POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Affirmez la Survie

Fajar IlhamOleh Fajar Ilham
February 25, 2025
Tags: #Artikel#IndonesiaGelap#kaburajadulu
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : T. Fajar Ilham

Sebenarnya, tulisan ini belum memiliki judul, hanya ada kerangka fenomena tentang kehidupan di Indonesia. Baru kemudian judul ini saya ambil dari Derrida yang berkesan untuk dimaknai sebuah kalimat yang ditinggalkan ayahnya. Kalimat ini kalau dalam bahasa Indonesia adalah: “Memperteguh kelangsungan hidup”.

Siang itu, tepatnya pukul 11-40, sambil ngopi dan rokok dji sam soe di tangan kiri, dan sanger arabica sesekali di tangan kanan, sambil seruput aroma kopi khas Gayo, di usia 34 tahun ini Allah masih memberikan saya nikmatnya hidup, yaitu:”kesehatan dan kewarasan”.

Sebagaimana biasanya, membaca adalah kesukaan, tetapi menulis adalah keterpaksaan, karena ini adalah sebuah keterpaksaan yang dipaksa oleh Mas Tabrani, akhirnya saya dengan keterpaksaan mencoba mengingat-ingat kembali tentang buku “Resistance, Rebellion, and Death”, karya Albert Camu1s, di buku itu kalau saya tidak salah ia menawarkan refleksi mendalam tentang bagaimana manusia menghadapi penindasan, ketidakadilan, dan menghadapi kematian.

Dalam hal penindasan atas ketidakadilan penguasa, Camus mengajak masyarakat yang dikuasai untuk melakukan sebuah perlawanan terhadap tirani, ia mengatakan perlawanan ini bukan hanya soal untuk bertahan hidup, tetapi tentang mempertahankan martabat manusia, dan Camus juga menolak gagasan kekuatan (kekuasaan) dan kekerasan dapat membenarkan segalanya.

Jika kita kembali sejenak ke masa-masa perjuangan bangsa ini, sepertinya, dan itu memang terjadi terhadap masyarakat kita. Yaitu, militer adalah alat yang digunakan penguasa untuk menakut-nakuti rakyatnya, jika di zaman orde lama dan orde baru militer digunakan untuk membungkam lawan-lawan politiknya, dan setelah reformasi hal yang sama juga dilakukan terhadap mereka yang menyuarakan dan memperjuangkan keadilan.

Hal itu ditandai dengan kasus-kasus HAM yang tidak pernah mereka (pemerintah) selesaikan. Di saat ini, di masa yang mereka jargonkan Indonesia emas, terbalik menjadi Indonesia cemas. Keadaan ini terkait dengan perilaku mereka itu (pemerintah) yang bermanuver dengan manipulasi “bias kognitif” yang sengaja mereka (pemerintah) lakukan dengan instrumen merakyat, dan itu mereka lakukan untuk mendapatkan predikat pemimpin populis.

Namun demikian, pada hari-hari ini. Apa yang terjadi dengan tagar “kabur aja dulu”? Jika kita membaca buku The Theory Moral Sentiments karya Adam Smith yang Ia takuti adalah ketika suatu negara terjadi sebuah fenomena, yaitu:” kebiasaan orang untuk memuji mereka yang kaya, berkuasa, sambil pada saat yang bersamaan menghardik mereka yang miskin dan berkondisi lemah.

Sekarang coba kalian bayangkan, jika para pemimpin ormas itu lebih gemar untuk memuja mereka yang berkuasa dan mengemis kekuasaan sambil mengabaikan kerusakan moral yang terjadi akibat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

📚 Artikel Terkait

Ketika Jalanan Menjadi Mimbar Demokrasi: Suara Rakyat yang Tak Boleh Dibungkam

Surat Pembaca Potret

Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Memotret ‘Majalah POTRET

Rocky menambahnya lagi itu sama juga seperti Universitas, yang semestinya menggali pemikiran,tetapi mereka lebih memilih menggali tambang. Dan sekarang itu meledak, timbul lagi pertanyaan setelah meledak itu bagaimana Indonesia kedepan.

