Rabu, April 22, 2026

17 RANGKAP SAJAK HUJUNG PETANG

April 2024
Oleh: Redaksi

 

Rosli K. Matari
Malaysia

Tuan Tabrani
yang saya hormati.
Dikirimkan, ini pun sajak juga
saya tulis seimbas senja,
meminjam huruf-huruf yang
sudah agak pudar dari bayang.

Sajak ini di Pantai Kemayang,
pantai timur Semenanjung
pada peta, hadapan
bergelombang Laut China Selatan.

Jauh dari Aceh, kecuali deru
angin, ombak, dan rhu
itu sahaja
tentu sama, di sana.

Sepi di bawah ketapang ini
saya mengenang, usia yang
berdebu, selalu pergi.
Susup-sasap, hilang.

Selalu saya tulis puisi
mengungkap daun, bayang
mengingat, suatu hari
saya akan ke titik hujung.

Hidup ini mudah hancur.
Tinggal kubur,
dan daun kemoja gugur.

Tetapi puisi
kekal, abadi
walau saya tak ada lagi.
Setitik noktah pun,
tak hilang seperti embun.

Ah, sedang apa, agaknya
Mustiar di Meulaboh,
tentu mengarang ombak, senja
rawan, cinta, dan subuh.

Puisi tak selesai
mungkin disimpan mimpi.

Adinda Hamdani Mulya,
lama tak dengar
berita,
apa-apa khabar.

Sibuk mendidik, ya
ajarlah anak bangsa
ilmu itu cahaya
dari dunia ke Syurga.

Silap doktor, seorang sahaja
pesakit mati.
Silap pendidik, tahu ya
rosak satu generasi.

Sdr. Zab Bransah,
saya lupa nama daerah
puisinya indah-indah
seperti fajar, horizon cerah.

Tetapi malam-malam,
saya tahu dia suka ngopi
menulis puisi, segala pendam
dari kenangan terendam.

Ya, luluh-lantak, hidup ini
tidak pernah mudah
indah bukan kerana berlari,
tetapi kerana pernah rebah.

Luka,
itulah kehidupan, sebenarnya.

Dalam hidup ini, seribu bunga
ah, gugur meninggalkan kita.

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist