POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membaca Puisi “BILIK SUNYI” Karya Delia Rawanita

RedaksiOleh Redaksi
December 21, 2024
Tags: #Apresiasi Puisi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Junaidi Bantasyam

Sembari menikmati pancaran mentari pagi, dua puisi Delia Rawanita, menebar di ruang puisi Potretonline.com, pagi ini, Sabtu 21 Desember 2024. Sontak saja, puisi itu dinikmati dengan sepenuh jiwa. Untaian kata pun terurai kala membaca sebuah puisi dengan judul Bilik Sunyi.

BILIK SUNYI


Delia Rawanita

Menyendiri sendiri
Sepi canda tawa
Semua tak bersuara
Kehilangan kata

Hari hari sunyi
Tiada yang menemani
Bilik menjadi saksi bisu
Menghabiskan waktu berlalu

Oh..Hati yang lengang
Siapakah yang datang
Menemani sekejap saja
Sambil menikmati senja

Oh..Hati yang sepi
Mengharap seseorang hadir disini
Hanya terdengar degup jantung
Dan helaan nafas pengharapan

📚 Artikel Terkait

Doa Di antara Lumpur dan Longsor

Tiga Guru MAS Darul’Ulum Hadiri Refresmen Fasilitator Provinsi di Jakarta

Meraih Mimpi

Inisiasi Gerakan Pemulihan Pasca Banjir Bandang

Puisi ini menggambarkan perasaan kesepian, kerinduan, dan harapan akan kehadiran seseorang dalam hidup penyair. Bilik menjadi simbol dari ruang pribadi penyair yang terasa begitu sunyi.

Penyair menggambarkan suasana di dalam biliknya yang sangat sunyi dan sepi. Tidak ada suara, tawa, atau percakapan yang menghiasi hari-harinya.

Bilik menjadi saksi bisu atas kesepian yang dirasakan penyair. Waktu terasa berjalan begitu lambat dan membosankan.

Penyair mengungkapkan kerinduannya akan kehadiran seseorang yang dapat menemani dan mengisi kekosongan hatinya.

Meski sepi, penyair tetap berharap akan ada seseorang yang datang dan menemaninya. Suara detak jantung dan helaan nafas menjadi simbol dari harapan yang terus berkobar.

Kata-kata yang digunakan sangat sederhana, namun mampu menyampaikan emosi yang mendalam.

Kata-kata seperti “sunyi”, “sepi”, “kehilangan”, dan “harapan” menciptakan suasana yang sangat menyentuh.

Bilik digambarkan sebagai “saksi bisu” yang seolah-olah dapat merasakan kesepian penyair.

Puisi ini mengajak kita untuk merenungkan pentingnya kehadiran orang lain dalam hidup kita. Kesepian adalah perasaan yang universal dan setiap orang pasti pernah mengalaminya. Namun, melalui puisi ini, penyair mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu menghadapi kesepian sendirian. Ada keyakinan bahwa suatu saat nanti, kita akan menemukan seseorang yang dapat mengisi kekosongan dalam hati kita.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Apresiasi Puisi
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Serumpun Puisi Usfa di Hari Ibu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00