POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Misi Merampok Bank

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
February 23, 2025
Tags: #DetektifJimmy#Literrasi#Novel

Ilustrasi

🔊

Dengarkan Artikel

Salah satu kisah dari Detektif Jimmy1

Oleh : Reza Fahlevi

Sekitar pukul tiga dini hari, hujan lebat mengguyur Kota Banda Jivah. Jalanan nan kosong penuh dengan air yang mengalir deras ke drainase.

Sunyi sekali. Biasanya ada satu-satu pengendara yang melintas, tapi karena hujan jalanan terlihat kosong. Hanya ada suara petir yang menggema dari langit, seakan-akan ingin menerkam siapa saja yang menantang.

Di atas sebuah atap gedung bank, seorang pria berjaket hitam yang panjangnya hampir sampai ke lutut sedang berdiri di tepiannya. Ia menutupi kepalanya menggunakan penutup yang menyatu dengan jaketnya. Mata laki-laki itu cukup tajam menatap jalanan, seolah-olah gelagatnya itu seperti sedang menanti mangsa.

Ada sebuah headset yang laki-laki itu sematkan di telinga kirinya. Dia bukan sedang mendengarkan musik melainkan menyimak pembicaraan segelintir orang yang sedang berada di suatu tempat.

Sambil menyimak pembahasan orang-orang asing itu, pria ini melirikkan matanya ke pos satpam. Di sana, ada dua penjaga yang tergeletak. Meski mereka terlihat tidak bergerak sedikit pun, tapi sebenarnya keduanya tidak mati melainkan hanya pingsan. Perbuatan ini tentu saja dilakukan oleh sang pria; dia dengan cepat datang menghampiri para satpam dan membius mereka semua.

Total, ada enam penjaga yang bertugas menjaga malam dan mereka semua terbaring tak sadarkan diri. Dua satpam tergeletak di pos sedangkan sisanya ada di gerbang utama gedung bank serta juga di area belakang.

Selang lima menit kemudian, pria berjaket ini mengambil sebuah kunai, lalu berjalan dengan cukup tenang ke sebuah pintu. Ia memasuki pintu tersebut yang menghubungkannya ke area dalam bank. Lalu, di sebelah kiri terdapat tangga darurat dan lantas ia pun menuruninya. Seiring pria ini menuruni setiap anak tangga, satu per satu lampunya padam. Dan, saat dirinya sudah berada di lantai dasar, seluruh lampu di area serta luar bank padam. Tak ada cahaya sedikit pun melainkan hanya kegelapan.

Pria berjaket ini berdiri santai di sekitar area lobi. Meski gelagatnya terlihat tenang, ia masih tetap memegang kunai tadi.

Sementara itu, ada dua unit mobil jenis Van berwarna hitam memasuki pelataran parkir bank. Tepat di saat kedua kendaraan itu berhenti, lantas keluarlah enam orang laki-laki – para perampok Mereka berpakaian serba hitam dan juga mengenakan topeng. Tidak hanya itu, masing-masing dari mereka juga memegang senapan laras panjang.

Enam pria bersenjata tadi berlari cepat menuju area pintu depan bank. Di sisi lain, di dalam Van, sang sopir tidak sengaja melirikkan matanya ke pos satpam dan melihat ada dua penjaga yang terbaring tak sadarkan diri. Ia pun mengambil HT dan mengabari salah satu rekan-rekannya. “Hey, ada yang tidak beres. Aku melihat dua satpam terkapar di pos mereka.” kata sang Sopir.

Lalu, salah satu dari pria bersenjata yang berlari ke arah pintu bank membalas, “itu kabar bagus. Kita bisa merampok tanpa harus berhadapan dengan para satpam.”

Sang sopir tidak menyahut apa-apa. Meski begitu, hatinya mulai tidak tenang. Ada sebuah firasat buruk yang kini menghantuinya.

Kembali kepada enam pria bersenjata tadi; kini mereka telah berhasil membobol pintu utama bank. Tanpa berlama-lama mereka semua masuk ke dalam sambil mengarahkan senapan ke depan. Oleh karena situasinya gelap, dua di antara mereka menyalakan senter. Akan tetapi, cahayanya tidak cukup terang menyinari area dalam bank

Walaupun agak remang-remang, mereka sama sekali tidak peduli. Kini, tiga pria berlari kencang menuju tempat penyimpanan emas yang juga terletak di lantai satu. Mereka berusaha keras membuka pintunya menggunakan alat khusus sebab kunci yang dipakai merupakan kode rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir pegawai bank.

Selagi ketiga perampok itu mencoba membuka pintu tempat penyimpanan emas, tiga laki-laki lainnya bersiaga di area lobi. Salah satu yang memegang senter mengarahkan cahaya ke berbagai sisi untuk berjaga-jaga, sedangkan dua lainnya dalam posisi cukup siap untuk menembak apabila ada ancaman yang datang.

