Dengarkan Artikel
***
Ternyata ruangan Zubaidah hanya dibatasi tirai-tirai. Masih dalam ruangan yang sama, kuperhatikan dr. Cahyo dan keluarga istriku berkumpul. Sungguh hatiku porak poranda tanpa daya dengan lelehan air mata mengutuki diri sendiri. Melalui pembaringan pesakitan ini mataku menangkap wajah Zubaidah dihinggapi legam membiru yang sebagian telah diperban. Napasnya rendah sesuai alunan mesin jantung. Perutnya kempis dan sekujur tubuhnya dibelit selang infus yang masih bercampur darah bekas tranfusi.
Dokter Cahyo mengatakan adanya resistensi sel golongan darah saat ditransfusikan. Hal ini dapat dipicu dari tekanan batin yang begitu kuat serta kecemasan pikiran. Kembali aku menyumpahi diriku. Manusia laknat yang tanpa belas kasihan. Mertua perempuan segera menyapaku dengan rauangan. Dia berusaha kuatkan aku. Padahal aku sungguh tahu bahwa hatinya jauh luluh lantak ketimbang aku.
“Kapan kejadian ini, Bu?” tanyaku lirih.
“Kata dokter jam 2 siang.”
Keningku terangkat. Aku menampik jawaban itu. Tak mungkin. Batinku protes. Aku sangat sadar tentang kebohongan ini. Selanjutnya sebagai wujud pelampiasanku antara sesak, ledakan, dan berserak aku sergah dr. Cahyo.
“Mana mungkin, Pak? Ruang operasi wajib steril. Mustahil ada orang yang diperbolehkan menemani pasien saat operasi” kilahnya yang sarat pengalaman.
Aku merutuk terus.
“Sungguh, dok! Istriku yang temani aku. Bahkan dia berikan selimut ini!” secara spontan kuraih selimut yang menutupi badanku. Aku takjub. Motifnya seolah berubah yang awalnya bunga-bunga menjadi bergaris polos putih dan biru pudar.
Dokter Cahyo menggeleng. Semua orang bingung dengan tetap terisak-isak. Ibuku yang sudah siuman memintaku untuk istigfar. Merasa semakin kacau, dr. Cahyo kemudian memastikan bahwa mungkin halusinasi itu datang dari reaksi obat bius.
📚 Artikel Terkait
Dirinya lalu mengambil lipatan kertas dari sakunya. Dokter Cahyo bilang catatan lab ini ditemukan dekat dengan posisi Zubaidah jatuh. Bergetar, aku raih catatan yang merupakan laporan chek up DNA istriku. Sebuah tulisan cukup besar berwarna merah untuk kesekian kalinya menjungkalkan diriku ke dalam sesal yang kental, ‘POSITIF’.
Aku menggigil dalam pembaringan. Aku menyesal atas kondisiku sekarang. Hatiku berteriak memohon pada Tuhan untuk kembalikan penyakit itu. Dalam ketidakterimaan, aku gigih untuk coba bangun. Aku berharap bisa memeluk Zubaidah dan mencium keningnya. Tak peduli sakitnya. Cairan merah mulai merembes dari perban juga kateter.
Sumpah kutak peduli. Semua cemas denganku. Akan tetapi tiba-tiba mata kami berpindah ke tubuh Zubaidah yang diam pucat. Sebuah dengkuran ringan disusul garis panjang layar detak jantung merebangkan lara dalam kamar ini.
***Selesai****
TENTANG PENULIS
Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman seorang guru di SMAN 2 Jorong. Lahir di Kapuas, 17 Agustus 1990 karya-karya yang telah ia telurkan antara lain:
1. Novel Perempuan Penjemput Subuh (PT Aksara Pustaka Media, 2024)
2. Novlet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024)
Nama FB : Heri Surahman
IG : Heri_Haliling
Email : heri.surahman17@gmail.com
No Wa : 083104239389
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





