• Latest
Tenggelam dalam Duka

Tenggelam dalam Duka

Maret 6, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tenggelam dalam Duka

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Maret 6, 2025
in #Kalimantan, Artikel, Banjir, Banjir bandang
Reading Time: 2 mins read
Tenggelam dalam Duka
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Sebulan lalu, Kalbar menangis. Empat kabupaten tenggelam dalam air mata bumi. Sekarang giliran Bekasi dan sekitarnya. Kota yang pernah saya tinggali dulu. Kota yang kini terlihat seperti kolam raksasa. Di atap rumah, mereka duduk. Bingung. Tak tahu harus ke mana. Air datang deras, tanpa permisi. Banjir bukan lagi sekadar bencana. Ini sudah jadi tamu tahunan yang tak diundang, tapi selalu datang.

Hujan deras. Kiriman air dari Bogor. Sungai-sungai meluap, seolah tak kuat menahan beban. Tapi apakah hanya hujan yang salah? Atau kita juga ikut bersalah? 20 titik di 7 kecamatan. Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede, Rawalumbu. Ketinggian air? Sampai 3 meter. Bukan lagi banjir. Ini tsunami daratan. Stadion Patriot Chandrabhaga, pusat perbelanjaan, jalan utama, semua tenggelam. Jembatan Kemang Pratama amblas. Seolah bumi berkata, “Cukup sudah kalian membebani aku.”

Ribuan warga mengungsi. Perahu karet datang terlambat. Bantuan? Ada. Tapi cukupkah? Apakah ini solusi atau hanya plester pada luka yang terus menganga? Angka-angkanya menyayat hati. 16.000 jiwa terdampak di Kota Bekasi. 5.000 jiwa mengungsi. Di Kabupaten Bekasi? 51.320 jiwa. Dapur umum didirikan. Posko pengungsian dibuka. Tapi apakah itu bisa menghapus trauma? Apakah itu bisa menghangatkan hati yang dingin karena kehilangan?

Sementara itu, negeri ini juga sedang dilanda banjir korupsi. Kejaksaan Agung dan KPK sibuk berlomba. Angka triliunan terus bermunculan. Uang rakyat lenyap begitu saja. Ironis, bukan? Di satu sisi, rakyat kehilangan rumah karena banjir. Di sisi lain, uang mereka hilang karena korupsi. Gelombang PHK pun datang. Puluhan ribu karyawan dipecat. Di bulan puasa pula. Lebaran semakin dekat, tapi rezeki semakin jauh. Anak-anak bertanya, “Ayah, kapan kita beli baju baru?” Istri menunduk, tak sanggup menjawab. Suami hanya diam, meremas tangannya sendiri.

Indonesia, negeri yang kaya raya. Tapi kenapa rakyatnya miskin-miskin? Banjir datang, korupsi datang, PHK datang. Apa lagi yang akan datang? Mungkin badai, mungkin kelaparan. Kita bangun gedung pencakar langit, tapi lupa membangun saluran air. Kita bicara tentang kemajuan, tapi lupa memperbaiki moral. Kita gembar-gembor soal pembangunan, tapi rakyat tetap terpuruk.

Bumi menangis. Langit murka. Manusia tersesat dalam keserakahannya sendiri. Banjir bukan lagi air, tapi darah dari bumi yang terluka. Korupsi bukan lagi kejahatan, tapi penyakit kronis yang membusukkan negeri ini. PHK bukan lagi pemutusan hubungan kerja, tapi pemutusan harapan hidup. Air naik. Rumah tenggelam. Anak-anak menangis. Orang tua pasrah. Uang hilang. Koruptor tertawa. Karyawan dipecat. Keluarga kelaparan. Janji politik kosong. Rakyat menderita.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Miris. Sedih. Pilu. Apa yang bisa kita lakukan? Menangis? Mengeluh? Atau berdoa agar semua ini berakhir? Tapi apakah doa kita masih didengar? Atau rumput pun tidak lagi bergoyang? Air mata ini jatuh. Tapi siapa yang peduli? Inilah saya, negeri ente, negeri kita. Negeri yang indah, tapi menyakitkan.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Serambi  Masjid Kami Yang Kotor

Serambi  Masjid Kami Yang Kotor

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com