Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Tulisan saya berjudul “ Menekan Jumlah Perokok Anak”, yang dipublikasikan di Waspada.id hari ini, 3 Oktober 2024, saya share atau bagi alias distribusikan ke beberapa grup WA. Tujuannya untuk berbagi dengan teman-teman yang ada di dalam grup WhatsApp tersebut. Bagi saya, berbagi informasi dan berbagi ilmu itu penting. Berbagi itu indah dan banyak faedah, namun tergantung pula pada si penerima, suka atau tidak, mau atau tidak menerima kıriman tulisan tersebut. Kalau tidak suma atau tidak mau, tentu bisa dikomunikasikan dengan baik dan bijak.
Bagi saya perlu, karena dengan informasi dan atau tulisan yang saya bagikan atau share itu, saya sebenarnya sudah sekaligus melakukan silaturahmi dengan kawan atau sahabat yang ada di dalam grup itu. Silaturahmi saya anggap perlu dan penting.
Namun, kalau tidak suka dengan silaturahmi, juga bisa disampaikan secara bijak. Jadi mudah sekali hidup ini, kalau dibuat mudah, ya kan?
Terus terang, setiap kali saya share tulisan kepada sahabat-sahabat yang ada di grup-grup WA tersebut, atau media sosial lainnya, saya ingin tulisan tersebut mendapat perhatian, ingin dibaca dan lebih bahagia lagi kalau mendapat tanggapan atau respon dari setiap pembaca. Respon yang paling baik adalah membacanya dan lebih baik lagi kalau tanggapan itu berupa tulisan tandingan sebagai bagian dari polemik yang positif. Ya, benar ya, tanggapan atau respon tersebut bisa menjadi peel cut bagi saya untuk tetap produktif, walau sudah berada di usia senja. Maka, sangat bahagia kalau diulas dalam bentuk tulisan. Misalnya menjadi polemik.
Nah, tulisan saya dengan judul seperti saya sebutkan di atas, mendapat tanggapan atau respon dari pembaca. Tanggapan-tanggapan yang menyemangati dan juga mendiskusikan lebih dalam. Respon yang dangkal. Dari sekian banyak grup WhatsApp yang saya share, group WA FAME chapter Pidie yang mendiskusikan hal ini secara intens. Tanggapan pertama datang dari Muhammad Syawal, yang bertanya, “ Kenapa tidak sekalian ditekankan jumlah perokok dewasa, Pak? Kan sama-sama tidak bagus dari perspektif kesehatan?
Benar. Nah, sebenarnya saya sudah pernah menulis soal perokok pada 8 Mai 2012 di Kompasiana. Judul tulisan saya itu adalah “ Perokok itu Jorok”. Artinya, masalah itu sudah pernah ditulis, walau tidak banyak yang menanggapi ya. Hal ini juga ada terbicarakan dalam tulisan saya yang dimuat d Potretonline.com- dengan judul “ Perokok Pemula Semakin Menggila”.
Jadi, pertanyaan itu, sebenarnya teejawab dalam tulisan tersebut, karena ketika menampilkan data perokok anak, sudah disebutkan jumlah perokok dewasa. Namun, Muhammad Syawal kemudian melanjutkan hasıl amatannya bahwa, selama lingkungannya adalah perokok, orang dewasa ramai yang merokok, keluarganya juga perokok, akses untuk merokok mudah. Itu susah untuk kita tekan anak-anak kita agar tidak merokok
Lebih lanjut, ia menambahkan pula bahwa di level sekolah pun, hanya beberapa sekolah saja yang serius dan peduli terhadap problem itu. Begitulah adanya. Lalu, Murizal Hamzah, seorang teman yang telah lama berlanglang buana di Jakarta, teman yang begitu faham masalah ini juga memberikan respon yang mengarah pada sebab musabab anak merokok. Kata beliau,
“ Ayahnya juga perokok. Ada orangtua merokok di dalam rumah. Ikan duluan busuk dari kepala, maka untuk stop rokok. Orangtua tidak merokok”.
Nah, bisa tidak ya, kalau orangtua yang menjadi contoh, model atau teladan bagi anak-anak yang sedang suka-sukanya meniru, darı orang yang lebih tua, tidak merokok? Sebenarnya pasti bisa, kalau mau. Masalahnya banyak orang yang tidak mau meninggalkan rokok dari ke seharian mereka. Hal ini penting, mengingat
📚 Artikel Terkait
Muhammad Afnizal kemudian memberikan perspektif lain. Katanya “ tetangga saya, ayahnya tidak merokok. Dalam keluarganya tidak ada merokok, anaknya sangat keras dilarang merokok, namun sering ribut karena sang anak ketahuan merokok”. Ayahnya ke sekolah karena curiga di sekolah tidak ada tindakan indisipliner terhadap perokok, namun tegas larangan merokok di sekolah, teman bermainnya memang merokok, dan sebagainya. Bung Muhammad Afnizal melanjutkan pendapatnya.
“Banyak variabel yang bisa dilakukan untuk menghentikan rokok, namun BERBASIS KEARIFAN LOKAL, Bisa dimulai dari Fatwa Haram merokok, rokok haram dijual oleh kedai/kios/grosiran ya karena HARAM, orang yang merokok akan dilabeli melakukan perbuatan nista dan haram. Saya banyak sekali bersinggungan dengan “perokok” mulai dari “Dayah” saya mondok dulu. Dikarenakan mereka menganggap rokok makruh, toh banyak Tengku/ustadz yang merokok. Banyak kalangan perokok yang berdalil (hakikatnya berdalih) bahwa dengan rokok surah surah kitab akan semakin mudah dimengerti dan dipaparkan.
