Dengarkan Artikel
Puasa telah kulaksanakan malam tadi. Infus juga kini telah dipasang di lenganku. Kata dr. Cahyo beberapa menit lalu bahwa kondisiku cukup fit dan siap. Aku diminta positif pikir. Tapi kecemasan karena hal-hal negatif pasca operasi mengobrak-abrik keteguhanku. Sementara jam dinding di atas pintu kamar itu, duh gusti sungguh detikannya sangat merajam kalbu.
Merasakan tekananku, Zubaidah dengan mata sayu dan wajah kelelahan meremat tanganku. Entahlah perasaan apa yang kualami sekarang. Aku benci, akui ini dan terus kututupi dengan pikiran tak setia istriku. Hanya saja tak bisa kupungkiri adanya dia di sisiku merupakan candu yang secara reflek terasa teduh.
Ceklek!
📚 Artikel Terkait
Pintu ruangan dibuka seseorang. Tiga pria yang kukenal salah satunya adalah dr. Cahyo bersama dua perawat di belakangnya masuk. Mengenakan masker dan seragam hijau polos dengan tutup kepala, dr. Cahyo mendekat. Cengkraman tanganku makin erat. Jantungku berdegup hebat.
“Maafkan Mas, Zubaidah. Selama dosaku yang harus kau tanggung ini aku malah berbuat kasar.”
Zubaidah tersenyum sambil menyemai rambutku. Terasa hangat. Setitik air mata luruh mengerlipkan mataku. Zubaidah segera usap bulir air hangat itu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