Tak lama berselang, lelaki yang memegang senter malah berteriak. Ia pun berteriak histeris dan seketika terkapar. Senter yang tadinya ada dalam genggaman terlepas begitu saja karena kini tangannya bergerak sendiri memegangi paha.

“Hey, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya salah satu pria bersenjata. Dengan panik ia bergegas mengambil senter dan mengarahkannya kepada laki-laki yang berteriak. Dalam sekejap, dirinya terkejut saat melihat ada sebuah kunai yang menancap di paha laki-laki itu.

Kejadian tersebut membuat si pria bersenjata semakin ketakutan. Dia lantas mengarahkan senapannya ke kiri dan mulai menembak. Tak cukup sampai di situ, dirinya beralih membidik ke kanan dan juga menghamburkan peluru ke sana. Ketika dia berhenti menembak, sesuatu pun terjadi di area luar bank – dua mobil Van malah meledak.

“Celaka.” ujar pria yang menembak tadi. Kini ia sadar bahwa mereka semua sudah tidak bisa lagi kabur meskipun nanti emas berhasil dirampas.

“Bagaimana ini?” tanya rekan si penembak. Tangannya yang sedang memegang senapan terlihat gemetaran.

📚 Artikel Terkait

Ingin Lupa Saja

TABIR RAMADHAN

Magang Yuk

Puisi- Puisi Rachmadi Akbar

“Tak ada pilihan lain. Kita harus kabur.”

“Tapi bagaimana dengan yang lainnya?”

Si penembak tadi menoleh ke kanan di mana ketiga rekan-rekannya sedang beraksi membongkar pintu tempat penyimpanan emas. Setelahnya, ia melirik temannya yang terluka akibat terkena kunai.

“Masa bodoh dengan mereka semua. Aku akan kabur. Kau… jika ingin selamat, ikutlah denganku. Tapi, jika masih peduli terhadap mereka semua, siap-siap saja kau akan terbunuh. Ingat, belum tentu mereka juga sudi menyelamatkan kita seandainya kita berada di posisi mereka. Ayooo!” ujar laki-laki yang menghamburkan peluru tadi.

Lantas, kedua pria bersenjata itu berbalik badan dan mulai berlari. Namun, baru dua langkah, laki-laki berjaket seketika datang dari belakang dan menjambak rambut dari kedua pria bersenjata. Ia tidak hanya menjambak, tapi juga mengantukkan kepala mereka berdua dengan cukup keras. Satu hantaman sudah cukup merembesi darah dari kepala kedua perampok.

Baca Juga

Dua perampok tadi tersungkur. Mereka merasakan kesakitan yang luar biasa akibat perbuatan si laki-laki berjaket.

Meskipun kedua berandalan itu sudah tersungkur lemah, bukan berarti membuat si lelaki berjaket berhenti menyerang. Ia memaksa salah satu dari mereka berdiri kemudian mendaratkan pukulan keras ke dada. Lalu, di waktu yang sama, dia mencekik laki-laki itu dengan tangan kiri, adapun tangan kanannya mematahkan kedua lengan si perampok tanpa belas kasihan. Masih belum cukup, serangannya lantas diakhiri dengan menghujani tendangan ke paha laki-laki tersebut hingga dirinya kembali tersungkur sambil mengerang kesakitan.

Selesai dengan satu berandalan, sang pria berjaket kemudian menghampiri bandit lainnya yang sedang terbaring tak berdaya. Lantas, tanpa ampun dia menghentakkan kaki ke dada orang itu hingga darah menyembur deras dari mulutnya, bahkan juga sampai terdengar suara retakan. Sepertinya, beberapa tulang rusuk si bandit sudah retak.

Tepat setelahnya, lagi-lagi terdengar suara ledakan dahsyat yang datang dari arah tempat penyimpanan emas, di mana di sana juga terdapat tiga berandal lainnya. Dan benar saja, suara jeritan terdengar cukup nyaring sampai ke area lobi. Sepertinya, ketiga perampok yang sedang membobol tempat penyimpanan emas sudah terluka – mungkin saja mereka terbakar akibat ledakan tadi.

Begitu si pria berjaket selesai meluluh lantakkan semua perampok, ia lantas menghampiri laki-laki yang terluka akibat terkena serangan kunai. Orang itu terbaring dengan rembesan darah yang terus mengalir dari pahanya.

Ketika pria berjaket sudah berdiri tepat di sebelah laki-laki tersebut, seketika lampu di seluruh area bank kembali menyala – tidak hanya di dalam tapi juga di luar. Kini, semua sisi bank sudah terang benderang. Dan, bersamaan dengan itu pula, si perampok yang terluka akibat terkena kunai menatap pria berjaket untuk pertama kalinya. Kedua matanya langsung terbelalak ketakutan karena sorot mata pria berjaket itu ternyata cukup dingin, tajam dan juga penuh dengan aura kebengisan.

