POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Suara Perempuan itu Terbayar di Udara

RedaksiOleh Redaksi
February 25, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi Esai ini dibuat sebagai bentuk dukungan pada Band Sukatani, sekaligus kritik pada penguasa yang anti kritik)


Lampu-lampu menyorot wajahnya,
Jilbab menutupi sebagian rambutnya,
suara lantang, membelah udara.

Mau bikin SIM bayar polisi
Ketilang di jalan bayar polisi
Touring motor gede bayar polisi
Angkot mau ngetem bayar polisi.
Aduh, kutak punya uang untuk bayar polisi.
“Bayar, bayar, bayar!

Panggung bergetar,
Penonton berteriak,
seperti gelombang yang menerjang, membawa amarah yang sudah lama terpendam.

Di antara mereka, mata-mata gelap mengintai.
Di sudut panggung, seseorang menekan tombol rekam.
Di balik layar, jari-jari sibuk menulis laporan.
Dan di suatu tempat, seseorang mengangguk pelan.
Besoknya, semua berubah.


Embun pagi baru saja menyapa,
di ruang kepala sekolah,
Dua kursi berhadapan.
Aisyah, vokalis Band yang juga guru itu duduk tegak, tak menunduk,
meski yang dihadapannya telah menyiapkan vonis.

“Anda guru, seharusnya memberi contoh yang baik.” Ucap kepala sekolah.

“Contoh apa, Pak? Berpakaian yang pantas, tidak menyinggung pihak tertentu?
“Saya hanya mengekspresikan pendapat lewat nyanyian,” jawab Aisyah.

“Tapi Anda seorang perempuan, juga guru. Di Panggung, Anda memperlihatkan aurat, ini contoh tidak baik bagi murid.”

Aisyah tetap duduk tegak.
Matanya tak berkedip.

“Anda sudah melampaui batas, melanggar etika sebagai pendidik. Mulai hari ini, Bu Aisyah tidak bisa lagi mengajar di sini.” Kepala sekolah naik pitam. Harga dirinya bagai diinjak oleh bawahannya. Vonis dijatuhkan.

📚 Artikel Terkait

Kopi, Si Hitam Yang Manis

Tangis Langit Aceh

Antara Tsunami dan Banjir Aceh 2025: Refleksi Akhir Tahun

Guru SMKN 1 Tapaktuan Penyandang Difabel Kembali Tulis Buku, Asa Tak Bertepi

Perempuan itu kini meradang.
Sorot matanya tajam.
kalimat kepala sekolah itu menusuknya lebih dari pemecatannya.
“Seorang perempuan tidak boleh menyuarakan kemarahan? Ada batasnya? Lantas, siapa yang berhak menentukan batasan?”

Tak ada jawaban.
Dinding-dinding sekolah hanya membisu.


Di kelas kini sunyi,
papan tulis tak lagi ia sentuh.
Iya guru favorit di sekolahnya.
Pada muridnya, ia mengajarkan keberanian berkata dalam kebenaran.

“Kenapa bu Aisyah sudah 2 hari nggak mengajar, Pak?” Salah satu muridnya mencari sang guru kesayangan.

“Anak-anak, bu Aisyah tidak mengajar lagi di sini.” Jawab Pak guru.

Ruang kelas seketika gaduh.
Anak-anak berseragam merah-putih itu saling berbisik, wajahnya penuh pertanyaan.
“Karena bu guru nyanyi ‘bayar, bayar bayar, ya Pak? Atau karena bu guru tampil di Panggung nggak pakai kerudung?”

Salah satu siswa dengan polos bersuara,
“Loh, memang kenapa kalau nyanyi begitu? Bu guru bener kok, aku pernah naik motor sama kakakku nggak pake helm, trus ditahan ppak polisi, trus kita kasi uang, trus kita dibolehin jalan deh.”

Kelas kembali gaduh.
Siswa-siswi itu seolah tak terima alasan gurunya dihilangkan.


Di negeri yang katanya demokratis ini, perempuan selalu diajari bagaimana berpakaian, bagaimana berjalan, bagaimana berbicara.
Tapi tidak diajari bagaimana bertanya, dan bagaimana melawan ketidakadilan.

Aisyah, kini berdiri di trotoar,
menatap poster bandnya yang mulai dicopot.

Ia tak ingin diam, tunduk, patuh.
Ia ingin terus menyuarakan kebenaran.
Tapi vonis dan hukum di negeri ini lebih keras dari batu karang.

Ia menyerah,
Permintaan maaf ia sampaikan di layar kaca,
Sebab tak ada pilihan lain,
Hashtaq #KaburAjaDulu belum mampu ia ikuti.

Tapi kebenaran adalah kebenaran,
Ia mutiara yang akan tampak meski tersembunyi di dalam gua.

Di jalanan, jutaan suara lantang menggema.
Ibu-ibu, mahasiswa, remaja, kelompok disabilitas, bersatu melawan penguasa yang zalim.
Mereka tak bisa dibungkam,
suara yang dipaksa diamakan kembali lebih nyaring.

Dari balik layar kaca, Aisyah menyaksikan sambil tersenyum kecil.
Microfon tak lagi di tangannya,
tapi suaranya lebih nyaring dari sebelumnya.

Lagu itu terus bernyanyi.
menggema di udara,
memecah layar media sosial,
Tak ada yang mampu memadamkannya,
“Bayar, bayar, bayar!

Depok, 25 Februari 2025

Catatan
Puisi Esai ini dibuat dengan bantuan AI
(1) https://video.tribunnews.com/view/805486/resmi-dipecat-vokalis-band-sukatani-kini-ditawari-bupati-fahmi-pekerjaan-jadi-guru-di-purbalingga

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Affirmez la Survie

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00