POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

RedaksiOleh Redaksi
April 18, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Bagian 15

Bussairi D. Nyak Diwa

 

Melewati Kompleks SMP, jalan mulai tak bersahabat. Di sana-sini jalan digenangi air dan becek karena semalam diguyur hujan. Mobil terseok-seok berjalan di antara gundukan-gundukan pasir. Terkadang mobil oleng ke kiri, lain kali oleng ke kanan. Kami, para penumpang mobil Jib TAF Solar tahun 70-an itu terombang-ambing seperti penumpang kapal di tengah lautan luas; tak tentu arah. Tapi karena sang sopir -Abang Iparku itu- sudah terbiasa menyetir di jalan bergelombang seperti ini, maka mobil tetap berjalan dengan normal. Aku yang duduk di belakang terhuyung-huyung, sesekali kepalaku terantuk ke dinding mobil. Sementara kakakku bersama anaknya yang masih kecil duduk di depan, kadang-kadang menggerutu, mengutuk jalan yang becek dan bergelombang.

Situasi jalan Bakongan – Banda Aceh tahun delapan puluhan memang masih sangat jelek. Maklum, waktu itu jalan belum ada yang beraspal. Jangankan jalan beraspal, aspal saja waktu itu belum dikenal. Jadi, jalan hanya sekadar dapat dilewati, itu pun sangat susah. Jika musim hujan jalan menjadi becek dan di tempat-tempat tertentu terjadi banjir. Apabila sedang terjadi banjir, maka perjalanan dari Bakongan ke Banda Aceh bisa berminggu lamanya. Sebaliknya bila musim kemarau maka jalan-jalan akan berdebu dan air sungai akan mengering. Karena kebanyakan sungai atau kuala di jalan menuju Banda Aceh dihubungkan oleh rakit, maka jika musim kemarau datang, air sungai menjadi dangkal dan tentu saja akan susah dilewati oleh rakit. Jadi, musim hujan atau musim kemarau sama saja situasinya. Kecuali jika musim sedang berlangsung normal-normal saja, yakni antara musim kemarau atau musim penghujan.

Kalau tidak salah, seingat saya, perjalanan antara Bakongan – Banda Aceh di tahun delapan puluhan melewati kurang lebih 40 buah rakit. Dimulai dengan rakit Kuala Tuha yang terletak antara Rantau Sialang dengan Kandang Kecamatan Kluet Selatan. Sungai Kuala Tuha termasuk kecil karena terletak di tepi laut. Tapi terkadang di rakit ini sering terjadi antrean yang memanjang apabila musim kemarau. Di musim kemarau kuala ini menjadi dangkal sehingga sangat susah untuk dilewati. Agar dapat dilewati oleh rakit yang bermuatan, harus menunggu air pasang naik. Untuk menunggu air pasang naik terkadang sampai seharian kendaraan macet di sini. Rakit kedua adalah rakit Sungai Kandang yang terletak di pesisir Kecamatan Kluet Selatan, sering dikenal dengan istilah Ulee Raket. Sungai ini sangat luas dengan arusnya yang tidak begitu deras. Di rakit ini jarang terjadi antrean, kecuali menunggu rakit yang sedang di seberang. Rakit di sungai Kandang ini agak besar sehingga bisa memuat 4 buah mobil dan bus beserta sepeda motor dan penumpang sekaligus sekali jalan. Di Ulee Raket ini selalu ramai, karena di sini orang-orang banyak yang singgah untuk makan, shalat, dan lain-lain, baik siang maupun malam. Warung-warung banyak terdapat di sini, baik warung kopi maupun warung makan/rumah makan. Demikian juga dengan kedai-kedai kelontong berjejer di sepanjang pinggir jalan Ulee Raket. Jika malam hari terasa sangat semarak, meskipun hanya diterangi oleh lampu petromak (strongkeng). Maklum, waktu itu lintrik (PLN) belum merata. Mesin listrik hanya baru ada di Bakongan, itu pun bantuan langsung dari Negeri Belanda.

