Dengarkan Artikel
Oleh: Salsabilla Alfianti Salja
Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah, Universitas Islam Ar-Raniry, Banda Aceh
Judul tulisan ini merupakan gamabaran tentang pengemis- pengemis di Banda Aceh. Semakin lama, semakin banyak idenya untuk menarik perhatian masyarakat. Beragam cara mereka menarik perhatian para pemberi sedekah. Ada yang menggunakan kotak bertuliskan mohon bantuan, ada yang dengan cara menggantungkan mainan di leher dan bahkan saat ini banyak ditemukan pengemis berkostum badut.
Dengan menggunakan kostum-kostum badut yang unik dan menarik, mereka berhasil menarik minat anak-anak yang berada di dalam kendaraan yang berhenti di setiap simpang lampu lalu lintas (traffic lights). Biasnya kostum karakter kartun dan badut yang lucu dan bahkan ada yang menggunakan kostum supermen.
Selain itu, beberapa pengemis juga memanfaatkan media lain, seperti suara musik dari alat yang mereka bawa, untuk meningkatkan peluang memperoleh sumbangan. Para pengemis berkedok badut ini sering melakukan aksinya di berbagai lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, tempat kuliner, rumah ibadah, pombensin, tempat wisata, dan jalan utama.
Ada lagi yang menarik perhatian dengan menghidupkan suara musik dari media yang dibawa, kemudian berkeliling membawa kotak untuk wadah mengumpulkan uang dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini menyalahi fungsi badut yang sebenarnya dan menimbulkan persepsi bahwa badut yang semula tugasnya menghibur melalui aksi atau pertunjukan seperti sulap di acara-acara hiburan, ulang tahun, perayaan atau sirkus yang berinteraksi langsung dengan para penonton dengan memberikan hadiah kecil, atau melakukan permainan yang melibatkan penonton, terutama anak-anak, agar suasana menjadi lebih hidup dan menciptakan kesan positif bagi para penonton malah menjadi peminta-minta.
Ditinjau dari latar belakang kehidupan, sebagian besar pengemis, semua kkta akan berkata bahwa mereka berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu. Padahal ada juga yang terjebak dalam rutinitas mengemis karena kebiasaan atau pengaruh orang lain. Bila kita amati lebih dalam kehidupan pengemis di kota Banda Aceh, sebenarnya gaya hidup mereka tidak jauh berbeda dengan orang-orang miskin lain yang tidak mau dan malu mengemis. Banyak orang miskin, tetapi tidak mengemis.
Bahkan pengemis, bisa memiliki properti lebih banyak dibandingkan orang miskin lain. Banyak pengemis yang punya kendaraan seperti sepeda motor, becak mesin, menggunakan smart phone yang mahal dan lain-lain, namun mereka memilih mengemis sebagai profesi.
📚 Artikel Terkait
Padahal, secara kasat mata terlihat bahwa ia termasuk orang yang mampu, bukan yang kekurangan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa ia memilih mengemis, apakah dia juga salah satu yang terjebak dalam rutinitas mengemis karena kebiasaan atau pengaruh orang lain?
Selain itu, hal yang sangat memprihatinkan kita adalah ketika sering menemukan pengemis yang menjadikan anak atau bayinya sebagai alat untuk menarik simpati orang banyak seperti yang ditemui di beberapa tempat. Salah satunya daerah Darussalam. Ia membawa anaknya berkeliling untuk mengemis dan meminta-minta.
Kasus lainnya terjadi di salah satu tempat rekreasi yaitu Blang Padang, yang mana ditemukan bahwa pengemis di bawah umur menggunakan pakaian lusuh untuk menarik simpati dan tas yang sobek sebagai media untuk wadah menyimpan uang dari hasil meminta-minta.
Pengemis di bawah umur ini kerap memaksa para pengunjung untuk memberikannya uang, Jika belum diberi uang dia tidak mau pergi. Hal ini sangatlah mengganggu bagi sebagian orang yang sedang menikmati kebersamaan dengan teman, kerabat maupun keluarga.
Nah, maraknya pengemis di Banda Aceh terus terjadi, meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, mulai dari melakukan razia rutin untuk menertibkan dan membuat program-program rehabilitasi atau pelatihan setelah dilakukannya razia. Namun kenyataannya pengemis dengan berbagai kostum dan media ini tetap terlihat di beberapa sudut strategis kota. Pertanyaannya, apakah aktivitas mengemis di Aceh, karena Aceh banyak memiliki angka kemiskinan tinggi, sehingga dijuluki sebagai provinsi termiskin di Sumatera ?
Agaknya, melihat realitas yang ada selama ini, mengemis tidak selalu soal kemiskinan. Banyak faktor lain yang bikin mereka memilih jalan ini. Misalnya, ada yang sudah terbiasa, terus jadi tidak malu lagi, karena merasa ini cara mudah buat dapat uang. Selain itu, ketimpangan sosial juga ikut berperan. Kadang, orang yang mengemis, bukan benar-benar tidak punya apa-apa, tapi mereka melihat mengemis sebagai pekerjaan yang instan dan gampang.
Apalagi, di negara seperti Indonesia yang dikenal masyarakatnya dermawan, pengemis merasa selalu ada peluang untuk mendapatkan belas kasihan. Untuk mengurangi fenomena ini, kita perlu pendekatan yang lebih menyeluruh. Ada bebarapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, pemerintah bisa menciptakan lebih banyak peluang kerja buat orang-orang yang benar-benar butuh, supaya mereka tidak merasa harus mengemis.
Kedua, perlu dilakukan langkah membangun kesadaran dengan mengedukasi pengemis dan juga masyarakat, agar kita terbiasa memberikan bantuan lewat lembaga resmi, bukan langsung ke pengemis di jalan.
Ke tiga, selain itu, perlu pelatihan atau program pemberdayaan supaya mereka punya keterampilan untuk bekerja. Ke empat, aturan soal eksploitasi anak dalam kegiatan mengemis harus ditegakkan dengan tegas. Kalau semua ini dilakukan bareng-bareng, mulai dari pemerintah sampai masyarakat, kita bisa mengurangi jumlah pengemis dan membantu mereka menjalani hidup yang lebih baik.
Untuk itu, perlu solusi yang lebih kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi. Kita bisa membuat aplikasi khusus yang memungkinkan masyarakat melaporkan lokasi pengemis yang mencurigakan atau memberikan donasi langsung melalui lembaga resmi tanpa harus memberi uang langsung di jalan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






