Dengarkan Artikel
Oleh Afridal Dharmi
Persahabatan sejati tak selalu lahir dari perjuangan berat atau janji setia. Terkadang, ia tumbuh di bawah panji-panji kebesaran… nira segar! Begitulah persahabatan antara Abi dan putrinya, Yasmina. Mereka bukan hanya ayah dan anak, tetapi juga rekan seperjuangan dalam menikmati manisnya nira setiap sore, dengan gaya out of the world.
Sore itu, Montasik begitu damai. Sawah hijau membentang luas. Langit biru cerah tanpa awan, angin sepoi-sepoi berembus menyejukkan, meskipun matahari masih bersinar terik. Cuaca yang sempurna untuk menikmati segelas nira segar dengan es batu yang berkilauan di dalamnya.
Dan di manakah di dunia yang terbentang luas ini ada nira ijuk yang lebih baik daripada Ie Jok Montasik? Tidak, tidak ada. Sebuah fakta bagi Abi dan Yasmina yang diyakini. “Bahkan kaphe Belanda aja tahu”, argumen Abi kalau ditanya bukti superiornya nira Montasik ini.
Seperti biasa, mereka duduk di teras rumah, masing-masing memegang gelas berisi nira segar yang baru dibeli dari Bang Surya, penjual nira langganan. Meneguknya pelan-pelan, meresapi sejuk segar, manis dan sedikit asamnya yang khas.
Dari samping rumah muncul Harun membimbing sepedanya dari garasi melewati mereka. Ia bersiap berangkat ke meunasah untuk belajar mengaji.
“Bro…! Nggak usah pergi ngaji. Sini aja gabung parte sama kita-kita” rayu Abi menjalankan perannya sebagai Devil’s Advocat. “Panas-panas begini enak sekali minum nira dengan es. Untuk apa pergi ngaji?” Abi mengacungkan gelasnya.
Butiran es kristal dalam air nira yang berkabut. Titik-titik embun yang menetes di permukaan gelas. Betul-betul godaan yang berat.
Yasmina tak berkata-kata. Tapi rayuannya tak kalah maut. Ia mengangkat gelasnya lalu menyeruput keras-keras dan “Aaaahhh…” dengan mata terpejam.
Harun nyengir. Dia tahu jebakan batmen ini. Kalau sampai sampai tergoda dan batal pergi ngaji karena ajakan itu, dia akan terus menerus kena “love bullying”, kalau istilah kakak-kakaknya. Dikatai lemah iman lah, nggak ada semangat bushido lah, takluk di bawah rayuan duniawilah, dan segala macam tuduhan absurd lainnya yang biasa muncul dari mulut seorang mubaligh yang kadang terlalu pintar itu.
Dengan mengucapkan bismillah keras-keras menolak “godaan duniawi itu”, Harun mengayuh sepedanya ke meunasah di tengah kampung. Kak Sophie tergelak-gelak sambil mengacungkan dua jempolnya ke arah adik bungsunya itu. Abi juga tersenyum antara bangga dan geli Harun lulus ujian “titian serambut dibelah tujuh”nya.
Yasmina memberi penghormatan ke arah Harun dengan mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, menggoyangkannya hingga es batu berdenting seperti lonceng kecil.
“Abi… ada sesuatu dalam nira ini yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata,” ujarnya dramatis. “Kelembutannya membelai lidah, keasamannya memberi kejutan, dan manisnya… ah, manisnya seperti janji indah yang nyaris terlupakan.”
Abi mengangguk penuh wibawa, lalu menyeruput niranya dengan gaya aristokrat. “Luar biasa, Min! Analisis yang mendalam. Abi bahkan merasa nira ini… lebih dewasa dari kita!”
Di sudut teras, Kak Sophie, yang sudah sejak tadi duduk santai dengan gelas nira di tangannya hanya tergelak melihat tingkah laku mereka. Ia memang suka nira, tapi enggan ikut dalam drama berlebihan yang selalu dimainkan oleh Abi dan Yasmina. Ia hanya duduk menikmati nira sambil tertawa melihat aksi mereka.
