POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Antologi Puisi Leni Marlina

RedaksiOleh Redaksi
December 16, 2024
Antologi Puisi Leni Marlina
🔊

Dengarkan Artikel

 

Serpihan Langit Palestina

Oleh Leni Marlina

Kami—
anak-anak yang tak punya tempat untuk tidur,
terjaga oleh puing-puing langit yang terpecah,
terlahir dari darah yang mengalir ke sungai-sungai yang kering,
di antara debu dan batu yang tak pernah berhenti berteriak histeris.

Kami mendengar suara kami sendiri—
dalam desah nafas,
“kami masih ada, kami masih di sini.”

Kami bagaikan batu kali yang tidak menyerah, meski arus mencoba menyeret bertubi-tubi.

Kami adalah suara yang tidak akan diam,
meski dunia memalingkan wajahnya dari kami.

Kami bagaikan serpihan langit Palestina yang mencoba bangkit,
tidak hanya bertahan, tetapi berjuang, meneruskan impian,
bagi mereka yang mencintai kami,
meskipun nyawa kami melayang,
mengikuti mereka yang sudah duluan pulang.

Padang, Sumbar, 2022

 

Tanah yang Menyimpan Luka

Oleh Leni Marlina

Di sini,
Tanah Palestina—
bukan tanah yang hanya dilalui,
tapi tanah yang menyimpan luka,
tanah yang tak pernah benar-benar kering dari air mata.

Kami melangkah di atas tanah kelahiran sendiri,
menghimpun darah dan harapan,
kami menggemakan “merdeka”, meski mereka tak mampu mendengarnya,
atau mungkin juga tak peduli sesama manusia.

Kami mungkin saat ini, belum sanggup menjadi pohon yang tumbuh rimbun dari reruntuhan, tapi lihatlah,
kami saat ini bagaikan bunga yang terlahir dari tanah yang terluka.

Kami bukan hanya bertahan—kami tumbuh
diantara kesedihan dan kehilangan,
menolak segala kekerasan,
melawan kesombongan dan keserakahan,
tak tinggal diam walaupun kelaparan dan kehilangan jiwa mengancam,
karena hidup dan mati urusan Tuhan.

Padang, Sumbar,
2022

 

Batu Kali di Sungai Palestina

Oleh Leni Marlina

Kau, anak kecil yang sunyi,
bagaikan batu kali di sungai Palestina,
tertanam di dasar yang dingin,
dihantam arus perang yang tiada henti.

Sungai itu membawa cerita-cerita pilu,
serpihan rumah yang hancur,
bayangan pepohonan yang pernah menaungimu,
kini terpantul dalam riak air yang bergetar.

Matamu, seperti batu kali yang retak,
menyimpan kenangan akan tawa yang terampas,
namun di sela-sela luka itu,
ada harapan kecil yang tetap mengalir.

O, batu kali Palestina,
kau menggenggam rahasia tanah suci,
akar-akar zaitun merangkulmu erat,
meski debu tank dan jejak peluru mencoba meremukkannya.

Kau, anak kecil yang tegar,
seperti batu yang tak hanyut,
meski arus mencoba menyeretmu
ke dalam gelap yang tak bertepi.

Di tepi sungai itu,
aliran doa menyentuh tubuhmu,
sejuk seperti embun pagi,
mencoba menyembuhkan retakan di hatimu.

O, anak Palestina,
kau adalah batu kali yang menolak rapuh,
membisu namun penuh kekuatan,
menunggu sungai berhenti menangis,
dan damai kembali mengalir di tanah ini.

Kau—
batu kali yang tertanam di sungai Palestina,
terhantam, tergulung,
tapi tidak pernah dihancurkan.

Kau batu kali yang terus berdiri—
kau tidak hanya bertahan,
kau berjuang,
tak hanya sebagai
melawan kesedihan, tapi juga untuk sebuah kebangkitan.

Padang, Sumbar, 2022

Reruntuhan yang Berbicara

📚 Artikel Terkait

NUTRISARI, Vitamin Moral bagi Gen Z

Bersekolah Tak Selalu Berarti Berpendidikan: Saatnya Aceh Menumbuhkan Jiwa Belajar yang Merdeka

Serumpun Puisi Usfa di Hari Ibu

Tradisi Merantau Laki-Laki di Pidie

Puisi oleh Leni Marlina

Di tanah Palestina,
reruntuhan ini berbicara—
berbicara dengan suara yang kami tidak bisa dengar,
tapi bisa kami rasakan.
Kami—anak-anak yang tumbuh dalam kabut,
tumbuh dalam gelap yang terus melingkupi kami,
kami bukan hanya bayang-bayang,
kami adalah cahaya yang menembus kabut itu.

Kami menggapai masa depan yang terbungkus dalam abu,
tapi kami tahu,
bahwa reruntuhan ini adalah saksi—
saksi dari kekuatan kami yang tak terukur,
saksi dari suara kami yang tak akan hilang,
terus berteriak, terus berbisik,
kami tetap ada di sini, kami tetap berjuang.

Padang, Sumbar, 2022

 

Kota yang Terlupakan

Puisi oleh Leni Marlina

Kami bagaikan kota yang terlahir dari tanah yang terjepit,
kami bagaikan kota yang tak pernah terucap namanya,
kami bagaikan bisikan yang terlupakan di balik debu.
Di jalanan yang tak pernah surut,
kami berjalan di atas batu-batu yang terpecah,
kami adalah langkah-langkah yang menyatu dengan malam.
Kami adalah dinding yang berdiri tegak,
meski dunia mengabaikan kami.

