POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Danantara, Harapan Baru Indonesia

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 18, 2025
in Essay, Politik
0
Danantara, Harapan Baru Indonesia - 829660fa 375a 4599 98aa 88dabd335966 | Essay | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Kemarin mahasiswa demo. Alasannya, Indonesia Gelap. Lalu, dibalas pemerintah dengan harapan baru, Danantara. “Ape bende age tu, Bang?” tanya budak Pontianak. Sambil menikmati kopi tubruk tanpa gula, yok kita bahas Danantara yang banyak dipesan follower saya.

Indonesia tidak pernah kekurangan mimpi besar. Kita pernah bermimpi punya mobil nasional, tapi berakhir jadi bahan meme. Kita pernah bercita-cita jadi lumbung pangan dunia, tapi malah sibuk impor beras. Kita pernah janji setop utang, tapi utang terus bertambah. Tapi, tenang. Kini hadir Danantara, cahaya baru di ujung terowongan ekonomi. Harapan baru di tengah efisiensi anggaran.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    Menilik Eksistensi Seni Tradisional Dari Perspektif Milenial di Aceh
    16 Apr 2021
  • Danantara, Harapan Baru Indonesia - 1000496063_11zon | Essay | Potret Online
    # Kebijakan Trump
    Nilai Prabowo
    12 Apr 2025

Nama lengkapnya, Daya Anagata Nusantara. Artinya? “Energi Masa Depan Indonesia.” Ini bukan sekadar nama, ini mantra sakti. Sebuah janji bahwa Indonesia akan melesat ke masa depan dengan kekuatan baru. Presiden Prabowo Subianto siap meluncurkannya pada 24 Februari 2025. Katanya, ini akan menjadi lembaga pengelola investasi terbesar yang pernah dimiliki negeri ini. Sebanding dengan Temasek di Singapura, Khazanah di Malaysia. Luar biasa, wak!

Tapi, sejarah mengajarkan kita satu hal, mimpi besar sering kali berakhir sebagai patung proyek mangkrak. Danantara berjanji akan mengelola kekayaan negara, mengoptimalkan aset, dan membawa Indonesia ke puncak kejayaan ekonomi. Persis seperti kisah-kisah sukses dalam buku-buku ekonomi. Tapi kenyataan sering kali lebih keras dari halaman buku.

Baca Juga
  • Danantara, Harapan Baru Indonesia - IMG_1811 | Essay | Potret Online
    Aceh
    Abu MUDI vs Abu Paya Pasi
    22 Nov 2024
  • Retno Nurhayati Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Surakarta   
    Artikel
    Kontibusi Pemuda Melestarikan Bahasa Indonesia
    30 Okt 2021

Modal awalnya? US$20 miliar. Jangan salah. Ini bukan uang yang jatuh dari langit. Ini hasil dari pemotongan anggaran negara dan dividen BUMN. Dalam bahasa sederhana, duit rakyat dan keuntungan perusahaan pelat merah akan disalurkan ke sini. Sebuah pengorbanan besar demi masa depan yang katanya lebih cerah.

Danantara akan membiayai 15 megaproyek bernilai miliaran dolar. Proyek-proyek strategis yang, jika berhasil, akan membawa Indonesia ke level baru dalam perekonomian global. Energi terbarukan, industri canggih, manufaktur, produksi pangan, semua sektor penting akan disentuh. Visi ini begitu sempurna. Terlalu sempurna, bahkan.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    5 Alasan Pentingnya Menjaga Rekomendasi
    01 Des 2021
  • Danantara, Harapan Baru Indonesia - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Essay | Potret Online
    Aceh
    Bangsa Tanpa Negara?
    22 Nov 2025

Tapi pertanyaannya, apa bedanya Danantara dengan BUMN yang sudah ada? Bukankah kita sudah punya ratusan BUMN yang tugasnya juga mengelola aset negara? Jawabannya sederhana, Danantara bukan sekadar BUMN. Ini adalah superholding. Bayangkan semua BUMN yang ada dikendalikan oleh satu tangan besar. Sentralisasi total. Satu komando, satu kekuatan, satu mimpi besar.

Tapi sejarah juga mengajarkan bahwa ketika kekuasaan terlalu terpusat, risiko semakin tinggi. Apakah ini akan menciptakan efisiensi atau justru memperlambat segalanya dengan birokrasi? Apakah ini akan melahirkan kejayaan atau malah membuka ruang lebih besar bagi kepentingan politik? Apakah ini akan membawa keuntungan bagi rakyat atau hanya jadi ladang baru bagi oligarki?

Kritik mulai berdatangan. Transparansi dan akuntabilitas jadi pertanyaan. Dasar hukum pembentukannya dipertanyakan. Kekhawatiran akan politisasi semakin nyaring. Tapi pemerintah tetap percaya diri. Seperti biasa, rakyat diminta untuk percaya dulu. Bersabar dulu. Memberi kesempatan dulu. Sabar ya, wak!

Sejarah akan mencatat. Apakah Danantara akan menjadi mercusuar ekonomi Indonesia, atau sekadar proyek ambisius yang akan dikenang sebagai satu lagi eksperimen yang gagal? Akankah ini menjadi awal dari era baru ekonomi Indonesia atau justru jadi pengulangan kisah lama yang sudah sering kita lihat?

Satu hal yang pasti, saat ini, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu. Berharap. Atau, jika ingin lebih realistis, mempersiapkan mental untuk kejutan-kejutan berikutnya.

“Coretax biayanya 1,2 triliun. Sedangkan Deepseek yang menggucang dunia hanya 97,8 miliar. Gimana tu, Bang?” tanya Matasam teman ngopi di Kafe Joss Mora Jl Wahidin Pontianak.

“Ente ni, kite ngomong Danantara, malah nanya Coretax. Ancore.”

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Mewujudkan Masyarakat Ideal dengan Akhlaqul Karimah

Next Post

Rabu Abeh dan Terapi Air Laut untuk Kesehatan

Next Post
Danantara, Harapan Baru Indonesia - 79635F49 C90C 4BD9 884F 8773B3458C9D | Essay | Potret Online

Rabu Abeh dan Terapi Air Laut untuk Kesehatan

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah