Senin, April 20, 2026

Yang Pulang Tanpa Pusara

Desember 2024
Oleh: Redaksi

Oleh Tabrani Yunis

Tsunami Aceh, Dua puluh enam desember Dua ribu empat, tlah membumikan sejuta cerita, tentang getaran dahsyat gempa bumi yang melanda Aceh yang Tengah berduka

Dihadang pula oleh bencana tsunami yang dahsyat tiada tara

menyapu segala harta, jiwa dan raga

dalam gelombang besar raksasa

Tak kurang dari Dua ratus ribu manusia

Tak kuasa melawan dahsyatnya bencana

Kala tsunami meratakan semua yang ada

Tsunami Aceh, Dua puluh enam desember Dua ribu empat kini tinggal cerita Dan sisa air mata

Tak terdengar lagi dengungan Suara yang meronta

Tak ada suara-suara berteriak menyebut Dan memanggil-manggil nama-nama buah cinta

Sudah tak ada lagi Suara yang terbata-bata

Hanya sayup-sayup cahaya yang merona di ujung masa

Karena masih ada yang

mencucurkan air mata

menderai membasuh luka

Aku pun seperti kehilangan kata-kata

Padahal ingin kurangkai di atas pusara

Yang hingga kini tetap tiada

Haruskah semua sirna?

Wahai Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina

Seringkali kutata kata-kata tuk menutupi luka menganga, usai dihempas bencana

Kala ombak dan gelombang raksasa menerpa segalanya yang dihempas tsunami, 26 Desember 2004 membawamu serta, memisahkan kita

Aku terus mencari di mana

Kalian berada

Aku tak tahu ke mana dibawa

Aku buta, tak menemukan siapa-siapa

Hanya bisa  meronta, Dan  tak berdaya

Wahai Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina

Izinkan di masa Dua puluh tahun ini, kutuliskan lagi sepucuk surat cinta dan Serangkai doa

Di lembaran-lembaran asa yang tersisa

Sebagai tanda cinta yang terdera bencana

Direnggut Ombak laut raksasa

Kala duka dan nestapa mendera jiwa raga

Kala bencana nan Maha dahsyat memisahkan kita

Hari ini, Desember telah pula di ujung masa

sebuah kisah cerita berulang melingkari masa

setelah  sekian purnama fana

Yang kadang  hilang,  kadang datang menjelma

Mengendap – ngendap di selimut lupa

Hari, waktu telah pulang begitu lama

Kala luka-luka nestapa mulai beranjak sirna

Walau luka lama begitu pedih menganga

Kala meniti perjalanan duka lara

Hari ini, telah dua dasa warsa luka menganga, meronta-ronta menggemakan suara-suara nestapa

Kala Aku terasa semakin tak berdaya menahan pedih kehilangan cinta

Wahai Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina

Aku telah sering bertanya

pada Ombak dan gelombang raksasa

Kemanakah Aku bisa bergerilya tanda-tanda kalian masih ada

Aku tak rela kalian terlunta-lunta tanpa pusara

Hari ini, walau telah sekian kutuliskan sepucuk surat cinta, buat kau Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina di surga

Kuyakini bahwa dalam jamaah kerumunan para syuhada, kalian hidup bahagia, Sejahtera bersama Sang Pencipta Yang Maha kuasa

Biarlah aku tetap bertanya kalian ada di mana

Hingga kini Aku berada di ujung senja

Entah Desember mendatang, Aku masih bisa menuliskan lagi sepucuk surat cinta

yang kutulis dengan tinta air mata

Kala rindu  semakin begitu menyiksa

Semoga saja Aku bisa pada setiap kali senja tiba

Mengirimkan kalian rangkaian-rangkaian doa

Walau tak mungkin kembali bersama seperti sediakala

Biarlah Aku menyelami limpahan rindu Dan luka nestapa yang masih tersisa

Hari ini, kutiti senja bersama usia semakin senja

Kupeluk malam  hingga menjelang fajar datang menyapa

aku masih bertanya -tanya  di mana pusara kalian berada

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist