• Latest

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

April 18, 2024
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 1001348646_11zon | Biografi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 1001353319_11zon | Biografi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU - 1001361361_11zon | Biografi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Redaksi by Redaksi
April 18, 2024
in Biografi, Kisah Hidup, Roda Kehidupan
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Bagian 15

Bussairi D. Nyak Diwa

 

Baca Juga
  • Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain
  • Nurhayati Tak Kunjung Dapat Rumah Bantuan, Numpang Hidup di Dayah

Melewati Kompleks SMP, jalan mulai tak bersahabat. Di sana-sini jalan digenangi air dan becek karena semalam diguyur hujan. Mobil terseok-seok berjalan di antara gundukan-gundukan pasir. Terkadang mobil oleng ke kiri, lain kali oleng ke kanan. Kami, para penumpang mobil Jib TAF Solar tahun 70-an itu terombang-ambing seperti penumpang kapal di tengah lautan luas; tak tentu arah. Tapi karena sang sopir -Abang Iparku itu- sudah terbiasa menyetir di jalan bergelombang seperti ini, maka mobil tetap berjalan dengan normal. Aku yang duduk di belakang terhuyung-huyung, sesekali kepalaku terantuk ke dinding mobil. Sementara kakakku bersama anaknya yang masih kecil duduk di depan, kadang-kadang menggerutu, mengutuk jalan yang becek dan bergelombang.

Situasi jalan Bakongan – Banda Aceh tahun delapan puluhan memang masih sangat jelek. Maklum, waktu itu jalan belum ada yang beraspal. Jangankan jalan beraspal, aspal saja waktu itu belum dikenal. Jadi, jalan hanya sekadar dapat dilewati, itu pun sangat susah. Jika musim hujan jalan menjadi becek dan di tempat-tempat tertentu terjadi banjir. Apabila sedang terjadi banjir, maka perjalanan dari Bakongan ke Banda Aceh bisa berminggu lamanya. Sebaliknya bila musim kemarau maka jalan-jalan akan berdebu dan air sungai akan mengering. Karena kebanyakan sungai atau kuala di jalan menuju Banda Aceh dihubungkan oleh rakit, maka jika musim kemarau datang, air sungai menjadi dangkal dan tentu saja akan susah dilewati oleh rakit. Jadi, musim hujan atau musim kemarau sama saja situasinya. Kecuali jika musim sedang berlangsung normal-normal saja, yakni antara musim kemarau atau musim penghujan.

Baca Juga
  • Narkoba Menghancurkan Hidupku
  • Aku Berhenti Bekerja

Kalau tidak salah, seingat saya, perjalanan antara Bakongan – Banda Aceh di tahun delapan puluhan melewati kurang lebih 40 buah rakit. Dimulai dengan rakit Kuala Tuha yang terletak antara Rantau Sialang dengan Kandang Kecamatan Kluet Selatan. Sungai Kuala Tuha termasuk kecil karena terletak di tepi laut. Tapi terkadang di rakit ini sering terjadi antrean yang memanjang apabila musim kemarau. Di musim kemarau kuala ini menjadi dangkal sehingga sangat susah untuk dilewati. Agar dapat dilewati oleh rakit yang bermuatan, harus menunggu air pasang naik. Untuk menunggu air pasang naik terkadang sampai seharian kendaraan macet di sini. Rakit kedua adalah rakit Sungai Kandang yang terletak di pesisir Kecamatan Kluet Selatan, sering dikenal dengan istilah Ulee Raket. Sungai ini sangat luas dengan arusnya yang tidak begitu deras. Di rakit ini jarang terjadi antrean, kecuali menunggu rakit yang sedang di seberang. Rakit di sungai Kandang ini agak besar sehingga bisa memuat 4 buah mobil dan bus beserta sepeda motor dan penumpang sekaligus sekali jalan. Di Ulee Raket ini selalu ramai, karena di sini orang-orang banyak yang singgah untuk makan, shalat, dan lain-lain, baik siang maupun malam. Warung-warung banyak terdapat di sini, baik warung kopi maupun warung makan/rumah makan. Demikian juga dengan kedai-kedai kelontong berjejer di sepanjang pinggir jalan Ulee Raket. Jika malam hari terasa sangat semarak, meskipun hanya diterangi oleh lampu petromak (strongkeng). Maklum, waktu itu lintrik (PLN) belum merata. Mesin listrik hanya baru ada di Bakongan, itu pun bantuan langsung dari Negeri Belanda.

