• Latest
Sungai Yang Meminta Kedatangan - A wide and long river divided by a dam next to a city center | Jalan-jalan | Potret Online

Sungai Yang Meminta Kedatangan

Februari 20, 2025
de887664-5703-4ea3-b536-ece938504d8e

Semua Guru itu Teladan

April 3, 2026
IMG_0596

Jendela Istana Hamatisa

April 3, 2026
IMG_0588

PASIE RAJA: Jejak Darah, Dakwah dan Martabat Perempuan dalam Sejarah Aceh Selatan

April 3, 2026
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a

Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran

April 3, 2026
560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5

Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu

April 3, 2026
Sungai Yang Meminta Kedatangan - IMG_0442 | Jalan-jalan | Potret Online

Dari “Jangan Lupa Mati” ke Hidup Bernilai: Transformasi Dakwah Berkeadilan

April 3, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Sekolah Lalu Lintas

April 2, 2026
Plastik mahal

Plastik Mahal dan Rapuhnya Ketahanan Industri Kita

April 2, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Jumat, April 3, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Sungai Yang Meminta Kedatangan - A wide and long river divided by a dam next to a city center | Jalan-jalan | Potret Online

Sungai Yang Meminta Kedatangan

Heri Haliling by Heri Haliling
Februari 20, 2025
in Jalan-jalan
Reading Time: 14 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Satu pria berpakaian urakan langsung menjegal tubuh kurus Pak Prehatin dan memitingnya hingga pipinya menempel coran jalan.

“Ampun, Pak! Ada apa ini! Salah saya apa, Pak!”

“Jangan bohong!!!” hardik istri alm. Pak Birma yang seolah hendak mencengkram. Dua anak di belakangnya berusaha menahan dengan wajah gusar dan cemas. “Perampok mana yang mau ngaku, hah!!! Biadap!!!Bangun!!!!!”

Baca Juga:
  • Di Jalan Pulang
  • Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru
  • HABA Si PATok

Petugas berpakaian preman itu lantas menegakkan   tubuh Pak Prihatin. Polisi itu memborgolnya sementara petugas lain langsung masuk dalam rumah.

“Perampok? Ibu saya nggak pernah didik saya untuk jadi itu. Perempuan ini fitnah saya Pak Polisi!” protes Pak Prehatin heran bercampur marah. Tanpa ia sadari juga puluhan pasang mata warga yang menatapnya berubah pandang. Kali ini pandangan itu kian gila dengan rutukan tajam sumpah serapah.

“Bawa saja orang gila itu Pak Polisi!”

“Penjarakan saja!”

“Kami sudah muak dengannya!”

Hati Pak Prehatin hancur luluh lantak karena ujaran menyakitkan itu. Sampai demikian kebencian mereka yang jelas-jelas bahwa dirinya belum tentu bersalah.

“Komandan Surya!” panggil satu petugas kepada pria berpakaian preman yang mengunci kedua lengan Pak Prehatin, “dari dalam kami temukan koper berisikan uang cukup banyak dan sepucuk pistol jenis colt di samping tv.”

Mimik Pak Prehatin tambah tercekat saat mendengar ada senjata api di rumahnya. Ia berontak dengan sangat.

“Sumpah, Pak. Bukan saya! Sumpah pistol itu saya tak tahu! Ampuni saya, Pak!”

“Jelaskan di kantor, Pak”

“Tapi benar, Pak. Saya bukan pelakunya. Duh gusti,  ampuni saya, Pak. Saya mohon!!! Saya mohon!!!!! Tolong, Pak!” ucap Pak Prehatin menggelijang dan menangis. Tidak lain dan bukan sekarang yang ada dalam pikiran Pak Prehatin hanyalah nasib Kinong.

“Jangan dengarkan, Pak. Pembunuh!!! Cepat cek sidik jarinya, pasti cocok dengan pistol dan koper itu! Dialah yang merampok suami saya saat pulang kerja! Saya yakin jika tidak dapat info dari warga tentang lokasinya sekarang, jasad suami saya pasti bakal dipotong-potong untuk hilangkan jejak, Pak!”  urai istri alm. Pak Birma tersengal-sengal.

“Tapi sungguh bukan saayy…”

“Halah!!!….Dugggg!!!!!!” sebuah sapuan kaki terukur dari satu anak alm. Pak Birma itu tepat mengenai rahang Pak Prehatin. Dia pun terhentak ke pinggir dan merasakan ngilu berat yang sangat dalam.

“Cukup! Jangan main hakim sendiri!” sergah Komandan Surya yang langsung cepat mengamankan Pak Prehatin.

Dengan diborgol dan dikawal, Polisi menggiring Pak Prehatin menuju pinggir jalan raya untuk masuk ke mobil tahanan. Sementara itu keluarga alm. Pak Birma juga mengekor di belakang dengan menyembunyikan mata dan senyum penuh intrik dan skandal.

Berjalan menepi dan berkelok, Pak Prehatin hanya menatap aliran sungai. Seolah sungai itu berbisik kepadanya, mata Pak Prehatin sembab hangat mengingat kenangan kelam di sungai itu. Langkah mereka mendekati undakan bendungan dan berusaha naik menuju jalan raya.

