Dengarkan Artikel
Oleh Risky Ramadhan Azwar
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh
Pemahaman tentang ketidaksetaraan gender telah mengalami evolusi signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Tidak lagi dipandang sebagai isu yang berdiri sendiri, gender kini dilihat sebagai bagian dari jejaring kompleks yang saling berkelindan dengan berbagai identitas sosial lainnya. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai interseksionalitas, pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Kimberley Crenshaw pada tahun 1989.
Pendekatan interseksionalitas, yang dipopulerkan oleh Prof. Kimberley Crenshaw, menyoroti pentingnya memandang isu-isu ketidakadilan dalam kerangka yang lebih luas. Di Indonesia, pemahaman ini sangat relevan, mengingat adanya beragam identitas yang saling berinteraksi. Misalnya, perempuan dari kelompok minoritas etnis, sering kali mengalami diskriminasi yang lebih kompleks dibandingkan dengan perempuan dari kelompok mayoritas.
Hasil dari interaksi ini menciptakan pengalaman diskriminasi yang unik dan berlapis. Pendekatan GEDSI (Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial) muncul sebagai respons terhadap kompleksitas ini. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengidentifikasi dan mengatasi prasangka negatif yang ditujukan kepada kelompok-kelompok rentan dengan berbagai lapisan kerentanan yang dimilikinya. Prinsip “tidak ada yang tertinggal” (leave no one behind) menjadi landasan dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.
📚 Artikel Terkait
Untuk mencapai keadilan dan kesetaraan yang substansial, diperlukan kebijakan yang mempertimbangkan interseksionalitas ini. Kebijakan afirmasi harus dirancang dengan mempertimbangkan berbagai lapisan identitas dan kerentanan yang dimiliki setiap kelompok masyarakat. Pengakuan terhadap keberpihakan dan penghapusan segala bentuk hambatan menjadi kunci dalam mewujudkan inklusi sosial yang bermakna.
Pemahaman tentang interseksionalitas ini penting dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman identitas yang sangat kaya. Tanpa mempertimbangkan kompleksitas ini, upaya mencapai kesetaraan gender berisiko mengabaikan realitas pengalaman kelompok-kelompok yang paling rentan dalam masyarakat.
Dalam menghadapi tantangan ketidaksetaraan di Indonesia, pendekatan interseksional membantu kita memahami bahwa solusi yang efektif harus mempertimbangkan keberagaman identitas dan pengalaman. Hanya dengan memahami dan mengatasi kompleksitas ini, kita dapat bergerak menuju masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua.
Membongkar lapisan identitas melalui pendekatan interseksionalitas akan membantu kita memahami dinamika kompleks yang ada dalam masyarakat Indonesia. Dengan mengakui dan menghormati keberagaman identitas, kita dapat berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan setara bagi semua.Mitigasi dan kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif dari semua pihak. Dengan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan dalam menghadapi bencana, kita dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa ketika bencana terjadi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





