• Latest
Elegi untuk Shin Tae-yong

Elegi untuk Shin Tae-yong

Januari 6, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Elegi untuk Shin Tae-yong

Redaksiby Redaksi
Januari 6, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #Sepakbola#STY#TIMNAS
Elegi untuk Shin Tae-yong
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Langit sepak bola Indonesia muram hari ini. Mendung menggantung, seperti ingin menangis, tetapi tertahan. Shin Tae-yong (STY), nama yang dulu dielu-elukan bak juru selamat, kini hanya sebaris kenangan dalam babak sejarah sepak bola negeri ini.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Ia datang membawa harapan, pergi membawa luka. “Coach STY sudah dipecat,” begitu berita pagi ini menyentak jiwa. Sederhana, tanpa basa-basi, seakan melupakan peluh dan doa yang ia persembahkan selama hampir lima tahun terakhir.

PSSI, dengan wajah tanpa dosa, mengumumkan pemutusan hubungan kerja itu seperti melepas karyawan kontrak yang habis masa baktinya. Tidak ada peluk perpisahan. Hanya segenggam pesan, “Semoga Timnas lolos Piala Dunia.” Ah, indah sekali harapan itu. Seindah fatamorgana di gurun yang gersang.

STY mungkin bukan dewa. Ia tidak memberi Indonesia gelar juara. Tidak ada trofi yang ia bawa pulang ke kantor PSSI. Tidak ada parade kemenangan di jalan-jalan ibu kota.

Tapi, siapa bisa melupakan sihirnya? Ia yang membawa Timnas junior melangkah gagah ke semifinal Piala Asia U23. Ia yang, untuk pertama kalinya, menempatkan Indonesia di babak 16 besar Piala Asia. Bahkan, dengan ajaib, ia membimbing Skuad Garuda menaklukkan Arab Saudi 2-0 dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.

Sayangnya, kemenangan tidak cukup. Tidak pernah cukup. PSSI, organisasi yang katanya ingin membangun sepak bola negeri, tak ubahnya orkestra sumbang. Mereka mendamba hasil instan, seperti mi instan yang bisa dinikmati dalam tiga menit. STY? Terlalu lama. Lima tahun tanpa trofi, katanya.

Lalu, apakah trofi lebih berharga dari proses? Dari kemajuan? Mungkin bagi PSSI, ya. Mereka kini menginginkan pelatih Eropa. Rumornya, sudah ada nama besar di balik layar. Ah, barangkali sepak bola kita butuh aksen Italia atau Prancis agar terlihat mewah di mata dunia.

“Semoga Timnas lolos Piala Dunia,” begitu pesan terakhir STY. Ringan, namun menusuk. Ia tahu, tim ini punya potensi. Ia tahu, anak-anak asuhnya mampu.

Tapi ia juga tahu, mimpi itu tidak mudah. Sekarang, ia hanya bisa mengamati dari jauh, mungkin dengan secangkir kopi hangat, di sudut tenang rumahnya di Korea Selatan.

STY adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa perubahan butuh waktu, bahwa kesabaran adalah kunci. Tapi cermin itu kini pecah, menyisakan serpihan yang berserakan di lantai ambisi PSSI.

Apakah pelatih baru nanti bisa melanjutkan apa yang telah dimulai? Ataukah kita kembali ke titik nol, memulai lagi dari awal, seperti yang selalu terjadi?

Langit tetap muram. Di sana, di antara awan yang bergelayut, terlukis wajah STY. Ia tersenyum, tapi matanya basah.

ADVERTISEMENT

Selamat tinggal, coach STY. Di negeri ini, kenangan akanmu adalah puisi tanpa rima. Indah, namun penuh luka.

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Belajar Tak Harus di Kelas

Belajar Tak Harus di Kelas

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com