“Bapak!!!!!!!!!” teriak Kinong dari siletan jalan dengan tangan kanan melingkari bola.

Pak Prehatin menyeretkan langkah hingga berhenti total. Dia mendengar panggilan itu dan menangkap wajah memelas putranya. Kinong berlari mendekat.

Baca Juga

Sungai Yang Meminta Kedatangan - ee438e74 f736 4756 8ffe 13d438513ec5 | Jalan-jalan | Potret Online

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025
Sungai Yang Meminta Kedatangan - IMG_2154 1 scaled | Jalan-jalan | Potret Online

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Agustus 21, 2025

HABA Si PATok

Mei 13, 2025

Pak Prehatin tak tahan lagi. Dengan kuda-kuda pasti dia gasak satu petugas di kiri tangannya untuk ciptakan ruang. Satu kuncian kendur. Petugas lain segera terbang dari belakang untuk lakukan kekangan leher.  Namun Pak Prehatin mendorong cepat kepala belakangnya hingga hantam pelipis kanan si petugas. Polisi itu pun rubuh sesaat. Komandan Surya segera bergerak kilat, ia cepat todongkan pistol dengan teriakan perintah yang wajib diikuti.

Tapi mata Pak Prehatin nyalang tanpa keraguan. Sekujur tubuhnya ia tabrakkan ke badan Komandan Surya. Sedikit terdorong ke belakang, ruang kecil itupun dimanfaatkan Pak Prehatin dengan memutar setengah badan lalu terjun ke sungai yang berarus pasang.

Dor!!!! Dor!!!! Dorr!!!!Dorr!!!

Tiga tembakan menuju arah ceburan berdesing memekak bercampur teriakan kecewa keluarga Pak Birma dan raungan tangis Kinong.

Sesaat pada satu titik tembakan, cairan merah tiba-tiba menyembul ke permukaan. Suasana keruh, namun isak tangis Kinonglah yang mendominasi.

ADVERTISEMENT

Azan magrib usai berkumandang sepuluh menitan yang lalu, dengan terisak-isak Kinong duduk di kursi emperan memandang sungai dan jalan berharap kemukjizatan datang. Warga sekitar yang seperti patung pada akhirnya menatap itu dengan rasa bercampur juga.

Kediaman mereka kali ini tentu hasil dari gelayutan kemarahan atau kebersalahan sikap. Sekitar rumah Pak Prihatin, dua sampai tiga polisi berpatroli. Kinong menunggu hingga tak terasa Isa telah tiba. Pada akhirnya anak laki-laki itu muak dengan harapan. Kinong mulai menggerutu Tuhan tentang arti keadilan. Tangisannya kian serak dan lirih. 

Dengan hati hancur lebur dan putus asa, langkah kecil kakinya mengantar Kinong ke dalam rumah. Pintu ia banting saat menutup lalu tubuhnya sekejab amblas tersungkur di lantai. Semua badannya menggigil dan sukmanya panas teriris-iris. Mencoba menahan itu dia duduk melipat kaki dan mengalunginya dengan lengan. Dia tatap arah dapur yang sunyi dengan bersandar pintu.

Di lantai tengah ruangan, mata Kinong yang sudah bengkak tiba-tiba tertarik pada satu bungkusan plastik hitam. Segera ia merangkak mendekati bungkusan itu. Dengan kibasan ke arah mata dan hidung yang berair, jemari Kinong mulai memeriksa dan membuka. Sedikit basah tapi terasa hangat mewangi. Matanya lalu membesar menyaksikan kaldu bakso bercampur merahnya gilingan sambal.

Page 5 of 5
Prev1...45
SummarizeShare235Tweet147
Heri Haliling

Heri Haliling

Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Beliau pengajar di SMAN 2 Jorong. Heri Haliling selain mengajar juga aktif menulis baik cerpen atau novel dalam aplikasi GWP atau Kwikku. Beberapa karyanya yang telah terbit antara lain: 1. Novlet Rumah Remah Remang, 2024 (J-Maestro). 2. Novel Perempuan Penjemput Subuh, menjadi juara 2 Sayembara Menulis Novel Guru dan Dosen Tahun 2024 (PT Aksara Pustaka Media). 3. Beberapa cerpennya telah termuat dalam media cetak dan digital seperti Balipolitika, Radar Utara, Radar NTT, Negeri Kertas.com, Kaltim Post, Kompasiana, dan Republika

Related Posts

de887664-5703-4ea3-b536-ece938504d8e
Pendidikan

Semua Guru itu Teladan

April 3, 2026
IMG_0596
Esai

Jendela Istana Hamatisa

April 3, 2026
IMG_0588
Artikel

PASIE RAJA: Jejak Darah, Dakwah dan Martabat Perempuan dalam Sejarah Aceh Selatan

April 3, 2026
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a
Artikel

Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran

April 3, 2026
Next Post
Sungai Yang Meminta Kedatangan - IMG 20250220 WA0016 | Jalan-jalan | Potret Online

Manajemen Demokrasi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com