Tiba-tiba, Ummi muncul dari dalam rumah dengan tampah berisi kerupuk yang baru dijemur. Begitu melihat kelakuan suami dan anaknya, ia mengerutkan dahi.
“Apa-apaan ini?”
Abi menoleh dengan ekspresi penuh misteri, lalu menepuk pundak Yasmina.
“Kita ketahuan, Min!” bisiknya.
Yasmina paham kode. Dia buru-buru menaruh gelasnya, lalu menutup mulut dengan tangan, pura-pura menahan sendawa. “Ups…Eh, ada Ummi! Kok Ummi tampak jadi dua?Duduklah Ummi, dua-duanya. Ayuk minum-minum sama kita”. Kak Sophie tergelak lagi mendengar ucapan yang sangat stereotip humor orang mabuk itu.
📚 Artikel Terkait
Ummi langsung menyipitkan mata.
Kak Sophie tertawa lebih keras, hampir tersedak niranya sendiri. “Tenang, Mi. Mereka cuma akting, kayak biasa.”
Dengan gerakan teatrikal, Abi meraih gelasnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Ini, Mi! Minuman terlarang yang hanya bisa ditemukan di Montasik ini… yaitu NIRA SEGAR! Tanpa alkohol, tapi efeknya lebih dahsyat dari imajinasi!”
Ummi mendekat dan mencium aroma dari gelas Yasmina, lalumendecak kesal. Abi menatap Yasmina dengan mata berbinar. “Min, aku rasa kita harus mengajak Ummi ikut ritual ini.”
Ummi menolak mentah-mentah. “Tidak usah! Aku sudah sering minum nira sejak kecil, tapi tidak pernah bertingkah aneh seperti kalian!”
Abi menghela napas kecewa. “Sayang sekali, Mi. Sepertinya Ummi belum tercerahkan oleh kebesaran nira.”
Yasmina menyeringai. “Tapi mungkin… kita bisa beri Ummi pengalaman pertama yang mengesankan?”
Abi menangkap maksud Yasmina dan langsung menyiapkan skenario baru.
Dengan cepat, ia menuangkan sedikit nira ke gelas kosong dan menyerahkannya ke Ummi. “Coba ini, Mi. Tapi hati-hati… efeknya bisa langsung terasa.”
Kak Sophie terkekeh. “Efek apa? Jadi makin pusing ngurusin kalian berdua?” Ummi memutar bola matanya. Itu saja pun sebenarnya sudah teatrikal. Namun, karena penasaran, akhirnya Ummi menerima gelas itu dan menyeruput sedikit. Saat ia hendak meletakkan gelasnya, Abi dan Yasmina langsung bertepuk tangan.
Abi langsung menepuk bahu Ummi. “Nah, sekarang katakan sesuatu yang dramatis tentang nira itu. Apa pun!”
“Apa sih?! Ummi mau minum biasa saja. Nggak mau ikut drama-dramaan!”
“Oh tidak bisa, Mi!” kata Abi. “Di klub ini, setiap orang harus mengungkapkan perasaannya setelah menyeruput nira! Itu aturannya!”
“Astaghfirullah, Abi! Yasmina! Kalian ini ya…! Kalau tetangga lihat, nanti dikira kita sekeluarga lupa daratan semua…!”
