Dengarkan Artikel
Ketiga, penyebab lain adalah disebabkan oleh system pembelajaran di sekolah selama ini cendrung berorientasi pada hasil akademik semata atau lebih tepat pula disebut dengan belajar mengejar angka. Fokus utama pembelajaran adalah kepada pencapaian nilai, tanpa memperhatikan lebih jauh akan pentingnya mendidik karakter jujur. Sayangnya, model pembelajaran dan penilaian semacam ini terus berlangsung hingga kini. Jadi wajar saya bila integritas sekolah dalam menanamkan nilai atau sikap jujur semakin kehilangan arah. Artinya Pendidikan karakter hanya sebatas kata.
Faktor ke empat, terkait dengan kurang atau minimnya pendidikan karakter yang terintegrasi. Apa yang dirasakan adalah Pendidikan karakter yang berlangsung di sekolah hanya formalitas, tanpa implementasi nyata dalam pelaksanaan kurikulum dan setting sekolah. Faktor ini, sangat penting, karena pesertra didik perlu menerapkan sikap jujur tersebut dalam kehidupan bersekolah dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, dapat dikatakan bahwa sekolah tidak punya pendekatan yang efektif dalam mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan peserta didik di sekolah.
Ke lima, dengan beberapa factor di atas, menimbulkan factor ke lima, yakni kurangnya, atau hilangnya keteladanan dari pihak sekolah atau guru di sekolah. Peserta didik sering menemukan guru atau tenaga pendidik yang tidak menunjukan sikap jujur. Sehingga siswa merasa kehilangan contoh baik atau teladan dalam menerapkan sikap jujur tersebut. Selain itu, sering terjadi inkonsistensi antara nilai yang diajarkan dengan sikap jujur dan adil dalam mengajar dan menilai peserta didik.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





