POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bukan Dipinta

RedaksiOleh Redaksi
March 14, 2025
Bukan Dipinta
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Ahmad Noh

Kuantan, Pahang, Malaysia 

Hujung minggu merupakan peluang untuk Rahmat keluar mencari barang keperluan dapur. Sebuah pasar raya berhampiran menjadi pilihannya. Peti ais di rumah yang sebelumnya penuh, kini semakin lengang. Ikan, ayam, sayur dan buah-buahan cuma tinggal sedikit sahaja lagi.

Pemanduan cuma mengambil masa 15 minit untuk tiba ke destinasi. Pasar raya Bintang menjadi tumpuan masyarakat setempat memandangkan harga yang ditawarkan berpatutan. Sebagai pengguna setiap orang perlu bijak berbelanja. Apatah lagi memandangkan kos sara hidup sekarang yang semakin meningkat.

Mata Rahmat liar mencari tempat parkir yang kosong. Dia memperlahankan kenderaannya di belakang kenderaan yang bersusun di ruang parkir. Semuanya penuh. Agak ramai pengunjung pada hari itu. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sekujur tubuh kurus tinggi yang melintas di hadapan mereka. Pakaiannya compang camping langsung tidak terurus. Berambut kusut masai. Melangkah dengan kaki tanpa beralas.

“Itu kawan ayah…,”spontan kata keluar dari mulutku.

“Kawan ayah?” serentak persoalan datang dari suri dan puterinya Husna, Khairiyyah dan Afzan yang ada bersama.  Kehairanan.

“Ya…kawan sekampung…Basri namanya…dulu sama-sama main bola tiap-tiap petang di padang bola kampung…dia hebat main…lepas main bola sama-sama mandi sungai di hujung kampung…tapi usianya lebih tua dua tahun daripada ayah…” Rahmat bercerita pada keluarganya sambil tersenyum sendiri mungkin sedang mengingati kisah silam.

“Alhamdulillah…ada pun parkir kosong.” Sepasang suami isteri separuh abad sedang memasukkan barangan yang dibeli ke dalam perut kereta. Banyak barang mereka. Ada beras 10 kilogram berkampit-kampit. Banyak sayur-sayuran. Bawang berguni. Mungkin mereka peniaga.

“Tapi kenapa keadaan dia macam tu ayah?…macam tak siuman je…” Husna puteri bongsuku kembali bertanya tentang topik sahabatku tadi.

📚 Artikel Terkait

Obituari: Honorius Rachmantio “Mujaddid Pendidikan Teknik (1)

Kami Orang Papua Mencintai Republik Ini, Hanya Saja Republik Ini yang Tidak Mencintai Kami

Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa

IMITASI

“Panjang ceritanya…nantilah ayah ceritakan…kita pergi cari barang dulu yer, dik..,” balas Rahmat seraya menggerakkan kereta Aruz putihnya memasuki ruang parkir yang telahpun dikosongkan dengan hati-hati.

Mereka turun dan terus bergegas memasuki pasar raya. Suri Rahmat, Azlina mengeluarkan senarai barang-barang keperluan yang ditulisnya malam tadi. Mudah urusan. Tidaklah mereka tercari-cari barang apa nak dibeli. Cara lama amalan mereka sekeluarga. Menjimatkan masa. Menjimatkan belanja. Jarang mereka membeli barangan lain kecuali jika perlu sahaja atau terlupa ditulis. Mereka terus mencari barang hingga selesai.

Sebelum memasuki kereta mereka terserempak sekali lagi dengan Basri. Rahmat memanggilnya lalu menghulurkan dua keping wang kertas berwarna merah. Basri mengambil sambil tersenyum. Mungkin dia masih mengenali Rahmat. Atau apa sebenarnya yang bermain di mindanya ketika itu.

“Habis sekolah dia terus jadi macam tu…,” Setelah merebahkan punggungnya di tempat duduk kenderaan Rahmat memulakan ceritanya.

“Sebenarnya dia ada penyakit mental keturunan…”

“Ayah dia pun macam tu…tapi keadaan tidak siuman tu bukanlah sepanjang masa …kadang-kadang dia akan jadi kembali normal…”

“Adik beradik dia yang lain normal je…”

“Tapi memang kasihan Basri ni…dia pun tak mungkin nak hidup macam tu…ke hulu, kehilir tak tentu arah. Makan pun harap ihsan daripada orang ramai…ada orang kata kadang-kadang dia tidur bawah jambatan je…” Rahmat memberhentikan kenderaannya di persimpangan lampu isyarat.

“Kadang-kadang ayah jumpa dia jalan kaki sampai ke bandar…”

“Jauhnya…,” mencelah Azlina, surinya. Puteri-puterinya tekun mendengar dari belakang.

“Yelah…masa tu mungkin dia dalam keadaan tak siuman…mana dia kira dekat atau jauh…” 

“Sebab itu dalam agama juga ada berpesan berkaitan keturunan dalam urusan mencari jodoh sama ada lelaki ataupun wanita…”

“Rasulullah S.A.W telah bersabda yang bermaksud, ‘Seorang wanita dinikahi kerana empat sebab: Kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya.  Maka hendaklah kamu merebut yang empunya agama, itulah pilihan terbaik. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim’…” tambah Rahmat lagi sambil memecut keretanya menuju ke sebuah restoran untuk makan tengah hari.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Cahaya di Mata Anak Yatim

Cahaya di Mata Anak Yatim

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00