Kami tidak hanya bertahan,
kami adalah kekuatan yang tak terlihat,
kami adalah mereka yang terus berlari,
menyusun masa depan kami dari reruntuhan.
Kami tetap ada—kami tetap berdiri,
kami adalah kota Palestina yang tak akan pernah hilang.

Padang, Sumbar, 2022

 

Sungai Darah yang Mengalir di Tanah Palestina

Puisi oleh Leni Marlina

Sungai di tanah Palestina ini—
mengalir dengan darah yang tak pernah kering,
mengalir dengan cerita yang tak pernah sampai ke dunia luar.
Kami adalah aliran yang terus bergerak,
terus menari di atas batu kali yang membentur keras,
kami adalah anak-anak yang berdiri di pinggir sungai,
menggenggam harapan yang terjebak di antara arus.

Kami bagai matahari yang menyinari tanah yang terluka,
kami bagaikan bulan yang terbenam di atas langit yang terus berbicara,
kami bagaikan air yang mengalir dari batu kali,
menjaga luka yang tak bisa sembuh.
Kami tetap mengalir—kami tetap ada,
terus bertahan, terus berjuang,
meski tak ada yang melihat, meski tak ada yang mendengar.

Padang, Sumbar, 2022

 

Tumbuh dari Puing-puing yang Terlupakan

Puisi oleh Leni Marlina

Kami tumbuh dari puing-puing yang terlupakan,
tumbuh di antara reruntuhan yang berbicara dengan bahasa yang tak bisa dimengerti.
Kami awalnya bunga yang terlahir dari serpihan waktu,
kami menjadi pohon yang tumbuh di atas tanah yang keras,
lalu menjadi jejak yang meninggalkan bayangan,
jejak yang tak pernah dilupakan oleh angin.

Di tanah ini, kami tidak berhenti tumbuh,
meski batu-batu mencoba menghalangi jalan kami.
Kami adalah kehidupan yang lahir dari luka,
kami adalah generasi yang menanti dunia yang tak pernah datang.
Kami bukan sekadar bertahan—kami berusaha mengubah dunia,
kami adalah perubahan itu, kami adalah perjuangan itu.

Padang, Sumbar, 2022

 

Angin yang Berbicara dalam Badai

Puisi oleh Leni Marlina

Engkau bertanya siapa kami?
engkau rasakanlah angin yang berhembus di tanah Palestina,
angin yang membawa kabar dari masa depan yang tidak terlihat.

Kami adalah angin itu,
kami adalah badai yang menyapu tanpa ampun.
kami adalah anak-anak yang tidak lagi diam,
kami adalah suara yang terus berbisik
dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang terluka.
kami adalah mereka yang tak mengenal kata “berhenti”,
kami adalah angin yang tak pernah berbalik arah, walaupun diancam mati oleh mereka yang serakah.

Kami berbicara meski dunia membisu,
kami berjuang meski dunia memalingkan muka.
kami bukan hanya bertahan—kami membuka jalan,
kami adalah angin yang membawa perubahan.

Padang, Sumbar, 2022

Langit dan Jejak Kami

Puisi oleh Leni Marlina

Langit di atas Palestina ini—
tidak pernah surut,
tidak pernah berhenti menangis.
Kami adalah jejak-jejak di bawahnya,
kami adalah bayang-bayang yang tidak pernah terhapus.
Di bawah langit yang penuh dengan kisah,
kami berjalan,
terus berjalan meski bumi meronta,
meski dunia tidak bisa melihat kami.

Kami adalah anak-anak yang tumbuh dalam pelukan langit Palestina,
kami adalah jejak yang terukir di tanah ini—
jejak yang tak akan hilang.
Kami berbicara dengan langkah kami,
kami berbicara dengan keberanian kami,
kami adalah anak-anak yang menulis cerita ini.

Padang, Sumbar, 2022

 

Tahan dan Terus Berlari

Puisi oleh Leni Marlina

 

Kami berlari di atas tanah yang tidak pernah berhenti bergetar,
berlari di atas batu kali yang terhimpit,
berlari di tengah badai yang mencoba menghentikan kami.
Kami—anak-anak Palestina—
bukan sekadar mereka yang terluka,
kami adalah mereka yang terus melangkah,
melangkah dengan hati yang tak terhitung.

Engkau terus bertanya,
siapakah kami ini?
kami bagaikan api yang menyala di dalam kegelapan,
kami bagaikan angin yang bertiup di atas tanah yang terhimpit.
kami adalah langkah yang tidak akan berhenti,
meskipun dunia mencoba mengancam kami.
kami adalah suara yang akan terus berkumandang,
kami adalah anak-anak Palestina yang akan tetap berdiri,
kami tidak takut mati.

Padang, Sumbar, 2022

————

Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2022. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.

Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://shorturl.at/2eTSB & https://shorturl.at/tHjRI;
(4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Suara dan Gerakan Kaum Perempuan Indonesia Yang Patut dan Harus Diperhitungkan

Suara dan Gerakan Kaum Perempuan Indonesia Yang Patut dan Harus Diperhitungkan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00