Murizal Hamzah menyela dan berkata, ulama di daerah tertentu membolehkan merokok karena ulama punya kebun tembakau.
Muhammad Syawal kemudian kembali menambah, contoh lain. Konon Abusyiek ureung gasien ( Orang Miskin) pernah berdebat masalah rokok dengan gurunya di pesantren, akhirnya ia menjadi begitu. Ia mempertentangkan soal rokok yang bila dilakukan murid adalah pelanggaran, tapi oleh gurunya tidak apa-apa. Lebih lanjut sebut ya, terkadang di lembaga pendidikan kita memakai standar ganda soal ini, meskipun beberapa soal lain juga begitu.
Sementara aktivitas merokok di kalangan orang Dayah, Muhammad Afnizal menduga dan menceeitakan pengalaman beliau dalam hal kasus merokok di dayah. Katanya di Aceh banyak “Tengku”, yang membolehkan rokok. İni dikarenakan mereka perokok aktif, Namun Pimpinan Dayah tidak merokok. Beliau sangat menentang tindakan merokok, tapi sempat ada Tengku yang tidak mengajar lagi di Dayah kami dikarenakan beliau tidak bisa menghentikan rokok (isu nya begitu), Wallahu ta’ala alam.
Namun, isu itu dianggap tidak benar, hingga pimpinan Dayah kami melunak. Toh beliau mana mampu menolak fatwa “ijma'” di Aceh yang menyebutkan Rokok Makruh. Teman saya di MAN Lhokseumawe dulu yang berasal dari kelompok Muhammadiyah, mereka tidak merokok karena keras pengharaman rokok di komunitas tersebut. Hingga beberapa teman saya satu kos dulu di Banda Aceh yang berasal dari Labuhan haji tengah (di sana ramai Muhammadiyah), mereka tidak merokok semua.
Untuk mengantisipasi dan mengupayakan untuk menurunkan angka perokok anak, Muhammad Syawal menyarakan kepada semua pihak. Katanya, “ Mungkin bisa mulai dari Anggota Group ini, (MAAF), saya yakin anggota di sini lebih “elit”, bukan bagian masyarakat “awam” yang minim literasi. Apakah kita semua di sini Tidak merokok? Atau? Mereka punya alasan kuat yang belum kita pahami, bahwa kadang merokok itu mungkin lebih bagus. Inilah yang menjadi salah satu mengapa memberantas budaya merokok itu sulit, karena yg seharusnya menjadi patron tidak berlakon sebagai teladan.
Nah, persoalan rokok, tampaknya memang tidak pernah selesai diperbincangkan. Masalah merokok katanya memang menjadi persoalan kompleks. Di beberapa masyarakat, termasuk tempat kita, merokok sudah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan sehari-hari. Merokok sering kali dilihat sebagai simbol kedewasaan atau status sosial tertentu, yang membuatnya sulit untuk dihilangkan.
Oleh sebab itu, Murizal Hamzah melanjutkan ucapan atau responnya dengan sebuah ungkapan, “Merokok atau Hana ( Tidak) merokok cenderung pada aksi. Jangan berdebat dengan perokok, karena perokok yang menang.
Maka, supaya tidak berurusan dengan pengalaman dan interpretasi subjektif manusia. Yang jauh dari kebenaran, yang sering hanya mencari pembenaran.
Perokok akan sadar ketika sudah di meja operasi untuk pasang ring. Fakat membuktikan bahwa “ Nyaris tiap bulan ada warga Aceh pasang ring jantung di Jakarta.
Muhammad Afnizar menutup” Memang Benar, penyakit Kardiovaskular seperti stroke dan jantung iskemik adalah penyakit pembunuh nomor 1 di Indonesia, namun merokok adalah salah satu variabel, sementara variabel besar lainnya seperti faktor risiko stroke lebih sering disebabkan karena gaya hidup yang kurang baik, pola makan yang tidak teratur, asupan gizi yang tidak seimbang, konsumsi alkohol, kurang bergerak secara aktif serta jarang berolahraga. Bagaimana itu? Apakah budaya konsumsi gula berlebihan di warkop hingga lingkaran pinggang Sudah semakin membuncit sama bahayanya dengan merokok? Atau Gak apa-apa, karena kita “belum bisa meninggalkan” , masih nikmat soalnya, layaknya perokok. Saya disini sama sekali tidak membela perokok, saya sendiri anti rokok, namun demikian analisisnya supaya tidak ada standar ganda dalam menilai fenomena ini.
Itulah perbincangan menarik mengenai merokok yang bisa kita sebut bagai mengurai benang kusut. Peningkatan prevalensi perokok anak atau perokok usia dini di negeri yang memiliki banyak petani tembakau ini, menempatkan masalah rokok sebagai sebuah sengkarut.
Terima kasih banyak Bung Murizal Hamzah, Muhammad Afnizal dan Muhammad Syawal yang dengan serius telah mendiskusikan hal ini di grup WhatsApp FAME chapter Pidie. Perbincangan ini berhasil saya Kemas dalam sebuah tulisan baru.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




