POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ketulusan di Jalan Setapak dan Ketamakan di Singgasana

RedaksiOleh Redaksi
February 28, 2025
Ketulusan di Jalan Setapak dan Ketamakan di Singgasana
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

(Berdasarkan kisah nyata Supandi, seorang guru honorer di Sukabumi yang hanya digaji Rp192.000 per bulan, namun tetap bersemangat mengajar dan menempuh jarak 12 km setiap hari untuk mencerdaskan anak bangsa)

—000—

Dalam senyap pagi, ia mengawali hari,
beralas doa di tapak kaki yang renta,
melewati jalan setapak berdebu,
menerobos embun yang masih lelap di daun jati,
ia melangkah,
tanpa keluh, tanpa getir di dada.

Gemerisik angin menyapa tubuh ringkihnya,
seakan bertanya:
“Untuk apa lelah ini kau pikul?”
Ia tersenyum, menjawab lirih dalam batin,
“Demi mimpi yang kusemai
di benak anak-anak desa,
agar mereka tak selamanya merunduk pada tanah,
agar mata mereka mampu menembus batas cakrawala.”

—000—

Di gubuk ilmu yang bersahaja,
dindingnya rapuh, disulam waktu
yang enggan berhenti,
ia mengeja aksara dengan suara lembut,
mengalirkan makna dari huruf yang sederhana.

Papan tulis berdebu jadi saksi,
gurat kapur menari, merajut asa,
sementara perutnya hanya bersandar
pada sisa nasi semalam,
gaji tak lebih dari sekadar angka,
seratus sembilan puluh dua ribu rupiah,
tak sebanding dengan peluh yang jatuh.¹

Tapi hatinya tetap lapang,
seperti ladang yang tak pernah mengeluh pada kemarau,
ia terus mengajar, tanpa henti,
berharap ada seberkas cahaya yang menyelinap,
di antara jendela sekolah yang bolong dimakan usia.

—000—

Nun jauh di sana,
di istana yang berdiri megah dengan pilar-pilar menjulang,
mereka duduk di kursi empuk,
mengeluh lelah di balik jas mahal,
merasa kurang meski gaji menggunung,
lalu tangannya gemetar,
meraih lembaran uang yang bukan haknya,
menumpuk kekayaan dari peluh yang bukan miliknya.²

📚 Artikel Terkait

Sudah 5 Abad Peranan Kesultanan Mataram Islam Di Nusantara-Indonesia Sampai Sekarang

Beranikah Mualem-Marthunis Gelontorkan BOS Pendidikan Aceh?

Pengalaman Magang pada Perusahaan Tertua di Indonesia

Orang Kecil selalu Dikorbankan

Mereka lupa,
bahwa di balik angka yang mereka curi,
ada seribu mimpi yang terampas,
ada bangku-bangku reyot yang tak kunjung diganti,
ada papan tulis yang menangis dalam sunyi,
menanti coretan kapur yang nyaris patah.

—000—

“Ayah, kenapa kau selalu pergi jauh?”
Suara kecil menahannya di ambang pintu.
Ditatapnya wajah mungil yang penuh harap,
dielusnya rambut lembut itu perlahan.

“Agar kelak kau tak perlu berjalan sejauh ini, Nak,
agar buku yang kau genggam tak sekadar dongeng,
agar kau bisa menggambar peta hidupmu,
melampaui bukit yang jadi batas pandanganku.”

Anak itu mengangguk, meski tak sepenuhnya paham,
sementara sang istri hanya diam,
menyimpan luka di balik senyum pasrah,
pundaknya merunduk bersama beban yang kian berat.

—000—

Langkahnya tak pernah berhenti,
meski tapaknya mulai retak,
meski hujan menghapus jejak,
ia terus berjalan,
seperti doa yang tak pernah lelah dipanjatkan.

Dalam sunyi, ia mengerti,
bahwa keikhlasan tak diukur dari angka,
tapi dari mimpi yang tetap hidup di kepala-kepala kecil itu,
dari semangat yang menyala meski api nyaris padam.

Di penghujung senja, ia kembali pulang,
melewati jalan yang sama,
dengan hati yang penuh, meski kantongnya kosong.
Ia tahu, esok hari perjalanan ini akan terulang,
namun tak sekalipun niatnya goyah,
karena menjadi guru adalah caranya mencintai kehidupan,
tanpa syarat, tanpa pamrih.

—000—

Namun di balik jendela kaca istana,
Para Tikus tertawa dalam pesta megah,
tak ada tapak kaki yang retak,
tak ada perut yang perih menahan lapar,
mereka kenyang oleh kuasa,
tak peduli derita yang lemah

Mereka berkata, “Ini untuk rakyat,”
namun tak sedikit pun remah jatuh ke tanah,
upah layak habis di lahap,
dikorupsi para penjilat

mereka duduk di singgasana,
menghitung harta yang kian bertambah,
tanpa tahu bahwa di jalan sunyi itu,
ada guru yang menanamkan kejujuran,
agar suatu hari,
tak ada lagi yang mengkhianati amanah.

—000—

CATATAN:

(1)https://www.detik.com/edu/edutainment/d-7741698/tempuh-jarak-12-km-per-hari-guru-honorer-di-sukabumi-hanya-bergaji-rp200-ribu?utm_source=chatgpt.com
(2)https://nasional.kompas.com/read/2025/02/27/14210521/daftar-10-kasus-korupsi-terbesar-di-indonesia?page=all

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Derita Ribuan Buruh Sritex dan Yamaha

Derita Ribuan Buruh Sritex dan Yamaha

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00