POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Momentum Untuk Kembali Kepada Kebaikan

Ingat sebelum lupa -- lupakan sebelum teringat

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
March 4, 2025
Tags: #ArtikelRamadan
Momentum Untuk Kembali Kepada Kebaikan

Masjid-Baiturrahman Aceh

🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Reza Fahlevi

Apa yang mesti diingat sebelum lupa? Berbuat baik kepada orang lain dan memperbanyak beribadah untuk mengingat Allah.

Lalu apa yang mesti dilupakan sebelum teringat? Jawabannya adalah berbuat maksiat.

Kita sedang berada di bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan kesucian. Ini adalah momen yang tepat untuk memperbaiki diri — waktu yang sangat tepat tepat mengingat Allah. Lantas? Apakah di hari-hari lain selain Ramadan kita bisa melupakan Allah? Tidak, bukan begitu.

Akan tetapi, jika selama ini kita merasa agak jauh dari Sang Maha Pencipta dan sering mengabaikan perintah-Nya, maka inilah saatnya untuk kembali lagi. Bertemu lagi dengan bulan puasa sebenarnya juga merupakan tanda bahwa kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat.

Sekarang adalah momentum terbaik untuk menghabiskan waktu dengan beribadah; membaca Al Quran, menunaikan salat wajib di awal waktu, melaksanakan salat tarawih, memperbanyak sedekah dan ibadah-ibadah lainnya. Kita pun juga sudah sering mendengar nasehat-nasehat kebaikan itu. Maka, sebelum nanti semua nadehat itu lupa, ada baiknya segera dikerjakan.

Selama puasa, pasti ada saja godaan-godaan yang barangkali membuat hati kita goyah. Menahan lapar dan rasa haus selama lebih dari sepuluh jam bukanlah perkara mudah. Kita diuji untuk menahannya sampai waktu berbuka. Maka tak jarang jika sudah memasuki waktu-waktu siang, perut mulai keroncongan, kerongkongan pun terasa kering, belum lagi ditambah cuacanya yang cukup terik — rasanya makan nasi padang ditemani teh dingin adalah perpaduan yang pas. Akan tetapi, puasa membuat kita harus menahan makan dan minum.

📚 Artikel Terkait

Xianroe Xiao Long

PERANG ACEH DI KEPALA

Melihat di Balik Layar: Perang Komentar yang Mengungkap Krisis HIV/AIDS di Indonesia dan Filipina

Rembuk Konspirasi di Balik Jeruji

Seandainya sampai terbesit di dalam pikiran untuk makan atau minum, apalagi situasinya sunyi, maka cepat-cepat dilupakan sebelum kita memulainya — atau sebelum kita mengingat perkara buruk lainnya yang bisa menjerumuskan kita lupa diri.

Puasa mengajarkan kita untuk melawan hawa nafsu. Dan, melawan nafsu itu sebenarnya cukup sulit karena kita harus berjibaku dengan diri sendiri. Melawan diri dari nafsu makan, nafsu syahwat dan nafsu-nafsu lainnya adalah perkara yang harus kita lalui setahap demi setahap selama bulan Ramadan.

Pasti, di pertengahan bulan ini ada saja godaan yang menyulitkan kita. Tapi, karena kita tahu bahwa saat ini kita sedang berada dalam situasi perang — berperang dengan diri sendiri — maka jika ada sesuatu buruk yang datang menghampiri pikiran atau hati kita, cepat-cepat dilupakan.

Seperti yang saya katakan tadi, tidak mudah melawan hawa nafsu. Lantas, jika ingin semuanya mudah, solusinya barangkali adalah mengisi keseharian dengan beribadah. Jika sudah teringat suatu perbuatan buruk, sebaiknya lekas berwudu dan melaksanakan salat kemudian mengaji.

Jika sedang dalam keadaan banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggal sama sekali, lalu seketika kita teringat hal-hal buruk, lekaslah beristighfar. Begitulah cara melawannya; menutupi sisi negatif dengan hal yang positif.

Kita sudah memasuki puasa ke-lima, waktunya masih cukup panjang. Jangan resah karena hari ke tiga puluh itu masih lama. Tapi, berbahagialah karena kita masih punya waktu yang panjang untuk memperbaiki diri. Lagipula, tujuan kita memperbaiki diri selama di bulan Ramadan bukan untuk sekedar menyambut lebaran, tapi agar kita mampu mengingat Allah kapan pun dan di mana pun kita berada.

Maka, sebelum penyesalan itu menjadi nyata, lekas lupakan sebelum teringat. Dan, agar kita juga tidak menyesal di kemudian hari, ingatlah sebelum lupa. Tulisan ini semata-mata untuk mengingatkan diri sendiri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #ArtikelRamadan
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam

Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00