POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Anak Perempuanku

Cerpen Melayu dari Negeri Seberang

RedaksiOleh Redaksi
January 7, 2025
Tags: #Cerpen MelayuPerempuan
Anak Perempuanku
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh  Md Izzuddin bin Mohd Shah

Johor, Malaysia

Malam itu, langit desa Bagor dipenuhi taburan bintang. Bunyi jengkerik yang bersahut-sahutan menjadi irama semula memecah keheningan malam. Di ruang tamu rumah kayu bercirikan Melayu tradisional itu, aku duduk di atas tikar mengkuang yang sudah lusuh. Di hadapanku, anakperempuanku, Mariam, termenung sambil memeluk lutut. Wajahnya jelas dibayangi keresahan.

“Mariam, kenapa termenung, nak?” tanyaku lembut.

Dia mengangkat wajah. Matanya sedikit berair. “Mak, Mariam penat. Dunia ni seakan-akan terlalu berat buat Mariam.”

Kata-katanya merobek jantungku. Aku tahu, menjadi seorang anak perempuan dalam zaman yang serba mencabar ini, bukanlah perkara mudah. Tetapi aku tidak menyangka tekanan yang ditanggung oleh anak bongsuku ini begitu hebat.

“Ceritakan pada mak, apa yang mengganggu pikiran kamu?” aku cuba meraih kepercayaannya.

Dia menghela nafas panjang sebelum mula berkongsi isi hatinya. “Mak, dulu mak selalu cerita zaman mak kecil. Hidup mak susah, tapi mak kata mak bahagia. Mariam rasa, hidup Mariam sekarang lagi susah. Dunia ni dah berubah, mak. Orang perempuan tak pernah cukup buat apa pun.”

Aku diam sejenak. Mariam memang bijak mengutarakan pendapat, tetapi aku tidak sangka keresahannya begitu mendalam. Dia menyambung lagi, “Kalau Mariam cuba jadi cantik, orang cakap Mariam terlalu menjaga rupa. Kalau Mariam abaikan rupa, orang cakap Mariam tak pandai bergaya. Kalau Mariam berjaya dalam pelajaran, orang cakap Mariam terlalu serius. Kalau Mariam gagal, orang cakap Mariam malas.”

Air matanya mula bergenang. Aku mengusap bahunya, memberi sokongan. “Mariam, hidup ini memang penuh ujian. Tetapi ingat, kamu tidak perlu membuktikan diri kepada sesiapa kecuali Allah. Kita hidup bukan untuk memenuhi jangkaan manusia.”

Dia memandangku dengan pandangan penuh persoalan. “Mak, macam mana mak dulu hadapi cabaran? Hidup mak dulu susah, kan?”

Aku tersenyum. Ingatanku melayang ke zaman 80-an, waktu aku seusia Mariam.

 

Episod 1: Kenangan Zaman Silam

Aku membesar dalam keluarga petani. Hidup kami miskin, tetapi hati kami kaya dengan kasih sayang. Aku sering membantu emak menoreh getah sebelum ke sekolah. Walaupun tangan kasar, aku tidak pernah malu menjadi anak perempuan yang lasak. Aku ingat, suatu hari, aku pulang ke rumah membawa keputusan peperiksaan. Aku mendapat nombor satu dalam kelas, tetapi ayah hanya tersenyum kecil sambil berkata, “Anak perempuan tak perlu terlalu pandai. Nanti susah dapat suami.”

Kata-kata itu melekat di hatiku. Namun, aku bertekad  untuk membuktikan bahwa anak perempuan juga mampu berjaya. Aku bekerja keras, dan akhirnya aku diterima masuk  ke maktab perguruan. Di sana, aku belajar erti kebebasan dan tanggungjawab. Aku belajar bahwa menjadi perempuan bermakna, kita harus berani melangkah, walaupun dunia  sering menyekat langkah kita.

Episod 2: Menghadapi Dunia Baru

Ketika aku mula menjadi guru, aku berhadapan dengan pelbagai cabaran. Rakan-rakan sekerja lelaki sering memandang rendah keupayaanku. Namun, aku tidak pernah patah semangat. Aku tahu, setiap cabaran adalah peluang untuk membuktikan kemampuan.

