Dengarkan Artikel
Kala menikmati sajian pagi itu, lantunan lirik lagu Ebiet itu membawa pikiran penulis menerawang jauh ke alam sadar yang menyadarkan penulis pada sebuah kondisi kekinian terhadap realitas sosial para generasi bangsa yang sedang disiapkan untuk mampu menghadapi masa depan. Masa depan yang lebih baik, sejalan dengan perkembangan zaman.
Penulis terkenang akan sebuah percakapan dengan sekitar 30 mahasiswa di ruang kuliah sebuah PTN di negeri ini beberapa tahun lalu. Penulis ketika itu mengasuh mata kuliah entrepreneurship. Bukan sebagai dosen tetap, tetapi sebagai dosen luar biasa yang masuk kategori seorang praktisi, sehingga diberikan peluang mengajar di PTN tersebut.
Sebenarnya ini bukanlah percakapan pertama, karena penulis sangat sering mengajak mahasiswa diskusi pada hal-hal yang bisa meningkatkan kesadaran kritis (critical thinking), membangun kapasitas mereka sebagai mahasiswa, walau saat itu penulis mengasuh mata kuliah English for Banking. Percakapan atau diskusi awal yang muncul ketika menemukan fakta rendahnya minat membaca di kalangan para mahasiswa saat ini. Maka, percakapan atau diskusi ini yang lahir atas keprihatinan terhadap budaya belajar mahasiswa saat ini.
Temuan ini masih perlu dibuktikan dengan berbagai survei atau penelitian mengenai minat membaca, atau mengenai kemampuan literasi, numerasi dan sains dari kalangan mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, baik di Aceh maupun di luar Aceh. Ya, kiranya setiap universitas melakukan assesmen terhadap kemampuan literasi, numerasi dan sains para mahasiswa untuk mengetahui tingkat kemampuan para mahasiswa yang selama ini juga banyak berbenturan dalam mengerjakan tugas akhir kuliah, yakni menyusun dan menulis skripsi dan selanjutnya disertasi.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





