POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mewujudkan Masyarakat Ideal dengan Akhlaqul Karimah

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
February 18, 2025
Kontribusi Umat Islam Terhadap Peradaban Dunia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr.Nurkhalis Mukhtar,Lc,M.A

​“Allahumma kamaa hasanta khalqi fahassin khuluqi”, “ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus bentukku, maka perbaiki akhlakku”. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Mas’ud adalah doa yang selalu Rasulullah saw panjatkan ketika merapikan dirinya.

Sungguh ada pesan yang tersirat bahwa menjadi manusia seutuhnya dengan terus-menerus memperbaiki akhlak dan budi pekerti yang mulia, yang sering dikenal dengan akhlaqul kharimah, yang merupakan akhlak dambaan mukmin sejati.

​Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam magnum oppusnya Mukhtashar Ihya’ Ulumuddin menguraikan secara jelas betapa Akhlaqul karimah merupakan karakter yang melekat pada diri Rasulullah saw. Imam al-Ghazali juga menyebutkan bahwa Rasulullah saw banyak bermunajat dan berdoa.

Di antara doa yang sering Rasul baca ialah permohonan kepada Allah swt agar beliau dianugerahkan akhlak dan adab yang terpuji. Tidak mengherankan ketika ada sahabat yang bertanya mengenai kepribadian Rasulullah, maka ummul mukminin Aisyah menyatakan “akhlak beliau adalah Al-Qur’an”.

​Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjadi panduan untuk berakhlak mulia. Sebagaimana firman Allah swt  dalam an-Nahl ayat 90 “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berlaku adil, berbuat kebaikan, menolong sesama, dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Bahkan ada perintah tegas dalam Al-Qur’an, “bersabarlah atas apapun yang menimpamu, sesungguhnya yang demikan adalah perkara yang agung”. 

Begitu banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan kita untuk berakhlak mulia. Sehingga sebagai pengikut Rasulullah mengimplementasikan akhlakul karimah merupakan keniscayaan.

​Sebagai seorang utusan Allah swt yang membawa pesan rahmatan lil ‘alamin, Rasulullah saw juga menegaskan dalam sabdanya yang masyhur bahwasanya beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti manusia. Secara lebih mendalam, kita bisa menyimpulkan bahwa setiap episode kehidupan yang dilalui oleh Rasulullah saw merupakan perwujudan atas kemuliaan jiwanya, jika Al-Qu’an kata Syeikh Diraz setiap sudutnya berisi cahaya, maka kehidupan Rasulullah saw merupakan cahaya yang menuntut kepada kebahagiaan.

​Pada sebuah kesempatan seorang sahabat meminta wasiat kepada Rasulullah swt, Rasul berpesan dalam sabdanya: “bertakwalah kepada Allah swt di manapun berada, dan ikutkanlah kesalahan dengan kebaikan niscaya dosa akan terhapus, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik”.

Hadits tersebut dikutip oleh Imam Nawawi dalam Syarah Arba’in an-Nawawiyah dengan komentarnya bahwa kata takwa memiliki pemahaman yang menyeluruh, di sana bermakna menjalankan segala perintah Allah swt dan menjauhi segala larangan dari-Nya.

Menjalankan perintah Allah swt dengan makna yang luas adalah menjalankan syariat-Nya dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat, menghubungkan tali silaturahmi dan seluruh kebaikan lainnya. Sedangkan menjauhi larangan-Nya ialah dengan tidak melakukan dosa besar dan menjauhi dosa-dosa kecil.

​Makna “dan ikutkanlah keburukan dengan kebaikan, niscaya dosa akan terhapus”, tentu sebagai manusia yang memiliki kesalahan dan kekhilafan, maka hal yang semestinya dilakukan adalah kembali ke jalan Allah swt dengan memperbanyak istighfar, serta melakukan berbagai kegiatanyang posistif yang bisa dirasakan manfaatnya baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Tentu tidak dinamakan manusia melainkan merupakan tempat lupa dan khilaf, Namun, sebaik-baik orang yang keliru adalah orang yang bertaubat.

📚 Artikel Terkait

Hasniati, S.Pd.I Raih Juara 1 Lomba Cerpen se-Provinsi Aceh pada HAB ke-79

Melangkahlah

Janji Menteri pun Tak Mampu Meluluskan Supriani

Tampilan Tari Pulau Pinang SDN Kuala Baru Disaksikan Tim dari Kemdikbudristek

​Bagian terakhir dari wasiat Rasulullah ialah “berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik”. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, ia pasti melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Maka pola interaksi yang paling baik dan efektif ialah dengan menjaga sikap dan tingkah laku, karena seorang mukmin yang baik, ianya mampu menyelamatkan mukmin lainnya dari lisan dan perkataannya.Sehingga setiap individu bisa menghadirkan kedamaian dan ketentraman dimanapun berada.

