Dengarkan Artikel
Oleh : Ririe Aiko
(Seorang pemuda di Surabaya yang terpaksa mencuri makanan di minimarket karena kelaparan. Kisahnya menjadi viral setelah ia ditahan selama 100 hari meski barang yang diambilnya hanya senilai seratus ribu rupiah. Suara publik yang memperjuangkan keadilan akhirnya membebaskannya dari jeruji besi) (1)
—ooo—
Di sudut jalan kota yang bising,
Raka merangkul tubuhnya yang dingin,
Memandangi gerobak makanan yang hangat beruap.
Perutnya merengek lapar,
Tangan kurusnya menggigil,
Mata cekungnya berkaca-kaca,
Saat aroma mi instan menguap
Membuat perutnya berontak
“Seratus ribu rupiah,” gumamnya lirih,
“Harga yang murah untuk kenyang satu malam.”
Namun, ia tak punya uang,
Hanya sisa peluh yang belum terbayar.
Tubuhnya harus kuat bertahan,
Menunggu gaji turun dari atasan.
Penghasilannya yang tak seberapa
Kerapkali memaksanya berpuasa
Menahan hari-hari dengan sisa-sisa nasi
Yang tak cukup hingga sore hari
—ooo—
Di sebuah minimarket yang terang,
Raka berjalan pelan,
Menyisir rak-rak penuh makanan,
Menghitung harga dengan pandangan kosong.
Tak satupun recehan yang mengisi sakunya.
Sekantong mi instan dan,
sebungkus coklat di rak penjualan,
Menggodanya tanpa belas kasihan,
Membuat perutnya semakin tidak tahan.
Di balik kaca minimarket,
Orang-orang berlalu lalang,
Membawa kantong belanja yang penuh,
Tanpa menoleh padanya
Yang sudah dua hari tidak makan.
Mata kasir menatap tajam,
Raka tahu,
Bahkan sebelum mencuri,
Ia sudah dicurigai.
📚 Artikel Terkait
Tapi lapar mengalahkan segalanya,
Ia pun memutuskan untuk menyembunyikan beberapa makanan di balik jaket lusuh,
Mencuri adalah jalan keluar,
Dari tubuh yang mulai gemetaran,
Raka pun mulai berlari
Berharap termaafkan oleh nurani.
Tapi hukum adalah hukum
Ia harus ditegakkan agar si miskin jera.
—ooo—
Di balik jeruji besi yang dingin,
Raka duduk memeluk lutut,
Matanya kosong,
Menatap lantai yang keras dan dingin.
“Seratus ribu rupiah,” gumamnya lirih,
Hanya untuk menyambung penghidupan,
Namun hukum berdiri tegak,
Tanpa belas kasihan.
Mediasi digelar tiga kali,
Namun hati pelapor tak tersentuh,
Seratus ribu rupiah lebih mahal,
Dari harga seorang anak yatim piatu,
Yang terjebak kebutuhan ekonomi.
—ooo—-
Berita pun mulai menyebar seperti angin,
Melintasi layar-layar kecil,
Menghantam hati yang jauh,
Menghidupkan empati yang lama mati.
Mereka bertanya,
“Apakah lapar adalah kejahatan?
Apakah kemiskinan adalah dosa?”
Suara-suara menggema,
Menuntut keadilan yang terlupakan.
Raka tak tahu namanya disebut,
Tak tahu wajahnya ditangisi,
Di dunia maya yang tak pernah dikenalnya,
Ia hanya tahu satu hal,
Lapar membuatnya menjadi seorang pencuri.
Hingga Seratus hari kemudian,
Raka melangkah keluar,
Kurus dan lelah,
Dibebaskan karena desakan suara, (2)
Dari orang-orang yang tak pernah dilihatnya.
Namun kebebasan itu hampa,
Ketika perutnya masih kosong,
Dan jalanan tetap dingin,
Menelannya kembali,
Seperti lubang hitam yang tak berdasar.
Ia berjalan tanpa tujuan,
Menatap gedung tinggi tanpa harapan,
Kemiskinan tetap membayanginya,
Seperti kutukan yang melekat dalam darah.
“Jika kemiskinan adalah kesalahan,
Siapa yang harus disalahkan?”
Pertanyaan itu tetap menggantung di kepalanya,
Tak terjawab,
Tak terhapus,
Menghantuinya seperti mimpi buruk.
Sementara jutaan rakyat,
diminta rajin membayar pajak,
demi mensubsidi warga masyarakat, (3)
agar merata tingkat ekonomi bangsa .
Namun, mengapa sesosok yatim bisa terlupa?
Seperti daun kering yang terinjak.
Hingga suara-suara berteriak,
Menjadi penegak keadilan di dunia.
“No viral No justice”
—ooo—
CATATAN
(1)https://www.detik.com/jatim/hukum-dan-kriminal/d-6843605/lapar-dan-tak-ada-uang-paksa-pria-mencuri-di-indomaret-berujung-sesal
(2)https://jatimtimes.com/baca/293404/20230726/025300/kasus-galuh-yang-kelaparan-dan-mencuri-di-indomaret-jadi-sorotan-sudah-60-hari-mendekam-di-penjara
(3)https://www.kemenkopmk.go.id/membayar-pajak-turut-membantu-pelaksanaan-skema-bansos
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






