Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Tsunami Aceh, Dua puluh enam desember Dua ribu empat, tlah membumikan sejuta cerita, tentang getaran dahsyat gempa bumi yang melanda Aceh yang Tengah berduka
Dihadang pula oleh bencana tsunami yang dahsyat tiada tara
menyapu segala harta, jiwa dan raga
dalam gelombang besar raksasa
Tak kurang dari Dua ratus ribu manusia
Tak kuasa melawan dahsyatnya bencana
Kala tsunami meratakan semua yang ada
Tsunami Aceh, Dua puluh enam desember Dua ribu empat kini tinggal cerita Dan sisa air mata
Tak terdengar lagi dengungan Suara yang meronta
Tak ada suara-suara berteriak menyebut Dan memanggil-manggil nama-nama buah cinta
Sudah tak ada lagi Suara yang terbata-bata
Hanya sayup-sayup cahaya yang merona di ujung masa
Karena masih ada yang
mencucurkan air mata
menderai membasuh luka
Aku pun seperti kehilangan kata-kata
Padahal ingin kurangkai di atas pusara
Yang hingga kini tetap tiada
Haruskah semua sirna?
Wahai Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina
Seringkali kutata kata-kata tuk menutupi luka menganga, usai dihempas bencana
Kala ombak dan gelombang raksasa menerpa segalanya yang dihempas tsunami, 26 Desember 2004 membawamu serta, memisahkan kita
Aku terus mencari di mana
Kalian berada
Aku tak tahu ke mana dibawa
Aku buta, tak menemukan siapa-siapa
📚 Artikel Terkait
Hanya bisa meronta, Dan tak berdaya
Wahai Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina
Izinkan di masa Dua puluh tahun ini, kutuliskan lagi sepucuk surat cinta dan Serangkai doa
Di lembaran-lembaran asa yang tersisa
Sebagai tanda cinta yang terdera bencana
Direnggut Ombak laut raksasa
Kala duka dan nestapa mendera jiwa raga
Kala bencana nan Maha dahsyat memisahkan kita
Hari ini, Desember telah pula di ujung masa
sebuah kisah cerita berulang melingkari masa
setelah sekian purnama fana
Yang kadang hilang, kadang datang menjelma
Mengendap – ngendap di selimut lupa
Hari, waktu telah pulang begitu lama
Kala luka-luka nestapa mulai beranjak sirna
Walau luka lama begitu pedih menganga
Kala meniti perjalanan duka lara
Hari ini, telah dua dasa warsa luka menganga, meronta-ronta menggemakan suara-suara nestapa
Kala Aku terasa semakin tak berdaya menahan pedih kehilangan cinta
Wahai Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina
Aku telah sering bertanya
pada Ombak dan gelombang raksasa
Kemanakah Aku bisa bergerilya tanda-tanda kalian masih ada
Aku tak rela kalian terlunta-lunta tanpa pusara
Hari ini, walau telah sekian kutuliskan sepucuk surat cinta, buat kau Istriku Salminar dan anak-anakku Albar dan Amalina di surga
Kuyakini bahwa dalam jamaah kerumunan para syuhada, kalian hidup bahagia, Sejahtera bersama Sang Pencipta Yang Maha kuasa
Biarlah aku tetap bertanya kalian ada di mana
Hingga kini Aku berada di ujung senja
Entah Desember mendatang, Aku masih bisa menuliskan lagi sepucuk surat cinta
yang kutulis dengan tinta air mata
Kala rindu semakin begitu menyiksa
Semoga saja Aku bisa pada setiap kali senja tiba
Mengirimkan kalian rangkaian-rangkaian doa
Walau tak mungkin kembali bersama seperti sediakala
Biarlah Aku menyelami limpahan rindu Dan luka nestapa yang masih tersisa
Hari ini, kutiti senja bersama usia semakin senja
Kupeluk malam hingga menjelang fajar datang menyapa
aku masih bertanya -tanya di mana pusara kalian berada
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






