• Latest
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - f4a21fc3 8344 4b0a b95a 80dfc21c254e | #Kritik | Potret Online

Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang

Februari 26, 2025

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - 1001348646_11zon | #Kritik | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - 1001353319_11zon | #Kritik | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang

Redaksi by Redaksi
Februari 26, 2025
in #Kritik, Buku
Reading Time: 3 mins read
0
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - f4a21fc3 8344 4b0a b95a 80dfc21c254e | #Kritik | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Penulis : Ririe Aikot

Dalam sejarah peradaban, buku selalu menjadi sarana ampuh untuk menyampaikan ide, memperluas wawasan, dan merangsang pemikiran kritis. Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, sejumlah buku justru dilarang peredarannya karena dianggap berpotensi mengganggu stabilitas politik dan sosial. Menariknya, kebanyakan dari buku-buku ini memiliki satu kesamaan: kritik terhadap kekuasaan dan pengungkapan realitas sosial yang tidak nyaman bagi penguasa.

Baca Juga
  • Menguak Fakta Keren Hidup Sehat Rasulullah
  • Buku TAJHIZ MAYYIT DAYAH RAUHUL MA’ARIF KAMBAM BUNGKAIH

Mengapa Buku Bisa Dilarang?


Alasan utama pelarangan buku umumnya terkait dengan kekhawatiran akan dampaknya terhadap opini publik. Buku yang mengkritik kebijakan pemerintah, mengungkap ketidakadilan sosial, atau mempertanyakan narasi sejarah yang resmi sering kali dianggap berbahaya. Kekuasaan cenderung takut pada ide-ide yang mampu mengguncang status quo, sehingga kontrol terhadap bacaan masyarakat menjadi langkah pencegahan.

Baca Juga
  • TNI dan Purnawirawan dalam Pusaran Politik Elit: Netralitas atau Ketegasan Moral?
  • Ketika Kritik Dipenjara

5 Judul Buku yang Pernah Dilarang di Indonesia

  1. “Bumi Manusia” oleh Pramoedya Ananta Toer
    Sebagai bagian dari Tetralogi Buru, novel ini menggambarkan ketidakadilan sosial dan politik pada masa kolonialisme. Tokoh utamanya, Minke, melawan ketidakadilan yang terjadi akibat perbedaan ras dan kelas sosial. Pemerintah Orde Baru melarang buku ini karena dianggap menyebarkan ide-ide yang bertentangan dengan narasi resmi sejarah dan dapat memicu kritik terhadap kekuasaan.
  2. “Pulau Buru” oleh Hersri Setiawan
    Buku ini merupakan kesaksian pribadi tentang kehidupan di kamp tahanan politik pada masa Orde Baru. Dengan gaya bahasa yang lugas dan emosional, Hersri mengungkapkan kekejaman dan penderitaan yang dialami para tahanan politik. Buku ini dilarang karena dianggap mengungkit luka lama yang bisa merusak citra pemerintah.
  3. “Langit Makin Mendung” oleh Kipandjikusmin
    Cerpen ini dilarang karena dinilai menghina agama dan mengandung kritik politik yang tajam. Saat itu, mengkritik penguasa melalui simbolisme agama dianggap sangat berbahaya, sehingga pelarangannya dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas sosial dan politik.
  4. “Manifesto Komunis” oleh Karl Marx dan Friedrich Engels
    Buku ini dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Pemerintah saat itu sangat waspada terhadap segala bentuk pemikiran yang dianggap berbau komunisme. Larangan ini merupakan bagian dari upaya mengekang ideologi yang dianggap mengancam kekuasaan dan kestabilan politik.
  5. Buku-Buku tentang Reformasi dan Orde Baru
    Buku yang membahas secara kritis peristiwa-peristiwa politik yang melibatkan penguasa sering kali mengalami pelarangan. Tujuannya adalah untuk mengendalikan narasi sejarah sehingga generasi muda hanya mengetahui versi resmi yang tidak menimbulkan kontroversi atau kritik.
    Pelarangan buku bukan sekadar tindakan administratif, melainkan cermin ketakutan penguasa terhadap kekuatan kata-kata. Sejarah menunjukkan bahwa ide tidak pernah bisa benar-benar dikendalikan. Pelarangan justru sering kali membuat masyarakat semakin penasaran dan memicu perlawanan intelektual secara diam-diam.
    Lebih jauh lagi, pelarangan ini dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis dan demokrasi. Masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap perspektif yang beragam cenderung menjadi pasif dan mudah dipengaruhi oleh propaganda politik.
    Menghadapi kritik seharusnya menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat. Alih-alih melarang, pemerintah seharusnya membuka ruang dialog untuk membahas isu-isu yang diangkat dalam buku-buku tersebut. Lagipula, sebuah ide tidak dapat dilenyapkan hanya dengan melarang kata-kata yang mengungkapkannya.
    Seiring perkembangan teknologi informasi, upaya pelarangan buku menjadi semakin tidak relevan. Digitalisasi telah memungkinkan akses informasi yang lebih luas dan sulit untuk sepenuhnya dikendalikan.
    Pada akhirnya, larangan terhadap buku-buku kritis justru memperlihatkan kerentanan sebuah rezim terhadap kekuatan pemikiran. Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak takut menghadapi kritik, karena kritik adalah cermin untuk terus memperbaiki diri.
    Dengan membuka akses terhadap buku-buku yang pernah dilarang, kita tidak hanya memperjuangkan kebebasan berekspresi, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih kritis, inklusif, dan demokratis.
Baca Juga
  • Buku Panduan Pengembangan Finalis
  • Ketika Jeritan Korban Bencana Dianggap Berisik: Peran Akademisi sebagai Jembatan dari Desa ke Donor
Tags: Literasi
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Membungkam Kritik : Daftar Buku-buku yang Pernah dilarang - e6447bad 01a4 4aca 9d87 b19ae6c94cfe | #Kritik | Potret Online

PAGAR LAUT PUN TERTAWA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com