POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Sukatani,#Fadli Zon

Suara Perempuan itu Terbayar di Udara

Redaksi by Redaksi
Februari 25, 2025
in #Sukatani,#Fadli Zon, Perempuan
0
Suara Perempuan itu Terbayar di Udara - IMG 20250225 WA0009 | #Sukatani,#Fadli Zon | Potret Online

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi Esai ini dibuat sebagai bentuk dukungan pada Band Sukatani, sekaligus kritik pada penguasa yang anti kritik)

Baca Juga
  • 01
    Bidik
    Praktik Baik Kontribusi Sekolah Perempuan Untuk Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
    01 Jul 2021
  • Suara Perempuan itu Terbayar di Udara - 75c793a3 24dd 4d14 a1d6 1af5fb0de58b | #Sukatani,#Fadli Zon | Potret Online
    #Aktor Beken
    Mengenal Lisa Mariana
    29 Mar 2025


Lampu-lampu menyorot wajahnya,
Jilbab menutupi sebagian rambutnya,
suara lantang, membelah udara.

Mau bikin SIM bayar polisi
Ketilang di jalan bayar polisi
Touring motor gede bayar polisi
Angkot mau ngetem bayar polisi.
Aduh, kutak punya uang untuk bayar polisi.
“Bayar, bayar, bayar!

Baca Juga
  • Suara Perempuan itu Terbayar di Udara - 2025 05 08 06 17 33 | #Sukatani,#Fadli Zon | Potret Online
    # Ironi
    Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
    08 Mei 2025
  • Suara Perempuan itu Terbayar di Udara - 2ad7f848 46bb 4d98 b947 a39461a61b8b 1 | #Sukatani,#Fadli Zon | Potret Online
    # Ironi
    HABA Si PATok
    02 Mei 2025

Panggung bergetar,
Penonton berteriak,
seperti gelombang yang menerjang, membawa amarah yang sudah lama terpendam.

Di antara mereka, mata-mata gelap mengintai.
Di sudut panggung, seseorang menekan tombol rekam.
Di balik layar, jari-jari sibuk menulis laporan.
Dan di suatu tempat, seseorang mengangguk pelan.
Besoknya, semua berubah.

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    LINDUNGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DI ACEH
    19 Mar 2018
  • 02
    Banda Aceh
    MEMPERCEPAT PEMENUHAN HAK-HAK PEREMPUAN ACEH
    01 Apr 2018


Embun pagi baru saja menyapa,
di ruang kepala sekolah,
Dua kursi berhadapan.
Aisyah, vokalis Band yang juga guru itu duduk tegak, tak menunduk,
meski yang dihadapannya telah menyiapkan vonis.

“Anda guru, seharusnya memberi contoh yang baik.” Ucap kepala sekolah.

“Contoh apa, Pak? Berpakaian yang pantas, tidak menyinggung pihak tertentu?
“Saya hanya mengekspresikan pendapat lewat nyanyian,” jawab Aisyah.

“Tapi Anda seorang perempuan, juga guru. Di Panggung, Anda memperlihatkan aurat, ini contoh tidak baik bagi murid.”

Aisyah tetap duduk tegak.
Matanya tak berkedip.

“Anda sudah melampaui batas, melanggar etika sebagai pendidik. Mulai hari ini, Bu Aisyah tidak bisa lagi mengajar di sini.” Kepala sekolah naik pitam. Harga dirinya bagai diinjak oleh bawahannya. Vonis dijatuhkan.

Perempuan itu kini meradang.
Sorot matanya tajam.
kalimat kepala sekolah itu menusuknya lebih dari pemecatannya.
“Seorang perempuan tidak boleh menyuarakan kemarahan? Ada batasnya? Lantas, siapa yang berhak menentukan batasan?”

Tak ada jawaban.
Dinding-dinding sekolah hanya membisu.


Di kelas kini sunyi,
papan tulis tak lagi ia sentuh.
Iya guru favorit di sekolahnya.
Pada muridnya, ia mengajarkan keberanian berkata dalam kebenaran.

“Kenapa bu Aisyah sudah 2 hari nggak mengajar, Pak?” Salah satu muridnya mencari sang guru kesayangan.

“Anak-anak, bu Aisyah tidak mengajar lagi di sini.” Jawab Pak guru.

Ruang kelas seketika gaduh.
Anak-anak berseragam merah-putih itu saling berbisik, wajahnya penuh pertanyaan.
“Karena bu guru nyanyi ‘bayar, bayar bayar, ya Pak? Atau karena bu guru tampil di Panggung nggak pakai kerudung?”

Salah satu siswa dengan polos bersuara,
“Loh, memang kenapa kalau nyanyi begitu? Bu guru bener kok, aku pernah naik motor sama kakakku nggak pake helm, trus ditahan ppak polisi, trus kita kasi uang, trus kita dibolehin jalan deh.”

Kelas kembali gaduh.
Siswa-siswi itu seolah tak terima alasan gurunya dihilangkan.


Di negeri yang katanya demokratis ini, perempuan selalu diajari bagaimana berpakaian, bagaimana berjalan, bagaimana berbicara.
Tapi tidak diajari bagaimana bertanya, dan bagaimana melawan ketidakadilan.

Aisyah, kini berdiri di trotoar,
menatap poster bandnya yang mulai dicopot.

Ia tak ingin diam, tunduk, patuh.
Ia ingin terus menyuarakan kebenaran.
Tapi vonis dan hukum di negeri ini lebih keras dari batu karang.

Ia menyerah,
Permintaan maaf ia sampaikan di layar kaca,
Sebab tak ada pilihan lain,
Hashtaq #KaburAjaDulu belum mampu ia ikuti.

Tapi kebenaran adalah kebenaran,
Ia mutiara yang akan tampak meski tersembunyi di dalam gua.

Di jalanan, jutaan suara lantang menggema.
Ibu-ibu, mahasiswa, remaja, kelompok disabilitas, bersatu melawan penguasa yang zalim.
Mereka tak bisa dibungkam,
suara yang dipaksa diamakan kembali lebih nyaring.

Dari balik layar kaca, Aisyah menyaksikan sambil tersenyum kecil.
Microfon tak lagi di tangannya,
tapi suaranya lebih nyaring dari sebelumnya.

Lagu itu terus bernyanyi.
menggema di udara,
memecah layar media sosial,
Tak ada yang mampu memadamkannya,
“Bayar, bayar, bayar!

Depok, 25 Februari 2025

Catatan
Puisi Esai ini dibuat dengan bantuan AI
(1) https://video.tribunnews.com/view/805486/resmi-dipecat-vokalis-band-sukatani-kini-ditawari-bupati-fahmi-pekerjaan-jadi-guru-di-purbalingga

Previous Post

Puisi-Puisi Rifa

Next Post

Affirmez la Survie

Next Post
Suara Perempuan itu Terbayar di Udara - IMG 20250225 WA0014 | #Sukatani,#Fadli Zon | Potret Online

Affirmez la Survie

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah