• Latest

Guru Berkarakter untuk Pendidikan Berkarakter

November 24, 2016
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Guru Berkarakter untuk Pendidikan Berkarakter

Redaksi by Redaksi
November 24, 2016
in Bingkai, Edukasi, Literasi, Menulis, Pendidikan, Sorotan
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Oleh : Mira Pasolong
Kemerosotan moral generasi muda bangsa kita sudah berada pada titik yang sangat memprihatinkan. Setiap hari kita mendengar berita tentang siswa yang tawuran, ikut balapan liar, mabuk- mabukan, mengkonsumsi narkoba ataupun hamil di luar nikah dan kemudian aborsi. Hal yang sangat jarang terjadi di beberapa dekade sebelumnya.
Masyarakat kemudian menuding dunia pendidikan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Tidak salah memang. Namun harus pula diingat bahwa mencetak generasi pelanjut yang mumpuni adalah tugas kita semua. Orang tua di rumah bertanggungjawab terhadap segala aktifitas anaknya, media massa terutama media elektronik bertanggujawab terhadap sajian tontonan yang diberikan dan sebagainya.
Bagaimana dengan peran guru? Guru, sebagai orang tua ke dua (setelah ayah ibu di rumah) tentu saja memegang peranan penting terhadap penyelamatan moral bangsa ini. Karena itu hal pertama yang harus dimiliki guru untuk melakukan peran itu dengan sebaik- baiknya adalah menjadi guru yang memiliki moralitas yang patut diteladani. Guru harus memiliki karakter seorang pendidik yang bisa digugu dan ditiru.
Sebagai teladan, guru harus senantiasa memiliki karakter terpuji yang bisa menginspirasi anak didik untuk lebih baik. Mirisnya, sekarang ini, di samping berita negatif tentang anak usia sekolah, berita negatif yang nyaris sama juga sering terdengar menimpa pendidik, misalnya seorang guru yang dijebloskan ke penjara karena terbukti bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap anak didiknya. Tentu saja hal ini merupakan duri dunia pendidikan yang harus disingkirkan.
Pengaplikasian pendidikan berkarakter yang belakangan ini sedang digalakkan haruslah dimulai dari pribadi pendidik itu sendiri, sebagai orang yang berinteraksi langsung dengan anak didik. Tidaklah cukup hanya menuliskan dengan terstruktur pendidikan karakter dalam kurikulum. Kurikulum barulah merupakan tataran konsep. Pengejawantahannya berada di tangan pihak sekolah, terutama guru. Untuk itu, maka sebelum mengajar anak didik dengan menggunakan kurikulum, silabus, ataupun RPP dengan embel- embel karakter, maka seorang guru haruslah juga berkarakter.
Lantas bagaimanakah guru yang berkarakter itu? Yang pasti seorang guru haruslah memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional. Dengan empat kompetensi itu, guru tidaklah cukup hanya pintar mengajar di kelas (pedagogik dan professional). Lebih dari itu guru haruslah mampu bersosialisasi, baik dengan seluruh elemen sekolah, maupun lingkungan sekitar (kompetensi sosial). Dan yang tak kalah pentingnya adalah guru harus mempunyai kepribadian yang baik (kompetensi kepribadian). Dalam tulisan ini Penulis akan mengulas tentang kompetensi kepribadian, sebagai kompetensi terpenting dalam mewujudkan pendidikan berkarakter.
Guru adalah teladan. Kalimat ini mungkin sudah sering kita dengar. Keteladanan ini tentu saja berkaitan dengan karakter- karakter terpuji. Seorang guru yang berkarakter harus memiliki sifat- sifat yang terpuji; religious, jujur, bertanggungjawab, disiplin, penuh kasih sayang, sopan, menghargai, tenggang rasa, percaya diri dan berjiwa besar. Nilai- nilai positif dari sifat tersebutlah yang kemudian ditularkan kepada anak didik. Tidak perlu menjelaskan satu per satu sifat tersebut. Anak didik, sebagaimana lazimnya anak- anak, hanya butuh teladan. Maka ketika guru memiliki karakter tersebut di atas, anak didik , pelan namun pasti, akan bisa pula memiliki karakter tersebut. Sebaliknya, jika guru tidak memiliki karakter terpuji, maka akan sangat susah untuk bisa menerapkan pendidikan karakter tersebut.
Seyogyanyalah, kita, sebagai pendidik, memperlakukan anak didik dengan adil. Dalam hal aturan sekolah misalnya, ketika anak didik diharuskan datang tepat waktu dan mendapatkan hukuman jika terlambat, maka gurupun harus seperti itu. Ketika anak didik tidak diperbolehkan merokok di lingkungan sekolah, maka seyogyanya pulalah tak ada guru yang melakukannya. Hal- hal seperti inilah, yang ketika bisa kita aplikasikan, maka akan berpengaruh terhadap karakter peserta didik.
Tidaklah zamannya lagi guru memperlihatkan kekerasan terhadap anak didik. Cukuplah kekerasan yang dengan leluasa bisa disaksikan di media elektronik merusak mental mereka. Marilah kita, para guru, mendidik mereka dengan kasih sayang, menegur dengan senyum ketika mereka bersalah, memeluk dengan lembut ketika mereka bersedih, dan memuji dengan tulus ketika mereka berprestasi. Inilah salah satu cara, dari sekian banyak, cara untuk menumbuhkan karakter mulia dalam diri anak didik. Jika guru sudah mampu mendidik dengan hati, dan bukan mengajar hanya menggunakan otak, maka penerapan pendidikan berkarakter tidaklah hanya akan menjadi sekedar rumusan di atas kertas.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Perempuan di Titik Klimaks

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com