruan penuh pengabdian. Tiga kali upaya membangun kedisiplinan. Namun, apa yang didapatnya? Hukuman. Bukan penghormatan atas dedikasi, bukan tepukan di pundak sebagai tanda terima kasih. Melainkan status tersangka yang kini mencoreng namanya, mengoyak harga dirinya, dan mengoyak hati nurani setiap insan yang masih percaya bahwa pendidikan adalah pilar masa depan.

Hari itu, 28 November 2023, adalah hari biasa di SD Islam Al Azhar 21 Pontianak. Muhammad Saelan hanya ingin menegakkan disiplin di kelas. Siswa-siswa gaduh, terlalu riang dalam dunia mereka yang tak terbebani oleh beban hidup. Tapi guru ini tahu, pendidikan butuh ketertiban. Maka ia menegur. Mengingatkan. Tapi ada satu siswi yang tidak tunduk. Ia menatap Muhammad Saelan dengan sorot mata perlawanan.

Apa yang salah? Apakah menegur anak adalah sebuah kejahatan? Jika ya, maka ribuan guru di negeri ini sebaiknya mulai menghitung hari menuju bui.

Lalu datanglah badai. Orang tua siswi itu seorang aparat kepolisian. Jabatan. Kekuatan. Kekuasaan. Tiga kata yang kerap membungkam kebenaran. Hanya butuh sedikit tekanan, sedikit ketukan di meja, dan voila! Sang guru berubah status. Dari pendidik menjadi pesakitan. Dari pembentuk karakter menjadi kriminal.

📚 Artikel Terkait

Program Jebol Mudahkan Siswa Kota Banda Aceh Dapatkan KTP

Dialog di Antara Kaki-kaki Langit bersama Ananda Sukarlan

PROSES KREATIF MENULIS NOVEL

Warga Berburu Kuliner di Anjungan PKA

Tapi tunggu. Kejanggalan baru dimulai. Kasus ini muncul di tahun 2023, namun status tersangka baru disematkan pada Februari 2025. Apakah hukum di negeri ini memang bekerja seperti kura-kura yang berjalan santai, atau justru seperti ular berbisa yang baru menggigit saat waktunya tepat?

Muhammad Saelan bukan manusia keras kepala. Ia tahu kesalahan, meski yang terjadi bukanlah kesalahan. Ia meminta maaf. Berkali-kali. Di sekolah, di depan orang tua murid, di hadapan lembaga perlindungan anak. Ia bahkan berinisiatif mendatangi rumah orang tua murid, merendahkan hati demi perdamaian. Apa yang terjadi? Mereka berpelukan. Tangan yang sama yang dulu mengayunkan kapur di papan tulis kini menjabat tangan yang penuh kuasa.

Saelan berpikir, “Mungkin ini akhirnya.” Mungkin badai telah reda. Mungkin ketidakadilan telah menemukan titik terang. Tapi, ternyata tidak. Pelukan itu palsu. Senyum itu tipu daya. Status tersangka tetap berlanjut.

Hukum, di negeri ini, terkadang seperti pedang tumpul di satu sisi dan setajam silet di sisi lainnya. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Bukti visum tidak menunjukkan kekerasan, tetapi kasus tetap berlanjut. Semua pihak pendidikan bersuara, tapi suara mereka seperti angin yang bertiup di tengah badai, lenyap tak berbekas.

Komunitas guru berseru, “Apakah ini yang pantas bagi seorang pendidik?”

Orang-orang yang masih peduli pada pendidikan bertanya, “Jika seorang guru tidak boleh menegur, lalu siapa yang akan mengajarkan disiplin?” Tapi suara mereka tak lebih dari bisikan di hadapan gemuruh kekuasaan.

Muhammad Saelan kini hanyalah seonggok nama dalam berita. Seorang pria yang dulu berdiri di depan kelas dengan penuh kebanggaan, kini harus berdiri di hadapan hukum dengan penuh kehinaan. Apakah ia akan mendapat keadilan? Ataukah ia hanya akan menjadi korban dari sistem yang tidak berpihak pada mereka yang tidak memiliki kuasa? Hanya waktu yang bisa menjawab. Atau mungkin, tidak akan pernah ada jawaban sama sekali.

Sementara itu, di sekolah-sekolah lain, para guru mulai waspada. Mereka kini tahu, di negeri ini, mendidik bisa berarti menggali kubur sendiri.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share10SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00