POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kelucuan, Hiburan dan Mainan, Memancing Cuan

RedaksiOleh Redaksi
December 10, 2024
Tags: #pengemisanak jalanan
Mengubah Mindset Generasi Z  Terhadap Profesi Petani
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh:  Salsabilla Alfianti Salja 

Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah, Universitas Islam Ar-Raniry, Banda Aceh

Judul tulisan ini merupakan gamabaran tentang pengemis- pengemis di Banda Aceh. Semakin lama, semakin banyak idenya untuk menarik perhatian masyarakat. Beragam cara mereka menarik perhatian para pemberi sedekah. Ada yang menggunakan kotak bertuliskan mohon bantuan, ada yang dengan cara menggantungkan mainan di leher dan bahkan saat ini banyak ditemukan pengemis berkostum badut.

Dengan menggunakan kostum-kostum  badut yang unik dan menarik, mereka berhasil menarik minat anak-anak yang berada di dalam kendaraan yang berhenti di setiap simpang lampu lalu lintas (traffic lights). Biasnya kostum karakter kartun dan badut yang lucu dan bahkan ada yang menggunakan kostum supermen.

Selain itu, beberapa pengemis juga memanfaatkan media lain, seperti suara musik dari alat yang mereka bawa, untuk meningkatkan peluang memperoleh sumbangan. Para pengemis berkedok badut ini sering melakukan aksinya di berbagai lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, tempat kuliner, rumah ibadah, pombensin, tempat wisata, dan jalan utama.

Ada lagi yang  menarik perhatian dengan menghidupkan suara musik dari media yang dibawa, kemudian berkeliling membawa kotak untuk wadah mengumpulkan uang dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini menyalahi fungsi badut yang sebenarnya dan menimbulkan persepsi bahwa badut yang semula tugasnya menghibur melalui aksi atau pertunjukan seperti sulap di acara-acara hiburan, ulang tahun, perayaan atau sirkus yang berinteraksi langsung dengan para penonton dengan memberikan hadiah kecil, atau melakukan permainan yang melibatkan penonton, terutama anak-anak, agar suasana menjadi lebih hidup dan menciptakan kesan positif bagi para penonton malah menjadi peminta-minta.

Ditinjau dari latar belakang kehidupan, sebagian besar pengemis, semua kkta akan berkata bahwa mereka berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu. Padahal  ada juga yang terjebak dalam rutinitas mengemis karena kebiasaan atau pengaruh orang lain. Bila kita amati lebih dalam kehidupan pengemis di kota Banda Aceh, sebenarnya gaya hidup mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang miskin lain yang tidak mau dan malu mengemis. Banyak orang miskin, tetapi tidak mengemis.

Bahkan pengemis, bisa memiliki properti lebih banyak dibandingkan orang miskin lain. Banyak pengemis yang punya kendaraan seperti sepeda motor, becak mesin, menggunakan smart phone yang mahal dan lain-lain, namun mereka memilih mengemis sebagai profesi.

📚 Artikel Terkait

Mengenal Pol Pot, Pemimpin Terkejam di Asia Tenggara

Menyimak Pengalaman Ibex Mengembangkan Distro di Aceh

Bahaya Broken Home Terhadap Psikologis Anak

Teungku Chik Tanoh Abee; Ulama Mujahid dan Qadhi Rabbul Jalil Aceh

Padahal, secara kasat mata terlihat bahwa ia termasuk orang yang mampu, bukan yang kekurangan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa ia memilih mengemis, apakah dia juga salah satu yang terjebak dalam rutinitas mengemis karena kebiasaan atau pengaruh orang lain?

Selain itu, hal yang sangat memprihatinkan kita adalah ketika sering menemukan pengemis yang menjadikan anak atau bayinya sebagai  alat untuk menarik simpati orang banyak seperti yang ditemui di beberapa tempat. Salah satunya daerah  Darussalam. Ia membawa anaknya berkeliling untuk mengemis dan meminta-minta.

Kasus lainnya terjadi di salah satu tempat rekreasi yaitu Blang Padang, yang mana ditemukan bahwa pengemis di bawah umur menggunakan pakaian lusuh untuk menarik simpati dan tas yang sobek sebagai media untuk wadah menyimpan uang dari hasil meminta-minta.

Pengemis di bawah umur ini kerap memaksa para pengunjung untuk memberikannya uang, Jika belum diberi uang dia tidak mau pergi. Hal ini sangatlah mengganggu bagi sebagian orang yang sedang menikmati kebersamaan dengan teman, kerabat maupun keluarga.

Nah, maraknya pengemis di Banda Aceh terus terjadi, meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, mulai dari melakukan razia rutin untuk menertibkan dan membuat program-program rehabilitasi atau pelatihan setelah dilakukannya razia. Namun kenyataannya pengemis dengan berbagai kostum dan media ini tetap terlihat di beberapa sudut strategis kota. Pertanyaannya, apakah aktivitas mengemis di Aceh, karena Aceh banyak memiliki angka kemiskinan tinggi, sehingga dijuluki sebagai provinsi termiskin di Sumatera ?

Agaknya, melihat realitas yang ada selama ini, mengemis tidak selalu soal kemiskinan. Banyak faktor lain yang bikin mereka memilih jalan ini. Misalnya, ada yang sudah terbiasa, terus jadi tidak malu lagi, karena merasa ini cara mudah buat dapat uang. Selain itu, ketimpangan sosial juga ikut berperan. Kadang, orang yang mengemis, bukan benar-benar tidak punya apa-apa, tapi mereka melihat mengemis sebagai pekerjaan yang instan dan gampang.

Apalagi, di negara seperti Indonesia yang dikenal masyarakatnya dermawan, pengemis merasa selalu ada peluang untuk mendapatkan belas kasihan. Untuk mengurangi fenomena ini, kita perlu pendekatan yang lebih menyeluruh.  Ada bebarapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, pemerintah bisa menciptakan lebih banyak peluang kerja buat orang-orang yang benar-benar butuh, supaya mereka tidak  merasa harus mengemis.

Kedua, perlu dilakukan langkah membangun kesadaran dengan mengedukasi  pengemis dan juga masyarakat, agar kita terbiasa memberikan bantuan lewat lembaga resmi, bukan langsung ke pengemis di jalan.

Ke tiga, selain itu, perlu pelatihan atau program pemberdayaan supaya mereka punya keterampilan untuk bekerja.  Ke empat, aturan soal eksploitasi anak dalam kegiatan mengemis harus ditegakkan dengan tegas. Kalau semua ini dilakukan bareng-bareng, mulai dari pemerintah sampai masyarakat, kita bisa mengurangi jumlah pengemis dan membantu mereka menjalani hidup yang lebih baik.

Untuk itu, perlu solusi yang lebih kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi. Kita bisa membuat aplikasi khusus yang memungkinkan masyarakat melaporkan lokasi pengemis yang mencurigakan atau memberikan donasi langsung melalui lembaga resmi tanpa harus memberi uang langsung di jalan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Tags: #pengemisanak jalanan
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?

MENGENANG 13.514 HARI ABON AZIZ: SANG ARSITEK ULAMA ACEH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00