• Latest
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang

Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang

Februari 26, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang

Redaksiby Redaksi
Februari 26, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: Literasi
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang
598
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Penulis : Ririe Aikot

Dalam sejarah peradaban, buku selalu menjadi sarana ampuh untuk menyampaikan ide, memperluas wawasan, dan merangsang pemikiran kritis. Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, sejumlah buku justru dilarang peredarannya karena dianggap berpotensi mengganggu stabilitas politik dan sosial. Menariknya, kebanyakan dari buku-buku ini memiliki satu kesamaan: kritik terhadap kekuasaan dan pengungkapan realitas sosial yang tidak nyaman bagi penguasa.

Baca Juga

7fb8d49c-8ec5-4336-99da-ba4fb75fa40c

Dari Cerpen ke Layar

Maret 25, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

Maret 3, 2026

Mengapa Buku Bisa Dilarang?


Alasan utama pelarangan buku umumnya terkait dengan kekhawatiran akan dampaknya terhadap opini publik. Buku yang mengkritik kebijakan pemerintah, mengungkap ketidakadilan sosial, atau mempertanyakan narasi sejarah yang resmi sering kali dianggap berbahaya. Kekuasaan cenderung takut pada ide-ide yang mampu mengguncang status quo, sehingga kontrol terhadap bacaan masyarakat menjadi langkah pencegahan.

5 Judul Buku yang Pernah Dilarang di Indonesia

  1. “Bumi Manusia” oleh Pramoedya Ananta Toer
    Sebagai bagian dari Tetralogi Buru, novel ini menggambarkan ketidakadilan sosial dan politik pada masa kolonialisme. Tokoh utamanya, Minke, melawan ketidakadilan yang terjadi akibat perbedaan ras dan kelas sosial. Pemerintah Orde Baru melarang buku ini karena dianggap menyebarkan ide-ide yang bertentangan dengan narasi resmi sejarah dan dapat memicu kritik terhadap kekuasaan.
  2. “Pulau Buru” oleh Hersri Setiawan
    Buku ini merupakan kesaksian pribadi tentang kehidupan di kamp tahanan politik pada masa Orde Baru. Dengan gaya bahasa yang lugas dan emosional, Hersri mengungkapkan kekejaman dan penderitaan yang dialami para tahanan politik. Buku ini dilarang karena dianggap mengungkit luka lama yang bisa merusak citra pemerintah.
  3. “Langit Makin Mendung” oleh Kipandjikusmin
    Cerpen ini dilarang karena dinilai menghina agama dan mengandung kritik politik yang tajam. Saat itu, mengkritik penguasa melalui simbolisme agama dianggap sangat berbahaya, sehingga pelarangannya dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas sosial dan politik.
  4. “Manifesto Komunis” oleh Karl Marx dan Friedrich Engels
    Buku ini dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Pemerintah saat itu sangat waspada terhadap segala bentuk pemikiran yang dianggap berbau komunisme. Larangan ini merupakan bagian dari upaya mengekang ideologi yang dianggap mengancam kekuasaan dan kestabilan politik.
  5. Buku-Buku tentang Reformasi dan Orde Baru
    Buku yang membahas secara kritis peristiwa-peristiwa politik yang melibatkan penguasa sering kali mengalami pelarangan. Tujuannya adalah untuk mengendalikan narasi sejarah sehingga generasi muda hanya mengetahui versi resmi yang tidak menimbulkan kontroversi atau kritik.
    Pelarangan buku bukan sekadar tindakan administratif, melainkan cermin ketakutan penguasa terhadap kekuatan kata-kata. Sejarah menunjukkan bahwa ide tidak pernah bisa benar-benar dikendalikan. Pelarangan justru sering kali membuat masyarakat semakin penasaran dan memicu perlawanan intelektual secara diam-diam.
    Lebih jauh lagi, pelarangan ini dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis dan demokrasi. Masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap perspektif yang beragam cenderung menjadi pasif dan mudah dipengaruhi oleh propaganda politik.
    Menghadapi kritik seharusnya menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat. Alih-alih melarang, pemerintah seharusnya membuka ruang dialog untuk membahas isu-isu yang diangkat dalam buku-buku tersebut. Lagipula, sebuah ide tidak dapat dilenyapkan hanya dengan melarang kata-kata yang mengungkapkannya.
    Seiring perkembangan teknologi informasi, upaya pelarangan buku menjadi semakin tidak relevan. Digitalisasi telah memungkinkan akses informasi yang lebih luas dan sulit untuk sepenuhnya dikendalikan.
    Pada akhirnya, larangan terhadap buku-buku kritis justru memperlihatkan kerentanan sebuah rezim terhadap kekuatan pemikiran. Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak takut menghadapi kritik, karena kritik adalah cermin untuk terus memperbaiki diri.
    Dengan membuka akses terhadap buku-buku yang pernah dilarang, kita tidak hanya memperjuangkan kebebasan berekspresi, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih kritis, inklusif, dan demokratis.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
PAGAR LAUT PUN TERTAWA

PAGAR LAUT PUN TERTAWA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com