Dengarkan Artikel
Oleh Furqon Al-Banjari
Mahasiswa di Departemen Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Semester ke- 7, Universitas Saefulloh Maslul Sirnarasa PPKN III, Ciamis, Jawa Barat, 2025 & Maha Santri Staf Khidmat di Pesantren Sirnarasa
Kreativitas sering kali menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap berlangsung. Salah satu contoh unik adalah pembelajaran di luar kelas menggunakan media sederhana: tanah sebagai “pena” dan dinding sebagai “papan tulis”. Metode ini membuktikan bahwa untuk belajar, tidak selalu dibutuhkan ruang kelas atau alat tulis canggih. Kadang-kadang, kreativitas dan tekad yang kuat justru menghasilkan pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna.
Dalam sebuah kegiatan Kuliah Kerja mahasiswa (KKM), seorang mahasiswa tampak mengamati seorang bapak setempat yang menjelaskan sesuatu dengan cara yang sederhana, namun sangat efektif. Dengan mengenakan rompi KKM, mahasiswa tersebut memperhatikan dengan saksama bagaimana sang bapak menggunakan tanah dari sekitar sebagai alat tulis di dinding yang ada di depan mereka. Di bawah sorotan matahari dan dalam suasana alam terbuka, sesi pembelajaran ini berlangsung dengan cara yang sangat alami, namun mampu meninggalkan kesan yang mendalam.
Media tanah dan dinding ini memungkinkan sang bapak untuk menggambar pola atau membuat ilustrasi sederhana yang mendukung penjelasannya. Misalnya, dia bisa menggambar garis-garis atau simbol untuk menjelaskan sebuah konsep, baik itu ilmu alam, cara bercocok tanam, atau pengetahuan budaya lokal yang tidak terdapat dalam buku teks. Mahasiswa yang sedang melakukan KKM dapat memahami dengan lebih baik apa yang dijelaskan, karena pembelajaran tersebut langsung terhubung dengan konteks lingkungan sekitarnya.
📚 Artikel Terkait
Metode sederhana seperti ini membuktikan bahwa belajar tidak harus terpaku pada alat-alat yang modern atau canggih. Dengan alat seadanya, pendidikan tetap bisa berjalan dan memberikan pemahaman yang bermakna. Dalam kasus ini, tanah dan dinding bukan sekadar alat bantu, tetapi juga menjadi simbol pentingnya belajar dari lingkungan sekitar.
Proses belajar seperti ini juga mengajarkan mahasiswa KKM tentang kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan apa yang ada di sekitar untuk menimba ilmu. Tanah sebagai alat tulis memberikan kesempatan untuk lebih menghargai alam, sementara dinding sebagai media menulis menunjukkan bahwa setiap ruang dapat diubah menjadi ruang belajar. Tidak ada batasan untuk menemukan ilmu jika kita peka terhadap lingkungan.
Pembelajaran dengan metode kontekstual ini juga berfungsi sebagai penghubung antara generasi muda dan nilai-nilai lokal. Bagi mahasiswa yang berasal dari kota, metode ini mungkin terasa asing, tetapi justru melalui cara yang sederhana inilah mereka bisa belajar lebih banyak tentang kearifan lokal. Mereka tidak hanya belajar materi yang diajarkan, tetapi juga melihat bagaimana keterampilan bertahan hidup dan ilmu pengetahuan lokal telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Interaksi langsung dengan tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan lokal juga menjadi pelajaran tersendiri. Mereka menyaksikan bagaimana masyarakat desa mengatasi keterbatasan dengan penuh kreativitas, serta memanfaatkan alam sebagai sarana edukasi yang efektif. Ini juga mengajarkan nilai gotong royong dan kebersamaan, di mana setiap anggota masyarakat saling membantu dan berbagi ilmu.
Di era modern ini, dengan segala kemudahan yang disediakan oleh teknologi, metode pembelajaran seperti ini menjadi pengingat penting bahwa pendidikan seharusnya tidak bergantung sepenuhnya pada alat yang canggih. Kreativitas dan adaptasi terhadap lingkungan adalah keterampilan yang tak kalah penting dalam pendidikan. Dalam prosesnya, mahasiswa KKM pun menyadari bahwa pendidikan yang bermakna tidak hanya diperoleh dari buku atau alat elektronik, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang mereka dapatkan langsung dari masyarakat.
Pengalaman belajar melalui media tanah dan dinding ini membawa pesan bahwa pendidikan dapat hadir dalam berbagai bentuk. Baik itu dinding kayu yang dipenuhi coretan, atau tanah yang dijadikan “pena”, setiap ruang dapat diubah menjadi sarana belajar. Sesi ini membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang, melainkan sebuah kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas dan menciptakan cara baru dalam menyampaikan ilmu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






