POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengejar Impian untuk Ibuku

RedaksiOleh Redaksi
March 28, 2024
Mengejar Impian untuk Ibuku
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh : HALIMATUN SAKDIAH
Siswi Kelas XII Unggul-2
SMAN 1 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara

SOSOK ayah yang katanya sebagai cinta pertama anak perempuannya tidak sepenuhnya benar, tidak sedikit anak perempuan yang tidak merasakan cinta seorang ayah dari kecil.

Mungkin memang karena ayahnya sudah tiada sejak kecil atau memang tidak mengetahui siapa sosok ayahnya, tetapi sebagai anak perempuan yang memang kehilangan sosok ayah dari kecil, aku menuliskan ini.

Mungkin kurang lebih dirasakan oleh para anak perempuan lainnya yang tidak mendapatkan sosok ayah di dalam hidupnya atau di sebagian hidupnya.

Hidup ini adalah sebuah hal yang sangat penting dan berguna bagi setiap manusia. Salah satunya adalah ketika mempunyai kehidupan yang sederhana, akan tetapi sangat bermakna untuk dijalani.

Memiliki keluarga yang lengkap dan sempurna adalah impian dan keinginan terbesarku hingga saat ini.

Aku selalu bermimpi mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia, berharap semua itu menjadi sebuah kenyataan.

Huh…,ternyata aku salah. Semua itu hanya mimpi yang mustahil menjadi sebuah kenyataan. Aku hanya seorang anak perempuan biasa yang sejak kecil tinggal bersama ibu di rumah yang sangat sederhana dan jauh dari kata sempurna.

Seiring berjalannya waktu aku mulai tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang menyebalkan bagi ibu. Walaupun menyebalkan, tetapi ibu tetap menyayangiku dan menjagaku di setiap waktu.

Terkadang aku melihat anak perempuan lain yang selalu bersama ayahnya. Mengapa aku tidak seperti itu ibu?

Ibu menjawab, nak…! ayahmu itu disayang sama Allah, makanya Allah panggil ayah cepat dibanding kita.

Dengan wajah sedih dan menangis ibu tidak menjawab lagi dan aku menatap wajah ibu yang dipenuhi dengan kesedihan.

Setelah itu, aku tidak bertanya lagi kepada ibu karena akan sangat menyakiti perasaan ibu.

Setelah mendengar Jawaban dari ibu, aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa aku harus membahagiakan ibu tanpa membuatnya mengeluarkan air mata kesedihan. Aku ingin menjadi wanita yang mandiri, kuat, berkarakter, dan bertanggung jawab seperti ibuku.

“Ku jalani hari dengan kesendirian, tanpa seorang ayah yang mengisi ruang dan waktu.”

Rasanya kutertanam menahan luka yang dalam, hampir saja ku ingin putus asa, melihat keadaanku saat ini.Namun aku harus tetap tegar demi masa depan.”

📚 Artikel Terkait

AI dan Transformasi Pembelajaran di Kelas Digital

Keberkahan dalam Maulid Nabi Muhammad SAW

Wisata Kawasan Rebana Tengah Digodok Dalam Kawah Candramuka, Diawali Dengan Diskusi Grup Terpumpun

Siswi SMKN 1 Tapaktuan Raih 2 Medali Emas di Ajang OSPAM

Hari demi haripun berlalu, kini aku sudah melewati masa-masa kecilku dan berganti dengan masa remaja yang akan menjadi tumbuh dewasa.

Ternyata berat yah. Melewati semua fase sendirian, berjuang melawan keadaan. Kataku dalam hati.

Tetapi aku harus bisa karena ini semua demi masa depan dan keinginan terbesar ibuku agar aku bisa selalu berusaha untuk menggapai cita-cita yang selama ini aku mimpikan.

Pada suatu hari, aku sedang duduk di taman masjid Pasee untuk menghilangkan sedikit beban dan ingin menikmati suasana sejenak.

Di situ aku melihat ada seorang perempuan seusiaku bersama dengan ayah dan ibunya. Betapa bahagianya wanita itu bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang seorang ayah, dukungan dari seorang ayah untuk anaknya yang selama ini aku harapkan.

Ketika itu aku sedang duduk sambil memandang ke langit, langsung air mataku jatuh. ingin rasanya aku teriak mengeluarkan semua yang aku pendam.

Ingin rasanya aku memeluk sosok ayah dan berkata aku tak sanggup melewati semua ini sendirian, sampai kapan aku mampu bertahan.

Ya Allah bagaimana rasanya dekat dengan ayah, mendapatkan kasih sayangnya dan di dukung olehnya.

Terkadang, aku selalu berfikir mengapa aku tidak seperti mereka yang mempunyai segalanya untuk seorang ayah. Ibu adalah segalanya bagiku. Ia ayah sekaligus ibu dari dulu hingga saat ini.

Semandiri apapun aku, pasti ada waktu dimana aku ingin menjadi wanita manja seperti wanita lainnya. Bisa bersandar dan menangis dalam pelukan seorang ayah.

Tetapi keadaan memaksaku harus menjadi wanita kuat dan mandiri, harus tersenyum pada dunia setelah apapun masalah
yang menimpa dan rintangan yang menghadang, harus bisa mengusap air matanya ku sendiri.

Begitulah seterusnya, aku menjalani hari-hariku sebagai wanita yang harus mandiri dan mampu melewati setiap kesulitan yang terkadang menghampiri, hingga saat ini aku sudah tumbuh dewasa tanpa seorang ayah.

Terkadang orang bertanya, mengapa kamu bisa sekuat ini menghadapi semua yang kamu alami?

Aku menjawab, ini tidak seberapa dan tidak sebanding dengan perjuangan ibuku membesarkanku sendirian, berjuang mati-matian agar aku bisa seperti sekarang ini.

Ini saatnya aku ingin membahagiakan ibuku dengan menjadi wanita mandiri demi menggapai impianku dan mengangkat derajat ibu yang sudah merawatku dari kecil tanpa melibatkan orang lain dalam memikul beban dan bekerja keras menafkahiku.

Di sini aku selalu bersyukur dengan semua yang ada, karena belum tentu anak perempuan lain sekuat diriku. Tanpa aku sadari sebenarnya aku adalah sosok yang kuat. Mengapa demikian?

Karena ketika anak perempuan lain bisa merasakan pelukan seorang ayah, tapi aku dengan begitu kuatnya dapat menghadapi semuanya tanpa pelukan dari seorang ayah.

Banyak sekali hal yang pengen banget untuk kugapai akan tetapi dipatahkan oleh keadaan ekonomi dan lainnya.seperti yang sekarang lagi kurasakan, ingin sekali menjadi seorang mahasiswa, dengan begitu mungkin bisa untuk membahagiakan ibu dirumah.

Akan tetapi Allah mungkin memberikan jalan yang lain untuk kutempuh. Aku percaya bahwa skenario Allah lebih bagus dari apa yang aku rencanakan.

Aku memetik pesan moral dari kisah hiduku ini adalah, kita harus bersyukur karena aku masih memiliki seorang ibu.

Sosok yang begitu amat sangat mulia, yang seharusnya menjadikan ibu sebagai sosok cinta pertamaku yang begitu aku muliakan.

Sebagai anak perempuan yang harus tetap sabar dan kuat menjalani lika-liku kehidupan tanpa seorang ayah.

Selalu berusaha dan berdo’a agar bisa tetap mandiri dan penuh semangat untuk menggapai sebuah mimpi yang belum terwujud.

Senantiasa tetap tersenyum selalu dalam kondisi dan situasi apapun itu, agar dunia bisa melihat bahwa wanita kuat seperti aku bisa sukses dan berkarakter walau tanpa seorang ayah.(*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Menumbuhkan Kepedulian Siswa SDIT Muhammadiyah Manggeng di Bulan Ramadan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00