POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pagi yang Cerah di Desa Harmonis

RedaksiOleh Redaksi
January 11, 2025
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETLiterasi
Pagi yang Cerah di Desa Harmonis
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Almira Bellviana Putri
(Pelajar SMPN 3 Cepu Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Di kaki bukit yang hijau, berdirilah sebuah desa kecil bernama Desa Harmonis. Desa ini terkenal dengan kerukunan warganya yang hidup berdampingan meski memiliki latar belakang yang berbeda. Di sana, setiap pagi selalu terasa istimewa, terutama bagi Anakmami’s -anak seperti Rani, Dika, dan Komang.

Pagi itu, sinar matahari menyapu lembut pepohonan, dan burung-burung berkicau ceria di dahan. Rani, seorang anak perempuan yang ceria, melangkah keluar dari rumahnya sambil membawa keranjang kecil berisi kue putu buatan ibunya. Ia berencana membaginya kepada teman-temannya.

“Dika! Komang! Aku membawa kue putu! Kita sarapan bersama di bawah pohon beringin!” seru Rani sambil melambaikan tangan.

Tak lama, Dika, yang tinggal di seberang rumah Rani, keluar sambil membawa beberapa lemper. “Aku juga punya makanan, Rani! Ayo kita makan bersama!” katanya dengan penuh semangat.

Komang, yang tinggal di ujung jalan, muncul dengan senyum lebar. Ia membawa buah pisang dari kebunnya. “Aku punya pisang segar! Ini dari kebun Ayah!” ujarnya sambil berlari kecil menghampiri teman-temannya.

Ketiga anak itu bertemu di bawah pohon beringin yang besar, tempat favorit mereka bermain. Mereka menggelar tikar kecil dan mulai berbagi makanan.

“Aku suka lemper buatan ibumu, Dika! Rasanya enak sekali,” kata Komang sambil menggigit lemper.

“Ibuku bilang, makanan itu lebih nikmat kalau dimakan bersama teman,” jawab Dika sambil tersenyum.

Saat mereka menikmati makanan, suara Pak Hadi, kepala desa, terdengar dari pengeras suara di balai desa. “Perhatian warga Desa Harmonis, hari ini kita akan mengadakan kegiatan gotong royong di lapangan. Mari kita berkumpul setelah sarapan!”

“Wah, kita ikut, ya!” kata Rani.

📚 Artikel Terkait

Manisnya Cerita Keutapang Mameh

St. Sri Emyani: Melodi Kata dari Panggul Trenggalek Menggetarkan Dunia Sastra Jawa

Ijazah Penting

SESAT PIKIR

Ketiganya segera membereskan tikar dan berlari ke lapangan. Di sana, sudah banyak warga yang berkumpul. Ada Pak Hasan, Pak I Made, Bu Clara, dan banyak lagi. Meski berbeda agama, suku, dan budaya, semua warga terlihat kompak.

“Anak-anak, kalian membantu menanam bunga di sekitar lapangan, ya,” kata Pak Hadi.

“Siap, Pak Hadi!” jawab mereka serempak.

Rani, Dika, dan Komang mulai menggali lubang kecil untuk menanam bibit bunga. Mereka bekerja sambil bercanda dan saling membantu. Ketika Dika kesulitan menggali tanah yang keras, Komang langsung membantunya.

“Terima kasih, Komang! Kalau kita saling bantu, pekerjaan jadi lebih mudah,” kata Dika.

“Betul! Seperti kata Ayahku, kerja sama itu kunci keharmonisan,” balas Komang sambil tersenyum.

Setelah beberapa jam, bunga-bunga mulai tertanam rapi di tepi lapangan. Warga lain pun menyelesaikan tugas mereka, seperti membersihkan parit dan memperbaiki pagar. Lapangan desa kini terlihat lebih indah dan rapi.

Ketika pekerjaan selesai, Pak Hadi berdiri di tengah lapangan dan berkata, “Warga Desa Harmonis, terima kasih atas kerja sama kalian. Hari ini kita telah membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup rukun. Desa kita menjadi contoh bahwa dengan toleransi, kita bisa mencapai banyak hal.”

Semua warga bertepuk tangan dengan riang. Anak-anak pun bersorak gembira.

Saat matahari mulai condong ke barat, Rani, Dika, dan Komang duduk di bawah pohon beringin, menikmati pemandangan lapangan yang kini penuh warna.

“Menurut kalian, apa yang membuat desa kita begitu damai?” tanya Rani sambil memandang teman-temannya.

“Karena kita saling menghormati,” jawab Dika sambil tersenyum.

“Dan karena kita selalu bekerja sama,” tambah Komang.

Rani mengangguk setuju. “Aku senang tinggal di Desa Harmonis. Di sini, semua orang seperti keluarga.”

Hari itu berakhir dengan kebahagiaan dan rasa syukur di hati setiap warga Desa Harmonis. Pagi yang cerah telah membawa semangat baru untuk terus menjaga kerukunan dan kebersamaan. Bagi Rani, Dika, dan Komang, pagi itu adalah bukti indahnya hidup berdampingan dalam harmoni.

TAMAT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETLiterasi
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Memotret ‘Majalah POTRET

Memotret 'Majalah POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00