📚 Artikel Terkait

Fakta Mengerikan Tentang Riba

Obat Kecanduan Gadgets Untuk Anak Anda

Malam

Rembuk Konspirasi di Balik Jeruji

Aku juga teringat saat aku mula-mula bertemu dengan ayahmu, Mariam. Dia seorang lelaki yang menghormati Perempuan. Dia mengajar aku bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap hidup lelaki, tetapi teman sejati yang berdiri sama tinggi.

“Mak pernah rasa dunia ni tak adil?” Mariam memotong lamunanku.

“Pernah,” aku mengaku jujur. “Tetapi mak belajar, dunia  ini hanya akan adil jika kita sendiri memilih untuk berlaku adil pada diri sendiri. Jangan biarkan kata-kata orang menentukan nilai diri kamu, Mariam.”

 

Episod 3: Nasihat Seorang Ibu

Aku menarik nafas panjang. “Mariam, dunia ini memang tidak akan berhenti menilai kita. Tetapi kamu  harus ingat, nilai kamu bukan pada pandangan orang. Nilai kamu terletak pada akhlak kamu, pada usaha kamu untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap hari.”

Dia mengangguk perlahan. “Tapi mak, kadang-kadang Mariam rasa hilang arah. Macam mana nak terus kuat?”

Aku memegang tangannya erat. “Nak, dalam hidup ini, kita akan selalu diuji. Tetapi ingatlah pesan mak ini: kuatkan hubungan kamu dengan Allah, dan jangan pernah lupa tujuan hidup kamu. Hidup ini sementara, tetapi amal kamu akankekal.”

Air mata Mariam akhirnya mengalir. “Terima kasih, mak. Mariam akan cuba jadi lebih kuat.”

Aku tersenyum. “Mariam, ingatlah, menjadi anak perempuan memang bukan mudah. Tetapi itulah keindahan hidup ini. Setiap cabaran menjadikan kamu lebih kuat dan lebih tabah. Dunia ini mungkin tidak adil, tetapi kamu selalu punya pilihan untuk menentukan jalan hidup kamu sendiri.”

Malam itu, aku memeluk Mariam erat. Aku tahu, perjalanan hidupnya masih panjang. Tetapi aku percaya, dengan iman dan keyakinan, dia mampu menghadapi apa jua rintangan.

 

Episod 4: Keberanian di Tengah Ujian

Mariam memutuskan untuk mengambil langkah besar dalam hidupnya. Dia memilih untuk menceburi bidang yang jarang diceburi Perempuan pada zamannya – teknologi maklumat. Walaupun skeptisisme dari orang sekeliling menyelubungi, dia tidak pernah mundur.

Setiap malam, Mariam menghabiskan masa belajar dan mendalami ilmu. Ketika rakan-rakannya memilih untuk menyerah pada stereotaip, Mariam terus maju. Dia tahu, perubahan hanya akan berlaku jika ada yang berani memulakannya.

Namun, tidak semua perjalanan itu mudah. Ada saat-saat dia merasa lelah, bahkan hampir menyerah. Pada saat-saat inilah Mariam mengingati kata-kata maknya: “Jangan lupa tujuan hidup kamu. Dunia ini sementara, tetapi usaha kamu kekal.”

Epilog

Beberapa tahun kemudian, aku melihat Mariam berdiri di atas pentas, menerima anugerah atas kejayaannya dalam bidang yang diceburinya. Dia tersenyum memandangku di bawah pentas, dan aku tahu, dia telah menemui kekuatannya.

Mariam telah membuktikan bahwa  menjadi anak perempuan bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan. Dia menjadi inspirasi kepada ramai Perempuan muda, menunjukkan bahwa walau sebesar mana pun cabaran, tidak ada yang mustahil jika kita berani melangkah.

Biodata

Md Izzuddin bin Mohd Shah

Nama pena: Izzcandrasakata

Md Izzuddin bin Mohd Shah, lahir tanggal 5 Jun 1974 di Batu Pahat, Johor Malaysia. Pendidikan terakhir Sarjana Muda TESL. Saat ini berkerja sebagai Guru Besar. Penulis Karya Gurindam Kalbu Asean,Penulis Syair  Untuk Negeri Asia,Pendendang Syair Untuk  Negeri di Jakarta,Penulis Kitab Syair Nabawi,Pencipta Pantun Firman.Pencipta Karya Syair Madani Negeri Sembilan.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Cerpen MelayuPerempuan
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Luka yang Membisu

Luka yang Membisu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00