• Latest
Mengubah Mindset Generasi Z  Terhadap Profesi Petani

Kelucuan, Hiburan dan Mainan, Memancing Cuan

Desember 10, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kelucuan, Hiburan dan Mainan, Memancing Cuan

Redaksiby Redaksi
Desember 10, 2024
Reading Time: 4 mins read
Tags: #pengemisanak jalanan
Mengubah Mindset Generasi Z  Terhadap Profesi Petani
603
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh:  Salsabilla Alfianti Salja 

Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah, Universitas Islam Ar-Raniry, Banda Aceh

Judul tulisan ini merupakan gamabaran tentang pengemis- pengemis di Banda Aceh. Semakin lama, semakin banyak idenya untuk menarik perhatian masyarakat. Beragam cara mereka menarik perhatian para pemberi sedekah. Ada yang menggunakan kotak bertuliskan mohon bantuan, ada yang dengan cara menggantungkan mainan di leher dan bahkan saat ini banyak ditemukan pengemis berkostum badut.

Dengan menggunakan kostum-kostum  badut yang unik dan menarik, mereka berhasil menarik minat anak-anak yang berada di dalam kendaraan yang berhenti di setiap simpang lampu lalu lintas (traffic lights). Biasnya kostum karakter kartun dan badut yang lucu dan bahkan ada yang menggunakan kostum supermen.

Selain itu, beberapa pengemis juga memanfaatkan media lain, seperti suara musik dari alat yang mereka bawa, untuk meningkatkan peluang memperoleh sumbangan. Para pengemis berkedok badut ini sering melakukan aksinya di berbagai lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, tempat kuliner, rumah ibadah, pombensin, tempat wisata, dan jalan utama.

Ada lagi yang  menarik perhatian dengan menghidupkan suara musik dari media yang dibawa, kemudian berkeliling membawa kotak untuk wadah mengumpulkan uang dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini menyalahi fungsi badut yang sebenarnya dan menimbulkan persepsi bahwa badut yang semula tugasnya menghibur melalui aksi atau pertunjukan seperti sulap di acara-acara hiburan, ulang tahun, perayaan atau sirkus yang berinteraksi langsung dengan para penonton dengan memberikan hadiah kecil, atau melakukan permainan yang melibatkan penonton, terutama anak-anak, agar suasana menjadi lebih hidup dan menciptakan kesan positif bagi para penonton malah menjadi peminta-minta.

Ditinjau dari latar belakang kehidupan, sebagian besar pengemis, semua kkta akan berkata bahwa mereka berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu. Padahal  ada juga yang terjebak dalam rutinitas mengemis karena kebiasaan atau pengaruh orang lain. Bila kita amati lebih dalam kehidupan pengemis di kota Banda Aceh, sebenarnya gaya hidup mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang miskin lain yang tidak mau dan malu mengemis. Banyak orang miskin, tetapi tidak mengemis.

Bahkan pengemis, bisa memiliki properti lebih banyak dibandingkan orang miskin lain. Banyak pengemis yang punya kendaraan seperti sepeda motor, becak mesin, menggunakan smart phone yang mahal dan lain-lain, namun mereka memilih mengemis sebagai profesi.

Padahal, secara kasat mata terlihat bahwa ia termasuk orang yang mampu, bukan yang kekurangan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa ia memilih mengemis, apakah dia juga salah satu yang terjebak dalam rutinitas mengemis karena kebiasaan atau pengaruh orang lain?

Selain itu, hal yang sangat memprihatinkan kita adalah ketika sering menemukan pengemis yang menjadikan anak atau bayinya sebagai  alat untuk menarik simpati orang banyak seperti yang ditemui di beberapa tempat. Salah satunya daerah  Darussalam. Ia membawa anaknya berkeliling untuk mengemis dan meminta-minta.

Kasus lainnya terjadi di salah satu tempat rekreasi yaitu Blang Padang, yang mana ditemukan bahwa pengemis di bawah umur menggunakan pakaian lusuh untuk menarik simpati dan tas yang sobek sebagai media untuk wadah menyimpan uang dari hasil meminta-minta.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Pengemis di bawah umur ini kerap memaksa para pengunjung untuk memberikannya uang, Jika belum diberi uang dia tidak mau pergi. Hal ini sangatlah mengganggu bagi sebagian orang yang sedang menikmati kebersamaan dengan teman, kerabat maupun keluarga.

Nah, maraknya pengemis di Banda Aceh terus terjadi, meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, mulai dari melakukan razia rutin untuk menertibkan dan membuat program-program rehabilitasi atau pelatihan setelah dilakukannya razia. Namun kenyataannya pengemis dengan berbagai kostum dan media ini tetap terlihat di beberapa sudut strategis kota. Pertanyaannya, apakah aktivitas mengemis di Aceh, karena Aceh banyak memiliki angka kemiskinan tinggi, sehingga dijuluki sebagai provinsi termiskin di Sumatera ?

Agaknya, melihat realitas yang ada selama ini, mengemis tidak selalu soal kemiskinan. Banyak faktor lain yang bikin mereka memilih jalan ini. Misalnya, ada yang sudah terbiasa, terus jadi tidak malu lagi, karena merasa ini cara mudah buat dapat uang. Selain itu, ketimpangan sosial juga ikut berperan. Kadang, orang yang mengemis, bukan benar-benar tidak punya apa-apa, tapi mereka melihat mengemis sebagai pekerjaan yang instan dan gampang.

Apalagi, di negara seperti Indonesia yang dikenal masyarakatnya dermawan, pengemis merasa selalu ada peluang untuk mendapatkan belas kasihan. Untuk mengurangi fenomena ini, kita perlu pendekatan yang lebih menyeluruh.  Ada bebarapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, pemerintah bisa menciptakan lebih banyak peluang kerja buat orang-orang yang benar-benar butuh, supaya mereka tidak  merasa harus mengemis.

Kedua, perlu dilakukan langkah membangun kesadaran dengan mengedukasi  pengemis dan juga masyarakat, agar kita terbiasa memberikan bantuan lewat lembaga resmi, bukan langsung ke pengemis di jalan.

Ke tiga, selain itu, perlu pelatihan atau program pemberdayaan supaya mereka punya keterampilan untuk bekerja.  Ke empat, aturan soal eksploitasi anak dalam kegiatan mengemis harus ditegakkan dengan tegas. Kalau semua ini dilakukan bareng-bareng, mulai dari pemerintah sampai masyarakat, kita bisa mengurangi jumlah pengemis dan membantu mereka menjalani hidup yang lebih baik.

Untuk itu, perlu solusi yang lebih kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi. Kita bisa membuat aplikasi khusus yang memungkinkan masyarakat melaporkan lokasi pengemis yang mencurigakan atau memberikan donasi langsung melalui lembaga resmi tanpa harus memberi uang langsung di jalan.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?

MENGENANG 13.514 HARI ABON AZIZ: SANG ARSITEK ULAMA ACEH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com