Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Dari kecil kita selalu diajarkan hormat dan menghargai orang lain. Ternyata, orang Korea lebih jago dalam menghargai orang lain. Sebagai contoh, Megawati Hangestri Pertiwi dibuatkan acara spesial, Mega’s Day. Luar biasa. Kalau saya di sana pasti dibuatkan juga “Camanewak’s Day” Ngarap…! Sambil ngopi usai acara yasinan, yok kita bahas kehebohan orang Korea menyiapkan acara Mega’s Day.
Di negeri ginseng, ada hari spesial bernama Mega’s Day. Jangan salah, ini bukan perayaan diskon belanja besar-besaran. Ini penghargaan luar biasa untuk seorang atlet voli Indonesia asal Jember, Megawati. Ia seperti membawa sinar terang bagi klub Red Sparks. Sebuah penghormatan epik yang membuat kita, di sini, tertegun dalam keheningan.
Coba bayangkan, wak! Mega dihadiahi hari khusus oleh klubnya, lengkap dengan acara besar, penerjemah untuk fans Indonesia. Bahkan, pengalaman budaya Korea. Fans Indonesia diundang secara resmi, 200 orang diajak nonton langsung, dan Duta Besar kita akan hadir. Megawati, seorang atlet luar negeri, diperlakukan seperti pahlawan. Sebuah hal yang mungkin hanya ada di mimpi para atlet kita di negeri sendiri.
Sementara itu, di tanah air tercinta, mari kita bahas seseorang bernama Shin Tae Yong. Sosok dari Korea ini datang ke Indonesia, bersusah payah mengangkat sepak bola kita dari keterpurukan. Dia bukan hanya pelatih, tapi seperti seorang petani di ladang kering. Menanam benih, menyiram harapan, hingga akhirnya buahnya mulai terlihat.
Namun, bagaimana kita memperlakukannya? Alih-alih memberikan penghargaan, kita malah memberinya sebuah perpisahan penuh drama, pemecatan. Seolah-olah STY adalah aktor utama dalam sinetron yang episode akhirnya selalu menyedihkan. Kalau penghargaan Korea untuk Mega adalah Mega’s Day, penghargaan kita untuk Shin adalah Bye’s Day. Epik, bukan?
PSSI, organisasi tercinta yang katanya “untuk sepak bola Indonesia,” mungkin perlu belajar dari Red Sparks. Menghargai itu tidak butuh banyak teori. Mereka tidak perlu membentuk komite atau rapat berjilid-jilid. Mereka tahu apa yang penting, apresiasi nyata.
📚 Artikel Terkait
Coba bayangkan, apa yang terjadi jika STY tetap di sini? Mungkin kita akan melihat generasi emas sepak bola Indonesia yang tidak sekadar viral di TikTok karena gaya rambut, tapi karena skill di lapangan. Namun, PSSI lebih memilih drama, membuang Shin seperti kertas tak berguna, tanpa berpikir dua kali.
Bayangkan jika Shin kembali ke Korea. Suatu hari, media Korea mungkin menulis berita,
“Shin Tae Yong, pelatih yang membawa Indonesia ke Piala Dunia U-20, kini kembali ke tanah air dan melatih klub besar. Korea Selatan menyambutnya dengan Shin’s Day, hari untuk menghormati jasanya di kancah internasional.”
Lalu kita? Hanya bisa menonton dari layar ponsel sambil menyesali keputusan yang terlalu terburu-buru. Mungkin kita akan berkata, “Shin itu pahlawan tanpa tanda jasa.” Ya, benar, tanpa tanda jasa, karena kita bahkan lupa memberinya penghargaan.
Korea memberi kita pelajaran penting, apresiasi itu tidak sulit. Mereka tahu bagaimana menghargai Mega, meski ia bukan warga negara mereka. Mereka memahami bahwa menghormati orang berjasa itu bukan sekadar ucapan, tapi tindakan nyata.
Kapan kita belajar? Mungkin ketika semuanya sudah terlambat, dan kita hanya bisa menjadi pengamat sejarah dari jauh. Atau, kita tetap seperti ini:l, bangsa yang pandai mencampakkan bakat luar biasa dan menggantinya dengan drama tanpa akhir.
Ah, sudahlah. Untuk saat ini, mari kita nikmati Mega’s Day. Setidaknya, ada satu nama Indonesia yang diingat dunia dengan rasa bangga. Semoga satu hari nanti kita punya Shin’s Day. Tapi kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Kita kan sudah biasa begitu.
“Bang, kenapa tak sana, ikut Mega’s Day juga.”
“Pingin sih, cuma Noh Ran belum ada sinyal ni, wak.” Ups
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