Meninggalkan Ulee Raket, mobil memasuki Simpang Lee. Karena tidak ada keperluan, kami tidak singgah di Kotafajar. Waktu itu Kotafajar masih sangat sepi. Ruko (Rumah Toko) di Kotafajar masih dapat dihitung dengan jari tangan jumlahnya. Mobil atau bus jarang masuk ke Kotafajar karena kotanya tidak terdapat di lintasan jalan negara, tapi harus masuk ke dalam melalui persimpangan arah ke Utara kurang lebih tiga kilometer. Hanya bus atau mobil penumpang umum saja yang masuk ke Kotafajar, itu pun kalau ada sewa/penumpang. Sementara mobil pribadi lebih memilih melewatinya saja.

Baca Juga
  • Perempuan di Kebun Pala
  • Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Demikian jugalah dengan kami. Melewati jalan Simpang Lee ke Tapaktuan perjalanan sedikit nyaman. Hal ini disebabkan jalan sedikit membaik dan tidak terdapat rakit dalam perjalanan ini. Jalan yang berbatu-batu dan keras mendominasi di sepanjang perjalanan. Tak ada warung dan toko di sepanjang jalan ini, yang ada hanya rumah-rumah penduduk di pinggir-pinggir jalan. Sebelum sampai ke Tapaktuan, meninggalkan Kampung Terbangan ada tiga gunung yang harus dilintasi. Meskipun di gunung-gunung ini jalannya berliku-liku, tetapi sedikit menghibur karena menyodorkan pemandangan yang memanjakan mata. Panorama laut mendominasi sepanjang perjalanan di pegunungan ini. Yang paling menawan adalah Gunung Panorama Hatta. Konon, gunung ini dinamakan Panorama Hatta karena di puncak gunung inilah dulu Sang Proklamator Mohammad Hatta singgah sejenak melepas lelah sambil menyaksikan keindahan alamnya.

(Bersambung)  

 Tentang Penulis

Drs. Bussairi D. Nyak Diwa atau dikenal dengan nama pena Bussairi Ende, lahir di Bakongan pada 10 Juli 1965. Menyelesaikan sekolah tingkat SD dan SMP di kampung halaman Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Kemudian tahun 1983 hijrah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA hingga menyelesaikan S-1 di PBSI FKIP Unsyiah, 1991.

Menulis puisi dan Cerpen sejak duduk di bangku SMA dan terus berkembang saat berstatus mahasiswa di Kampus Unsyiah. Bersama kawan-kawan mahasiswa pernah mendirikan Surat Kabar Mahasiswa Unsyiah Monumen pada tahun 1989 dan Majalah Kalam FKIP Unsyiah tahun 1990. Pernah memimpin Teater Gemassatrin dan menjadi Ketua Umum Gemassatrin FKIP Unsyiah Periode 1988 – 1992. Hingga saat ini baru menghasilkan dua Kumpulan Puisi Tunggal, empat Kumpulan Puisi Bersama, dan satu Kumpulan Cerpen Tunggal.

Pernah memenangi beberapa Lomba Menulis, diantaranya Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Depdiknas tahun 2009, Juara III Lomba Menulis Buku Pengayaan Pusbuk Depdiknas, tahun 2010, mendapat penghargaan dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Depdiknas, tahun 2011, dan lain-lain.  

Selama menjadi guru pernah meraih beberapa penghargaan dan prestasi, diantaranya Penghargaan Sebagai Guru Pelopor IPTEK dari LIPI tahun 2007, Penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Nasional dari Bupati Aceh Selatan tahun 2011, Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2010, Juara Harapan II Guru Mata Pelajaran Berprestasi Tingkat Provinsi Aceh tahun 2016. Saat ini menjadi Koordinator Daerah IV Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Provinsi Aceh dan menjadi Kepala Sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Aceh Selatan.  

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

GELISAH PADA MUSIM NAN BERUBAH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com