Dengarkan Artikel
POTRET – “Jika badai menimpa pondok itu dan hujan salju turun, itulah saat yang tepat untuk berfilsafat” ( Martin Heidegger)
Senin sore di tanggal 20-01-2025, ide ini muncul ketika membaca sebuah tulisan Azharsyah Ibrahim di Potretonline. Tulisan berjudul “Pembelian impulsif godaan era digital “. Ini terjadi di era kita saat ini. Poin penting yang dapat saya simpulkan dari tulisan tersebut adalah:”bagaimana perilaku konsumtif manusia di era digital, segala fasilitas dan kemuduhan sudah tersedia dengan sangat instan”.
Maka dengan itu, setiap keputusan,hendaknya diawali dengan pertanyaan filsafat, seperti “Mengapa?” dan begitu juga ketika kita belajar filsafat. Kita akan memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, apa itu filsafat? Mengapa kita harus mempelajari filsafat? Jika kita tidak mempelajarinya adakah yang salah?
Dalam pola hidup masyarakat kita saat ini, kita dapat melihat fenomena bagaimana manusia sangat antusias dalam mengejar kebahagian yang sangat instan. Perilaku ini tidak hanya dalam urusan personal, tetapi sudah terjangkit dalam wilayah sosial, politik dan ekonomi.
Related Postingan
Dalam pemilihan isme-isme, sebagian kelompok memilih sosialisme, kapitalisme, nasionalisme, demokrasi dan lain-lain, dengan harapan dapat menyelesaikan problema keseharian yang mereka hadapi.
Namun apa yang kita saksikan saat ini, dalam sistem masyarakat yang katanya demokrasi itu, kami di kalangan rakyat jelata, dipelihara untuk mengais uang receh yang mereka tabur saat-saat momen kampanye.
Serigala yang bebaju domba itu, tampil di muka umum menyampaikan visi misi (seolah) mulia. Ketika kursi itu dijalankan, kami berjalan di atas pusaran laut yang permukaan airnya biru dan di atasnya tampak tenang indah jika dipandang.
Namun demikian, semua dari kami yang melintasinya setiap dari kami akan ditarik dan ditengelamkan ke dasarnya, hingga dimunculkan kembali saat mereka membutuhkannya lagi.
📚 Artikel Terkait
Bukankah yang demikian itu telah membawa kita terjatuh dalam keadaan dekadensi moral, baik dalam bentuk apa yang mereka makan, ataupun dalam bentuk (ide), seperti makan siang gratis, dan bantuan langsung tunai (BLT)?
Masyarakat pada zaman ini tidak lagi memproteksi dirinya dengan kalimat “mengapa?” akan tetapi mereka langsung menerima dan menelannya,
Dalam menjawab seluruh pertanyaan tersebut dibutuhkan pemikiran dan perenungan filosofis melalui akal manusia. Para pemikir Islam menyebut persoalan tersebut sebagai ‘Ushûluddîn’ atau prinsip-prinsip agama.
Mereka mempertanyakan “Apakah awal dari segala sesuatu?” dan “Apakah akhir dari perbuatan ini?” Adalah cara manusia dalam mengeksekusikan permasalahannya dengan pisau filsafat.
Dalam hal ini kita harus berpijak pada panduan umat manusia, yaitu Al-Quran. Allah berfirman “hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari laki dan perempuan; dan kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kumu dapat saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa diatara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui maha teliti (Al-Hujarat:13)
Dalam surat al-Mujadilah juga diterangkan bahwa sang pencipta akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.
Adapun mengenai kepada para utusan-Nya, itu hanya-lah semiotik dari suri teladan akhlak yang bisa ditiru sesuai konteks zamannya, dan kemampuan individu manusia dalam menjalankan kehidupanya, bukan kebalikan mengkultuskannya.
Dalam hubungan sesama manusia, Nabi Muhammad memberi perumpamaan sebagai berikut. “Sekelompok orang naik sebuah kapal. Kapal berlayar mengarungi lautan. Setiap penumpang duduk di tempatnya masing-masing.
Salah seorang penumpang yang beralasan bahwa tempat duduknya adalah khusus miliknya, segera melubangi tempat duduknya. Sekiranya penumpang yang lain buru-buru menghalangi perbuatannya, mereka tidak saja akan menyelamatkan diri mereka, tetapi juga menyelamatkannya. Aku berfilsafat maka aku waras!.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