​Jika disimpulkan secara lebih khusus pesan penting Rasulullah dalam sabdanya tersebut mengkerucut kepada dua makna penting yang merupakan rahasia dari kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Ketika seseorang mampu membangun hablumminallah dalam bentuk yang istimewa yaitu mewujudkan ketakwaan baik dalam level pribadi, individu masing-masing, maupun keshalihan sosial masyarakat, akan hadir keberkahan dari langit dan bumi. Demikian juga kemampuan manusia membangun pola interaksi dengan manusia lain yang dikenal dengan hablumminannas. Kemampuan membangunhablumminallah dan hablumminannas akan berefek positif kepada al-bi’ah yaitu lingkungan sekitar yang terdiri dari hewan dan tumbuh-tumbuhan.

​Wujudnya interaksi hamblumminallah, habalumminannasdan hablum ma’al bi’ah, akan terbentuk sebuah masyarakat ideal sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Raghib Sirjani dalam magnum oppusnya Maza qaddama al-muslimunaa lil ‘alam. Dalam buku yang terdiri dari dua jilid tebal itu, ia menyebutkan bahwa masyarakat yang dibentuk oleh Rasulullah swt merupakan masyarakat percontohan atau yang disebut dengan masyarakat Ideal.

​Masyarakat Ideal merupakan cita-cita luhur yang ingin diwujudkan oleh masyarakat modern. Karena Masyarakat Ideal merupakan simbol sebuah masyarakat yang memiliki karakteristik dengan berbagai keutamaan dan kelebihan. Mengingat bagi seorang muslim, agama Islam merupakan sumber dari inspirasi kehidupan, dan panduan untuk mewujudkan kebahagiaan kehidupan di dunia dan akhirat. Jika pun ada Negara yang telah mencapai titik kemajuan atau kemodrenan dalam level tertentu, Belum tentu mereka layak dikatakan sebagai masyarakat ideal. 

Masyarakat ideal memiliki beberapa karakteristik khusus, apabila sebuah masyarakat memiliki karakteristik tersebut baru bisa disebut dengan masyarakat ideal. Namun sebaliknya jika tidak memiliki karakteristik tersebut maka masyarakat itu tidak bisa sama sekali disebut dengan masyarakat ideal. Barangkali hanya disebut dengan masyarakat maju atau masyarakat modernsaja. 

Begitupun masyarakat yang membolehkan penduduknya untuk melakukan pergaulan bebas, perzinahan dengan landasan suka sama suka, menyerang negara lain dan membunuh anak-anak dan para wanita yang tak berdoasa hanya untuk mengeruk hasil bumi negara lainnya, sungguh mustahil bisa disebut masyarakat ideal. Sebuah masyarakat yang suka menciptakan konflik, dan suka melabelkan teroris kepada negara lainnya, juga tidak bisa sama sekali disebut masyarakat ideal. 

Dari beberapa pernyataan di atas menyampaikan kita pada satu pertanyan penting yang menjadi pintu masuk untuk menguraikan karakter masyarakat ideal. Pertanyaannya adalah bagaimana yang dimaksud dengan masyarakat ideal?. Masyarkat ideal mememiliki beberapa ciri khusus di antaranya; pertama adalah terwujudnya keterikatan erat antara seorang hamba dengan Allah sebagai pencipta.

Karakteristik pertama sering disebut juga dengan hablumminallah. Adanya keterikatan hamba dengan Tuhannya bermakna ia memiliki ilmu tauhid, ilmu yang menuntun seorang hamba untuk mengenal Allah dan mendekatkan diri dengan Allah. Sehingga setiap perbuatan yang dilakukan hamba merupakan wujud penghambaannya kepada Allah. Jadi masyarakat modern yang terdapat di dunia hari ini sehebat apapun kecanggihan yang dimiliki, bahkan bila mereka telah mampu untuk tinggal dan hidup di planet lainnya, belum bisa disebut ideal bila belum mengenal siapa pencipta mereka. 

Adapun karakteristik yang kedua ditandai dengan adanya kaitan yang erat antara manusia dengan manusia lainnya yang disebut pula dengan hablumminannas. Keterikatan erat antara setiap individu manusia dibangun atas landasan persaudaraan, tidak menumpahkan darah, merusak harta dan kehormatan manusia lainnya. Membangun rasa saling menghormati atas dasar kemanusiaan, karena kemajemukan manusia merupakan sunnatullah untuk saling mengenal dan bersaudara. Bahkan barometer kelebihan terdapat pada unsur ketaqwaan. Taqwa dalam arti takut kepada pencipta yang telah menciptakan manusia dengan kasih-sayang, sehingga menumbuhkan sikap kehati-hatian pada diri seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia untuk tidak melakukan kerusakan di atas bumi. 