Meninggalkan Ulee Raket, mobil memasuki Simpang Lee. Karena tidak ada keperluan, kami tidak singgah di Kotafajar. Waktu itu Kotafajar masih sangat sepi. Ruko (Rumah Toko) di Kotafajar masih dapat dihitung dengan jari tangan jumlahnya. Mobil atau bus jarang masuk ke Kotafajar karena kotanya tidak terdapat di lintasan jalan negara, tapi harus masuk ke dalam melalui persimpangan arah ke Utara kurang lebih tiga kilometer. Hanya bus atau mobil penumpang umum saja yang masuk ke Kotafajar, itu pun kalau ada sewa/penumpang. Sementara mobil pribadi lebih memilih melewatinya saja.

📚 Artikel Terkait

KEKERASAN KIAN MENINGKAT, P2TP2A PERKUAT SINERGISTAS LAYANAN

Puncak Kesesatan

Kampung- Kampung Menelan Maut

Puisi Puisi Heri Isnaini

Demikian jugalah dengan kami. Melewati jalan Simpang Lee ke Tapaktuan perjalanan sedikit nyaman. Hal ini disebabkan jalan sedikit membaik dan tidak terdapat rakit dalam perjalanan ini. Jalan yang berbatu-batu dan keras mendominasi di sepanjang perjalanan. Tak ada warung dan toko di sepanjang jalan ini, yang ada hanya rumah-rumah penduduk di pinggir-pinggir jalan. Sebelum sampai ke Tapaktuan, meninggalkan Kampung Terbangan ada tiga gunung yang harus dilintasi. Meskipun di gunung-gunung ini jalannya berliku-liku, tetapi sedikit menghibur karena menyodorkan pemandangan yang memanjakan mata. Panorama laut mendominasi sepanjang perjalanan di pegunungan ini. Yang paling menawan adalah Gunung Panorama Hatta. Konon, gunung ini dinamakan Panorama Hatta karena di puncak gunung inilah dulu Sang Proklamator Mohammad Hatta singgah sejenak melepas lelah sambil menyaksikan keindahan alamnya.

(Bersambung)  

 Tentang Penulis

Drs. Bussairi D. Nyak Diwa atau dikenal dengan nama pena Bussairi Ende, lahir di Bakongan pada 10 Juli 1965. Menyelesaikan sekolah tingkat SD dan SMP di kampung halaman Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Kemudian tahun 1983 hijrah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA hingga menyelesaikan S-1 di PBSI FKIP Unsyiah, 1991.

Menulis puisi dan Cerpen sejak duduk di bangku SMA dan terus berkembang saat berstatus mahasiswa di Kampus Unsyiah. Bersama kawan-kawan mahasiswa pernah mendirikan Surat Kabar Mahasiswa Unsyiah Monumen pada tahun 1989 dan Majalah Kalam FKIP Unsyiah tahun 1990. Pernah memimpin Teater Gemassatrin dan menjadi Ketua Umum Gemassatrin FKIP Unsyiah Periode 1988 – 1992. Hingga saat ini baru menghasilkan dua Kumpulan Puisi Tunggal, empat Kumpulan Puisi Bersama, dan satu Kumpulan Cerpen Tunggal.

Pernah memenangi beberapa Lomba Menulis, diantaranya Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Depdiknas tahun 2009, Juara III Lomba Menulis Buku Pengayaan Pusbuk Depdiknas, tahun 2010, mendapat penghargaan dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Depdiknas, tahun 2011, dan lain-lain.  

Selama menjadi guru pernah meraih beberapa penghargaan dan prestasi, diantaranya Penghargaan Sebagai Guru Pelopor IPTEK dari LIPI tahun 2007, Penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Nasional dari Bupati Aceh Selatan tahun 2011, Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2010, Juara Harapan II Guru Mata Pelajaran Berprestasi Tingkat Provinsi Aceh tahun 2016. Saat ini menjadi Koordinator Daerah IV Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Provinsi Aceh dan menjadi Kepala Sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Aceh Selatan.  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

GELISAH PADA MUSIM NAN BERUBAH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00