Dengarkan Artikel
Oleh Sudarjo Abd. Hamid
Putik mekar beraneka warna di tengah taman, bersorak ria penuh tawa, menderma harap untuk sebuah kepastian.
Perdu yang telah hilang kini muncul kuncup, bersama ratusan kecambah yang telah lama terpendam di bawah kerasnya tanah.
Dedaunan bergelantung, kembali memberi cahaya agung, pada tiap dahan yang pupus kering oleh lamanya kemarau. Bunga semakin memberi harap, untuk buah ranum yang menggiurkan.
Ku coba melangkah penuh harap di lorong senja. Walau terpa gerimis menghadang lembab, aku terus menyusur lumpurnya tanah, mendungnya alam, menjemput dikau di ujung kampung yang penuh bisu.
Di beranda hatimu, aku sapa penuh bangga, ku hantar sekuntum mawar merah yang telah ku genggam lama. Untuk ku persembahkan menjelang magrib yang penuh arti.
Namun dunia telah lain berkata, aku harus menanggung beban panjang kehidupan. Mawar layu di tangan, dan menusuk bertubi jemari ku, hambar jiwa ku seakan penuh cacian yang menggerogoti bathin ini. Karena kau telah berdua bersama yang lain, di sudut rumahmu berias janur kuning yang penuh tawa.
📚 Artikel Terkait
Aku terpental di tengan rintiknya hujan, mundur perlahan, hingga terjatuh oleh licinnya tanah, yang sedang dilanda hujan.
Aku hanya diam membisu, berharap semua berubah. Namun aku turut menghilang di tengah rintiknya hujan.
Lembata, 10 Januari 2025
Sudarjo Abd. Hamid
Bionarasi
Sudarjo Abd. Hamid, lahir di Kabupaten Lembata NTT. Memiliki satu buku Antologi berjudul Goresan Syair Dari Negeri Ikan Paus, terbit tahun 2021. Selain sebagai guru, ia juga telah berpartisipasi dalam lomba menulis puisi maupun cerpen.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