Hamba tersebut menyadari bahwa ia diciptakan oleh Allah untuk menebar kasih-sayang, memakmurkan bumi, tidak membuat kerusakan, dan menjadi khalifah di permukaan bumi. Jadi karakteristik masyarakat ideal tidak bisa terlepas dari poin kedua ini yaitu wujudnya hubungan baik antara sesama manusia, dengan tidak melihat kepada warna kulit, suku, bangsa, bahkan umat Islam diperintahkan untuk menebarkan kasih sayang bagi semesta alam.

Karakteristik lainnya adalah hubungan yang erat dengan alam sekitar. Alam sekitar tentu di sana ada hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Semua makhluk hidup semestinya dijaga oleh mereka yang ingin mewujudkan masyarakat ideal. Hewan misalnya sebagai makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia dan menjadi makanan bagi manusia yang telah Allah tundukkan bagi manusia, ada perintahuntuk tidak semena-mena terhadap hewan. Tidak boleh menyakiti hewan, mematikannya tanpa alasan yang benar. 

Bahkan Islam berpesan agar memberi kenyamanan kepada hewan ketika disembelih dengan pisau yang tajam. Ada hewan-hewan yang dibolehkan oleh Islam untuk dikonsumsi dan dihalalkan. Dalam proses pemanfaatannya pun dengan cara yang baik dan semestinya. Adapun hewan yang tidak dibolehkan dikonsumsi oleh manusia pun tidak boleh semena-mena. Bukan hanya hewan yang diperlakukan dengan baik, bahkan tumbuhan yang merupakan makhluk hidup yang tidak bergerak harus dijaga. Islam mengaharamkan pengikutnya untuk membuang kotoran di bawah pohon yang sedang berbuah, tidak dibolehkan memotong pepohonan dengan sesuka hati. 

Bahkan terjadinya musibah banjir dan tanah longsor disebabkan karena manusia tidak menjaga keseimbangaan yang menyebabkan munculnya kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. Menjaga ekosistem hutan dan tumbuh-tumbuhan merupakan perbuatan mulia, bahkan bila pun terjadi kiamat besok maka dalam riwayat dianjurkan tanaman yang sudah ada di tangan seseorang untuk ditanam. Islam mengajarkan kepada pengikutnya untuk menjaga dan mewujudkan keseimbangan ekosistem baik hewan mauppun tumbuh-tumbuhan.

Tiga karakteristik di atas merupakan syarat mutlak dan merupakan barometer atau ukuran untuk mengukur sebuah masyarakat bisa disebut dengan ideal ataupun tidak. Jadi jelas betapa tiga poin tersebut mesti adanya saling keterikatan antara satu dan lainnya, pemahaman yang universal dan menyeluruh akan menjadikan penilaian yang dilakukan akan lebih tepat sasaran, sehingga hasilnya pun akan lebih mendekati kepada kebenaran yang sepatutnya. Yang anehnya adalah bagaimana sebuah negara yang tidak mengenal Allah dengan baik bisa disebut masyarakat ideal?, padahal karakteristik pertama saja sudah tidak terpenuhi. 

Masyarakat ideal yang beberapa abad lalu pernah dicetuskan oleh Rasulullah saw merupakan masyarakat yang telah mampu mewujudkan tiga hal yang telah disebutkan di atas. Dan secara tegas kita nyatakan bahwa kita belum menemukan masyarakat yang sama dengan mereka dan mampu mentransfer nilai kebaikan seperti yang mereka lakukan untuk kita yaitu cahaya Islam yang sampai ke negeri kita.

Karakteristik yang telah disebutkan di atas merupakan teori normatif yang membutuhkan aplikasi dari individu muslim dalam tatanan kehidupan sehari-hari. Jika mampu menerapkan resep-resep tersebut, maka diharapkan anugerah masyarakat ideal akan terwujud,yang merupakan harapan kita semua. Dengan akhlaqul karimah kita mampu menghadapi berbagai persoalan dan perbedaan yang terjadi dalam beragama dan bernegara. Sebesar apapun persoalan yang dihadapi tidak akan mampu menggoyahkan umat Islam, jika umat Islam mampu mengedepankan kebeningan hati dalam melihat persoalan yang dihadapi.

Kehadiran umat Islam dalam wujud masyarakat ideal yang berakhlaqul karimah diharapkan membawa perubahan bagi umat manusia. Umat Islam harus siap menjadi pelopor dari setiap kebaikan. Sebagaimana Islam adalah agama yang memberi solusi, dan Rasulullah adalah figur pembawa solusi, maka sepatutnya umat Islam adalah pembawa pencerahan, menjadi pembawa rahmat bagi semesta alam, sumber inspiratif, berkontribusi positif bagi kemanusiaan, dan membimbing manusia mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga!.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Danantara, Harapan Baru Indonesia

Danantara, Harapan Baru Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00