Belajar Kejujuran di Sekolah?

Belajar Kejujuran di Sekolah? - 6EE80D17 C241 43E5 9200 16150F06B3ED | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Belajar Kejujuran di Sekolah?
WA FB X

Ketiga, penyebab lain adalah disebabkan oleh system pembelajaran di sekolah selama ini cendrung berorientasi pada hasil akademik semata atau lebih tepat pula disebut dengan belajar mengejar angka. Fokus utama pembelajaran adalah kepada pencapaian nilai, tanpa memperhatikan lebih jauh akan pentingnya mendidik karakter jujur. Sayangnya, model pembelajaran dan penilaian semacam ini terus berlangsung hingga kini. Jadi wajar saya bila integritas sekolah dalam menanamkan nilai atau sikap jujur semakin kehilangan arah. Artinya Pendidikan karakter hanya sebatas kata.

Faktor ke empat, terkait dengan kurang atau minimnya pendidikan karakter yang terintegrasi. Apa yang dirasakan adalah Pendidikan karakter yang berlangsung di sekolah hanya formalitas, tanpa implementasi nyata dalam pelaksanaan kurikulum dan setting sekolah. Faktor ini, sangat penting, karena pesertra didik perlu menerapkan sikap jujur tersebut dalam kehidupan bersekolah dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, dapat dikatakan bahwa sekolah tidak punya pendekatan yang efektif dalam mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan peserta didik di sekolah.

Baca Juga

Ke lima, dengan beberapa factor di atas, menimbulkan factor ke lima, yakni kurangnya, atau hilangnya keteladanan dari pihak sekolah atau guru di sekolah. Peserta didik sering menemukan guru atau tenaga pendidik yang tidak menunjukan sikap jujur. Sehingga siswa merasa kehilangan contoh baik atau teladan dalam menerapkan sikap jujur tersebut. Selain itu, sering terjadi inkonsistensi antara nilai yang diajarkan dengan sikap jujur dan adil dalam mengajar dan menilai peserta didik.

ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Tabrani Yunis

Bio Narasi

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”

Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.

Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.