Dengarkan Artikel
Keempat, pembangunan Aceh berorientasi pada outcome dan impact.
Tata kelola pembanungan Aceh selama ini hanya berkutat pada siklus input dan output. Input program dan anggaran dengan keluaran semata bersifat fisik, sementara target outcome (hasil) dan impact (dampak) seringkali tidak tercapai.
Bergerak hanya pada tingkat “prakondisi” tanpa pernah menjadi “kondisi”. Oleh karena itu orientasi pada outcome dan impact harus menjadi arus utama dari target capaian pembangunan Aceh ke depan.
Kelima, pembangunan Aceh berorientasi pada mutu program bukan jumlah proyek/kegiatan.
📚 Artikel Terkait
Menghadirkan program-program unggulan dan berkualitas yang berdampak luas dan massif sudah harus menjadi arah kebijakan pembangunan Aceh ke depan. Langkah ini penting dalam rangka mendorong pertumbuhan sektor dan infrastruktur produktif hingga betul-betul efektif berdampak luas bagi peningkatan kualitas hidup rakyat. “Kualitas bukan kuantitas” sudah harus menjadi motto dan pakem pembangunan Aceh.
Keenam, visi pembangunan hijau berkelanjutan.
Aceh memiliki sumberdaya yang melimpah tinggal bagaimana kita bisa bijak mengelola dan memanfaatkannya. Kecuali migas, ekonomi ekstraktif dengan mengeruk sumberdaya mineral di dalam perut bumi adalah pilihan yang sangat berisiko.
Buktinya sudah banyak. Degradasi daya dukung alam dan lingkungan yang berujung bencana sudah sering terjadi di berbagai wilayah di Aceh. Revisi dengan paradigma pembangunan ekonomi produktif, kreatif, dan inovatif dengan mengolah dan memberi nilai tambah atas potensi ekonomi hijau dan biru yang kita miliki : pertanian, perkebunan, pariwisata, dan perikanan, plus perdagangan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