“Si… siapa… kau?” tanya si perampok dengan bibir yang gemetaran. Wajahnya juga mulai pucat pasi.

Sembari merundukkan tubuh dan menarik pakaian sang perampok, lelaki berjaket lantas menjawab, “aku Detektif Jimmy.” ucapnya dengan suara yang sangat berat, namun terdengar cukup jelas.

“De… Detektif… Jimmy…? Ja… jadi, kau memang benar-benar ada… di kota ini.”

“Sekarang kau sudah tau. Kehadiranku menandakan bahwa keberadaanmu dan rekan-rekanmu, juga semua berandalan di Kota Banda Jivah dalam ancaman besar. Karna… aku akan menjadi mimpi terburuk bagi kalian semua.” tutur pria berjaket yang tak lain sebenarnya adalah Detektif Jimmy.

Setelah mengatakan itu, Jimmy lantas meninju wajah si perampok hingga dia terkapar pingsan. Kemudian, begitu dirinya bangkit dan berjalan keluar ke area depan bank, di mana dua mobil Van masih terlihat masih terbakar, lelaki ini menghubungi seorang polisi melalui radio penghubung yang tersemat di kerah bagian dalam jaketnya.

“Tiyo, segera bergerak ke lokasi B. Hubungi juga tim medis karna ada beberapa orang yang terluka.” kata Detektif Jimmy kepada Tiyo.

Informasi dari Detektif Jimmy langsung ditanggapi dengan cepat oleh Tiyo. Sang ajudan Kapolsek itu tiba dalam waktu lima menit bersama pasukannya. Dan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah enam perampok yang berada tak jauh dari posisi Van – kondisi mereka penuh dengan lumuran darah dan terantai.

Tiyo langsung mengerahkan bawahannya untuk mengevakuasi para perampok sembari menanti tim medis tiba. Dari melihat pasukannya yang sedang bekerja, polisi ini juga melirikkan matanya ke sekitar – ia sedang mencari keberadaan Detektif Jimmy. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak menemukan adanya tanda-tanda dari sosok pria berjaket itu. Sepertinya, orang misterius tersebut sudah lebih dulu meninggalkan bank.

“Kapten, kami menemukan satpam bank.” ujar salah satu polisi kepada Tiyo.

“Apa mereka juga terluka?” tanya sang ajudan Kapolsek ini.

“Kami tidak menemukan adanya bekas luka fisik. Tapi, mereka tergeletak tak sadarkan diri. Sepertinya, ada seseorang yang sengaja membuat mereka pingsan.”

Tiyo langsung paham bahwa orang yang telah membuat pingsan para satpam adalah Detektif Jimmy. Ia lantas memerintahkan bawahannya untuk mengamankan semua security. “Biarkan saja sampai nanti mereka semua sadar.” gumamnya.

Aksi perampokan yang terjadi pada malam ini di luar dugaan para polisi. Tak ada satu pun dari mereka, termasuk Tiyo sendiri, yang menyadari ada pergerakan rahasia dari penjahat. Namun, kehadiran Detektif Jimmy yang sudah lebih dulu mengetahuinya mampu menggagalkan aksi perampokan tersebut. Detektif itu bahkan sudah tiba ke bank sebelum para perampok menampakkan batang hidung mereka, kemudian menghabisi mereka semua tak sampai lima menit.

Bagi Tiyo, apa yang dilakukan oleh Jimmy bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Sudah berulang kali detektif itu menggagalkan aksi kejahatan di beberapa sektor Kota Banda Jivah dengan tangannya sendiri. Dan, melihat kejadian pada malam ini di mana para satpam yang malah pingsan, Tiyo paham bahwa itu semua sebenarnya adalah strategi Jimmy agar mereka tidak menjadi korban dari kebengisan para perampok.

“Jim, mungkin caramu terkesan agak berlebihan. Tapi, kau sudah berhasil menangkap para perampok dan juga berhasil menyelamatkan semua satpam bank. Sayangnya, kau sudah lebih dulu pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih.” ujar Tiyo pada dirinya sendiri.

Aksi Detektif Jimmy yang cukup heroik sudah cukup untuk menggagalkan rencana para penjahat yang berniat merampok bank. Barangkali, seandainya detektif itu tidak datang, mereka berhasil mencuri emas dan mungkin saja para satpam yang bertugas berjaga malam terluka parah.

***

Media Perempuan Kritis dan Cerdas

  1. Detektif Jimmy merupakan seorang mata-mata rahasia yang sangat misterius yang eksis di Kota Banda Jivah. Meskipun tidak bekerja sama secara resmi dengan kepolisian, detektif itu sebenarnya sudah banyak membantu mereka terutama dalam misi penangkapan mafia kelas atas. ↩︎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #DetektifJimmy#Literrasi#Novel
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kontribusi Umat Islam Terhadap Peradaban Dunia

Mengenal Ulama Produktif Nusantara pada Kurun 1700-1800 M

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00