Dalam menjawab persoalan ini, kita kembali kepada Albert Camus, Ia menekankan bahwa pemberontakan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses untuk mencari makna. Ia tidak menawarkan solusi utopian, tetapi mengajak pembacanya untuk hidup dengan integritas di tengah kekacauan.

Dalam menghadapi kematian, sikap Camus terhadap hukuman mati. Ia menentangnya dengan argumen bahwa kematian yang disengaja oleh negara tidak hanya tidak manusiawi, tetapi juga gagal memberikan keadilan sejati.

Camus melihat hukuman mati sebagai simbol absurditas:”negara mengklaim otoritas atas hidup, padahal hidup itu sendiri tidak memiliki makna absolut”. Pandangan ini diyakini oleh para pembacanya, pemberontakan harus konstruktif, bukan sekadar saling menghancurkan.

Dalam buku “The Myth of Sisyphus” Camus mempertanyakan pertanyaan yang sangat fundamental: “Apakah hidup layak dijalani?” Sementara dunia ini tanpa makna inheren, ia menyatakan bahwa hidup adalah absurd. Tokoh mitologi Yunani, Sisyphus yang dikutuk untuk mendorong batu ke puncak bukit hanya untuk melihatnya menggelinding kembali, berulang tanpa akhir.

Itulah yang menjadi simbol absurditas ini bagi Camus. Namun, Camus tidak menyerah pada keputusasaan. Ia menyimpulkan bahwa kita harus “membayangkan Sisyphus bahagia,” menerima absurditas tanpa harapan palsu, dan hidup dengan penuh kesadaran serta pemberontakan terhadap ketidakbermaknaan.

Namun dalam hal absurditas kematian, sepertinya kopi saya terasa agak sedikit asam, karena jika kita membaca bagaimana ia mengulas metafora Sisyphus, kehidupannya di dunia tidak memiliki tujuan akhir. Saya berhenti sejenak sambil menghabiskan sebatang dji sam soe, dan mencoba melihat dalam perspektif Islam.

Dan pada kesempatan ini saya mengambil kesimpulan sementara bahwa jika Camus mengajak kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian, sementara Islam memberikan kompas untuk menavigasi absurditas yang dirasakan melalui iman, sabar, dan harapan akan keadilan akhirat. Jika Sisyphus adalah metafora, maka dalam Islam, ia akan diundang untuk meletakkan batu itu, pulanglah ke kerajaan-Ku disini tempat kediamanmu yang sesungguhnya, yang Camus sendiri mungkin tidak mempercayainya.

Catatan redaksi : “Affirmez la Survie” adalah frasa dalam bahasa Perancis yang berarti “Afirmasi Kelangsungan Hidup” atau “Mengafirmasi Kelangsungan Hidup”.Frasa ini dapat memiliki makna yang berbeda-beda tergantung pada konteksnya, namun secara umum, frasa ini digunakan untuk menekankan pentingnya mengakui dan menghormati hak untuk hidup dan kelangsungan hidup. Dalam konteks HAM (Hak Asasi Manusia) digunakan untuk menekankan pentingnya mengakui dan menghormati hak untuk hidup dan kelangsungan hidup sebagai hak asasi manusia yang fundamental.

  1. Resistance, Rebellion, and Death” adalah kumpulan esai yang ditulis oleh Albert Camus. Karya ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1960. ↩︎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tags: #Artikel#IndonesiaGelap#kaburajadulu
Fajar Ilham

Fajar Ilham

lahir di Kluet Utara pada 01-12-1989 dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Sejarah di Universitas Syiah Kuala. Barista Gerobak Arabica yang suka membaca buku-buku filsafat. Sejak kecil sudah suka menyukai cerita-cerita legenda. Aktif di organisasi eksternal kampus (HMI) semasa kuliah

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Kejagung Mulai Panen Koruptor

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00