Dengarkan Artikel
“Tenang, Mas” katanya sedikit menyesal atas respon dariku. Kutampik tangannya. Mataku kini berkobar, kurasakan guruh menyambari dadaku.
“Jahanam mana lagi yang kau kangkangi Zubaidah!! Jahanam mana?”
Zubaidah bersimpuh memohon ampun. Aku undurkan kaki. Gerakanku ini sungguh membuat nyeri yang bertumpuk-tumpuk. Keringat mengerumun membanjiri wajah. Aku nyengir kesakitan, tapi harga diriku bagai morfin yang enyahkan luka.
📚 Artikel Terkait
“Empat tahun aku kawin denganmu. Kuangkat kau dari warung hina di sana! Kubilas lembaran buram hidupmu. Kau berjanji berubah. Kini kau ingkari sendiri, Zubaidah! Apa rumah dan kecukupan ini tak mampu beli setiamu barang untuk urus aku, Plak!!”
Satu tamparan mendarat di pipi kirinya yang pucat. Zubaidah terdorong mengelus pipinya. Bodohnya istriku itu bukan menjauh malah kini seperti memasang badan hanya untuk kemurkaanku.
“Jika itu bisa tenangkanmu, aku ikhlas Mas. Tapi sungguh aku mohon, kembalilah seperti dulu. Ini ujian kita. Percaya Mas, kasih Tuhan tak akan beri ujian di luar kemampuannya.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





