Dengarkan Artikel
Masyarakat terlalu menyepelekan mimpi seorang wanita.
“Kamu itu perempuan. Harus jadi istri yang patuh, ngapain kerja pagi pulang malam ninggalin rumah, mau suami kamu selingkuh?”
Jamila sering mendengar teguran tak masuk akal itu yang disampaikan tetangganya kepada salah satu wanita karir di kampungnya, Citra namanya. Perempuan hebat, bisa mengurus rumah, dirinya sendiri, suami, dua anak dan pekerjaan sekaligus tanpa banyak omong. Sementara orang yang mengkritik hanya duduk di rumah, ongkang-ongkang kaki, berbicara omong kosong, pekerjaan rumah di tinggal, anak tidak terlalu di pedulikan.
Jamila hanya bingung dengan pemikiran orang-orang yang katanya sih sudah ‘dewasa’. Secara umur dan fisik, memang benar. Namun, pemikiran mereka jauh masih tertinggal dibandingkan anak-anak zaman sekarang yang mereka bilang generasi hancur.
“Mas minta maaf ya kalau selama ini nggak bisa kasih kamu banyak. Kamu tau sendiri gaji mas cuma bisa buat makan kita sehari-hari. Bahkan untuk skincare kamu pun, mas nggak bisa beli,” ucap Akbar yang kini duduk di samping Jamila di bangku taman kota. Mereka menatap langit biru yang bersih dari awan. Matahari bersinar hangat, tidak terik, tidak juga mendung, cuaca hari ini sangat pas untuk berduaan saja.
Jamila tidak langsung menjawab, menunduk, menatap lanyard kw yang diberikan suaminya. Bibirnya terangkat memunculkan senyum indah dengan mata berkaca-kaca. “Gapapa kok mas. Aku udah nggak mikirin apapun lagi selain kamu sama Arya. Cukup jadi istri dan ibu yang baik aja diusia ini, aku udah berdamai dengan keadaan.”
📚 Artikel Terkait
Tidak sepenuhnya bohong, Jamila benar dengan apa yang ia sampaikan. Ia hanya ingin menghabiskan waktu menjadi ibu dan istri yang baik, dia lelah menyesali banyak hal, cukup jalani saja apa yang telah terjadi. Tak ada salahnya mengubah mimpi.
“Aku belum pernah nanya. Emang cita-cita kamu dulu mau jadi apa?” tanya Akbar menatap tepat pada mata indah istrinya. Melihat sejuta masa depan yang tertanam karena kehilangan kesempatan. Akbar cukup menyesal, tetapi tidak tahu cara menunjukkan.
“Waktu SD aku kepengen jadi guru, tapi pas SMP aku mulai tertarik jadi wanita kantoran yang sibuk mikirin deadline pekerjaan dengan selalu pakek pakaian yang kayak kamu kasih ke aku ini, mas. Sampai sekarang, aku masih suka kok.”
“Belum terlambat, sayang. Masih ada waktu, umur kamu masih muda, masih bisa ngejar cita-cita.”
Jamila menggeleng pelan. “Aku yang nggak mau lagi. Aku udah punya anak, mas. Aku nggak sehebat kak Citra yang bisa ngurus segalanya. Aku udah bahagia kayak gini, sekarang giliran kamu aja. Aku bakal dukung kamu untuk maju, gimana?”
Akbar semakin erat menggenggam tangan Jamila. Merasakan debaran jantung yang tak biasa. Tiga tahun menikah, yang dahulu ia pikir tanpa cinta ternyata salah. Semakin lama menghabiskan waktu dengan Jamila, dia makin sayang kepada istrinya ini, semakin tak ingin meninggalkan, tetapi begitu berat melihat Jamila harus merelakan mimpi-mimpi indahnya hanya untuk mengurus rumah tangga.
Seorang perempuan juga berhak punya mimpi. Kalimat itu seolah menohok Akbar untuk sadar kala itu, dua minggu lalu ketika ia membaca salah satu postingan di sosial media yang bergerak di bidang ‘woman content‘. Saat itu Akbar langsung mengingat Jamila, teman satu kampung yang telah menjadi istrinya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