Abi mengusap dagunya sambil tersenyum jahil. “Hmm… ide bagus juga ya, Mi! Gimana kalau kita buka kedai ‘Nira Kebahagiaan’? Slogan kita: Mabuk kebahagiaan, Biarkan daratan yang lupakan kita!“
Yasmina tertawa keras. Ummi menutup wajahnya dengan tangan sambil menghela napas Panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya Allah… aku baru sadar, aku tinggal dengan dua orang yang sudah kelewatan dalam urusan per-niraan.” Eee… ternyata Ummi udah ikutan teatrikal juga, ha…
Abi menyesap niranya lagi dengan ekspresi sok puitis. “Ah, Mi, nira ini adalah seni. Harus dinikmati dengan penuh perasaan. Kalau hanya diminum biasa, rasanya tak seindah yang seharusnya.” Abi menatap Yasmina dengan mata berbinar seakan sebuah ide muncul di kepalanya. “Min, Abi rasa kita harus mengajak Ummi ikut ritual ini, barulah Ummi paham maksud kita.”
Yasmina mengangguk penuh semangat. “Setuju! Ummi harus merasakan sendiri kedahsyatan nira segar. Lihat nih!” Yasmina mengambil gelasnya, lalu dengan anggun menyesap selapis tipis permukaan nira di gelasnya dengan gaya seperti Marlon Brando sebagai Don Vito Corleone dalam the Godfather.
“Hmm… yang ini lebih tajam di ujung lidah. Mungkin karena cuaca hari ini lebih berangin?” ujarnya. Kak Sophie tergelak lagi, ia tahu adiknya sedang meniru tante Lidya, rekan kerja Abi yang memang orang Italia asli. Tante Lidya tidak bisa menghilangkan nada bicara Italianya yang mengalun-alun walau berbicara Bahasa Indonesia.
Abi menggeleng. “Tidak, tidak…, Min. Ini bukan soal angin, tapi soal emosi! Saat seseorang sedang bahagia, nira terasa lebih manis. Saat sedang galau, ada sedikit rasa asam di ujungnya.”
Kak Sophie kembali tergelak. “Ya ampun, kalian benar-benar penikmat nira paling dramatis di dunia.”
Abi tersenyum, lalu berkata lebih pelan, kali ini dengan nada renungan. “Tapi, Min… kau tahu? Hidup itu seperti nira. Kadang manis, kadang asam. Kadang dingin menyegarkan di hari panas, jadi nggak nyambung kalau kebetulan harinya lagi hujan. Tapi apa pun rasanya, kita tetap meneguknya, karena di situlah letak kenikmatannya.”
Yasmina terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Seperti hari-hari kita, ya, Bi? Ada yang penuh tawa, ada yang penuh air mata. Tapi selama kita bersama, rasanya tetap bisa dinikmati.”
Ummi yang tadinya ingin protes tiba-tiba ikut terdiam. Ada sesuatu dalam kata-kata Abi yang menusuk hatinya. Kadang, dalam kesederhanaan, ada kebahagiaan yang sering kali luput disyukuri.
Abi menatap Ummi dengan senyum lembut. “Mi, mungkin kita tidak punya banyak harta, tapi kita punya ini… sore yang damai, segelas nira, dan keluarga yang selalu ada. Itu lebih dari cukup.”
Yasmina hanya diam dengana takzim. Ummi juga terdiam dengan mata menerawang. Kak Sophie tersenyum tipis. “Nah, ini Kakak jadi bingung, ini ngomong serius, atau semua drama ini.”
Ummi menyesap niranya perlahan. Kali ini, ia tidak lagi mengomel, tidak lagi merasa kesal. Ia hanya duduk, menikmati kebersamaan ini.
Yasmina tersenyum dan menatap Abi. “Jadi, Bi… kapan kita buka kedai ‘Nira Kebahagiaan’?”
Abi terkekeh. “Sabar, Min. Kita harus mencari menu makanan dan merancang nama makanan yang juga dramatis dulu!”
Dan begitulah, sore mereka kembali dipenuhi tawa, ditemani segelas nira segar yang kini bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga simbol kebersamaan yang berharga, membawa keceriaan kedalam rumah mereka dan sedikit pening kepala bagi Ummi, sementara Kak Sophie terus menikmati niranya tanpa perlu ikut-ikutan drama.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






