Dengarkan Artikel
Gugat mengeluarkan sebungkus rokok. Menawariku dan aku mau.
“Beberapa orang dengan jangkauan luas pasti memviralkannya. Kau ingat sidang putusan hakim tentang kasus korupsi triliunan yang masih hangat itu?” kata Gugat sambil menelungkupkan tangan dan memantik korek.
Tanpa menunggu responku dia menyambung lagi.
“Usai menuai polemik putusan hakim dan rencana penelusuran kembali dari Pemimpin Negeri, selanjutnya kita heboh lagi oleh video suatu kota yang sedang dilanda bencana. Jika ini telah menjadi ampas, menurutmu apalagi yang bisa dibuat jadi anduk?”
Angin garam mengempaskan tamparannya ke wajah kami agar terjaga.
“Jadi menurutmu ini bagian dari isu penutupan?”
Gugat tertawa.
“Aku tak mau memikirkan pola usang itu. Sekarang aku hanya fokus pada kesempatan ini. Orang yang memviralkan videoku, aku sangat berterima kasih serta tak peduli dengan tujuannya.
Hal yang paling buatku senang ialah kejadian ini tentu menjadi martir dengan fakta bahwa media dan lembaga mendukungku. Tunggu saja, akan kugoreng hingga gosong!”
📚 Artikel Terkait
Aku tak ragu dengannya dan jangan tanyakan kepadaku tentang apakah ada aura ketakutan di wajah sahabatku itu.
***
Kami para nelayan di sini mendukungnya. Ruangan berpendingin dan karpet permadani warna merah ini sungguh elegan. Sedikit canggung bagi kami yang terbiasa lesehan terpal. Namun Gugat bilang jangan menunduk, tetaplah tegak.
Rasa tak enakan dan kikuk hanya membawamu pada jatuhnya mental dan kasta rendahan. Kita dari daging yang sama, darah sama, dan wujud yang sama. Beranilah karena nyatanya derajat kita itu tanpa beda.
Satu pembuka dari seorang moderator kami hadiahi dengan tepuk tangan. Sang moderator dalam acara diskusi malam ini lalu mempersilakan Gugat untuk mengawali gagasannya.
Tepuk tangan kami semakin nyaring. Aku di kursi belakang menyimak ulasan Gugat sambil mengamati beberapa orang yang kurasa narasumber tampak tajam mendengarkan. Kupastikan mereka semua dari kalangan atas dengan mewakili lembaga. Tapi tidak untuk dua sengkuni yang di sudut kursi itu, aku tahu mereka adalah bagian dari desa kami. Aku kecut melihat mereka juga diundang. Bagiku, hadirnya dua penjilat itu tak ubahnya pengerat penghisap darah daging saudaranya.
“Jujur saja Bang Zakaria, dari uraian yang barusan saya katakan itu bisa dibuktikan data. Bahkan ni ya, sertifikat laut itu sudah terbit sekitar setahun lalu lho. Gila, bukan? Itu berdua yang mendukung mengatakan akibat abrasi makanya daratan jadi laut.
Omongannya itu salah orang. Yang diomongin nelayan yang tiap hari wira-wiri di sana. Kayak gak tahu sejarahnya saja. Sebagai orang yang punya hak sama, saya akan perjuangkan, Bang!”
“Menjadi rakyat apakah Anda tidak takut ancaman?” tanya Bang Zakaria sebagai moderator.
“Dalam sebuah buku sejarah tentang teori kedaulatan rakyat yang pernah saya baca, seorang filsuf dari Inggris, John Locke mengatakan kekuasaan tertinggi sebuah negara berada di tangan rakyat. Saya merdeka dan berdaulat. Selama gagasan saya ini saya sematkan untuk pembangunan bangsa, negara akan lindungi saya karena telah jadi tugasnya!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





