Dengarkan Artikel
Oleh: Dhea Pradiza Anzelin
Mahasiswi Perbankan Syariah
Universitas Islam Negri Ar-Raniry Banda Aceh
Ketika senja di terpa mentari tua
Surya turun hendak bermalam
Cemarpun pergi membawa nyanyian rindu
Dari hati seorang pengimis tua
Yang terbujur diantara gemerlap indahnya kota
Yang tertidur diantara mengahnya rasa
Yang terbaring diantara riangnya suasana
Dan yang terpejam diantara kehidupan kelam
Saat langkah mengiringi belas kasihan
Tiada tangan yang ingin memberi
Tuhan…
Apakah ini jalan hidupku?
Ataukah ku terhimpit oleh keserakahan?
Hanya sebungkus nasi yang ku pinta untuk jalan hidupku
Ya.. hanya untuk jalan menyambung hidupku
Ditengah meriahnya pesta penguasa
Kutak pernah menyesali ini
Dan tak pernah kusesali jalan hidup ini
Bukan baju compang camping pembatas jiwa
Bukan celana rombeng pembeda raga
Bukan aroma tubuh pemisah sukma
Dan bukan pula kulit yang pekat penghalang kalbu
Ku hanya bunga bakung yang tumbuh dihalaman
Harumku tertutup oleh aroma wewangian
Ku tertindas oleh penguasa
Ku terinjak oleh tirani
Ku terbenam cahkan terkubur oleh keserakahan
Tapi ku yakin tuhan…
Ke abadianmu masih rapi tersimpan di dalam relung hatiku
Semoga mereka merasakan seperti apa yang ku rasakan kini.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.









