POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Menyelami Kehidupan Bangkok

RedaksiOleh Redaksi
June 8, 2023
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Azharsyah Ibrahim

 

Bangkok merupakan ibu kota dan kota terpadat di Thailand, dengan luas sekitar 1.568,7 kilometer persegi di delta Sungai Chao Phraya. Kota ini memiliki populasi lebih dari delapan juta jiwa yang mencakup sekitar 12,6 persen dari populasi total Thailand. Menurut beberapa data, Bangkok adalah pusat ekonomi Thailand dan jantung dari investasi dan pengembangan negara. Dikatakan juga bahwa Bangkok merupakan salah satu kota dengan pendapatan per kapita terbesar di Asia setelah Singapura, Hong Kong, Tokyo, Osaka-Kobe, dan Seoul.

57C87D9E-3468-43BD-99CF-92CA8A490F03.jpg

Gambar 8. Lalulintas di Bangkok

 

Sekilas jika menyusuri jalanan Kota Bangkok, perdagangan grosir dan eceran menjadi sektor yang signifikan. Iseng-iseng saya mencoba googling dan ternyata sektor ini merupakan yang terbesar yang berkontribusi dalam perekonomian kota, yaitu 24 persen dari produk bruto Kota Bangkok. Hal lainnya yang terlihat di Bangkok adalah sektor pariwisatanya yang dikelola dengan baik. Mereka sepertinya menyadari bahwa sektor ini merupakan semacam ‘undangan’ bagi orang luar untuk datang ke Bangkok. Semakin banyak yang datang, tentunya semakin banyak yang akan membeli sesuatu di Thailand. Tidak heran jika mereka melakukan hal-hal membuat kenyamanan wisatawan terjamin.

Ketika berjalan ke mall-mall atau tempat-tempat perbelanjaan tradisional di sekitaran Bangkok, tidak susah untuk menemukan makanan halal. Jika waktu shalat tiba, mushalla juga tersedia. Bahkan di mall-mall, mushalla yang tersedia sangat bagus dengan segala peralatan shalatnya. Bagi kami yang beragama Islam, hal ini tentu sangat membantu dan memberikan kenyamanan dalam mengunjungi kota ini.

 

Pedagang Kaki Lima

Tampilan Bangkok terlihat tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Di sepanjang jalan banyak sekali kios atau PKL yang berjualan. Hal yang berbeda adalah jika di Jakarta atau di Indonesia pada umumnya, hotel, walaupun sekelas hotel melati, merupakan tempat yang agak eksklusif, sehingga cenderung bersih dari pedagang kaki lima, tetapi di Bangkok hal itu tidak berlaku. Di depan hotel kami saja contohnya, di jalur masuknya, terutama di pagi hari, dipenuhi oleh PKL yang umumnya menjual makanan seperti sarapan pagi, gorengan, buah-buahan potong, minuman ringan, dan lain sebagainya.

Para pedagang itu umumnya berdagang di atas pedestrian sehingga sedikit banyak menghalangi pejalan kaki ataupun tamu yang ingin masuk ke hotel. Di sepanjang trotoar di depan hotel, baik sisi kiri maupun kanan juga dipenuhi para PKL yang berjualan. Pedagang-pedagang seperti tidak hanya ada di depan hotel kami tinggal saja, tetapi dapat ditemui di mana saja dengan jenis barang yang lebih kurang sama. Inilah yang kemudian secara perlahan-lahan menggerakkan ekonomi Bangkok dari bawah.

42DEC6DA-6B9A-4C47-8A79-1D7682EA9997.jpg

480E3F20-D036-48B1-BCF5-D7B41FE6A512.jpg

Gambar 9. Jajanan Pinggir Jalan di Bangkok

 

Barang-barang yang dijual oleh para pedagang ini relatif sama di setiap tempat, umumnya berupa souvenir bagi para turis, makanan ringan, dan juga buah-buahan potong. Karena banyaknya turis Indonesia yang datang, sebagian pedagang malah ada yang bisa berbahasa Indonesia dan menerima rupiah dalam transaksi jual beli. Untuk masalah harga, walaupun barang-barangnya relatif sama, tetapi jika tempatnya agak eksklusif, maka dipastikan harga akan berbeda dan lebih tinggi.

 

📚 Artikel Terkait

Disdukcapil Jalin Kerjasama dengan RSU Cempaka Lima

Terapkan Pola Makan Sehat, MIN 11 Banda Aceh Adakan Kegiatan Edukasi Gizi Seimbang

Rintik Hujan di Jalan Kasih: Bakti Sosial SMANSA Biak Warnai Ulang Tahun ke-43 dengan Cinta

Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri

Transportasi

Hal lain yang menggerakkan Bangkok adalah sisi transportasinya. Beragam pilihan transportasi tersedia di kota ini, baik yang tradisional maupun yang modern. Yang menjadi favorit saya selama berada di sini  adalah BTS Skytrain. Jika melihat dari apa yang ditampilkan di peta, BTS ini melintasi dua jalur, yaitu Sukhumvit Line and Silom Line. Untuk mengakses BTS, saya harus membeli sebuah kartu yang disebut Rabbit Skytrain Card, baik di konter tiket maupun di mesin-mesin yang tersedia (vending machine).

Pernah saya tanya ke petugasnya, jika rutin melakukan perjalanan dengan BTS dalam sehari, lebih baik membeli kartu unlimited harian seharga 120 Bath. Tetapi karena saya dan teman-teman hanya menggunakannya sekali saja dalam sehari, kami biasanya hanya membeli single journey card seharga 16 Bath sekali jalan tergantung jarak.

4DA8C68C-CAB0-4D1E-BC50-BE9635A1A66E.jpg

Gambar 10. Bangkok Train Skyline (BTS)

 

Transportasi lain yang bisa jadi pilihan adalah Tuk Tuk, alat transportasi yang mirip dengan perpaduan becak dengan bajaj di Indonesia. Tuk tuk bisa menampung hingga empat orang di kursi belakang yang terbuka dengan penutup di bagian atasnya. Teman-teman yang tinggal disini tidak merekomendasi menggunakan transportasi ini seringkali drivernya mematok harga tinggi untuk para turis internasional. Jika pintar menawar mungkin dapat harga yang bagus, tetapi jika tidak maka akan tertipu.

07B6B6FF-6B6C-4356-A5FA-95A0CA7FD509.jpg

6E60EE15-6343-40E8-9F19-DC11006B9E9E.jpg

Gambar 11. Tuk Tuk (kiri) dan Bus (kanan) di Bangkok

 

Naik taksi mungkin jauh lebih aman dan murah serta nyaman. Transportasi online juga ada disini, tetapi ketika saya cek harga, tidak jauh berbeda dengan taksi konvensional bahkan kadang lebih mahal. Sepertinya pemerintah membuka keran untuk bersaing secara normal dengan taksi biasa. Tinggal bagaimana pelayanan yang diberikan. Taksi akan menjadi cara transportasi yang cepat dan nyaman jika ingin keliling Bangkok kalau tidak macet total. Sama seperti di Jakarta, semua taksi di Bangkok juga sudah dilengkapi dengan AC dengan tarif minimalnya yaitu 35 baht dan rata-rata perjalanan di Bangkok membutuhkan 100 baht. Tanda berupa lampu berwarna merah menandakan bahwa taksi tersebut kosong. Begitu argo dijalankan, kita akan langsung melihat tarif sebesar 35 baht pada layar argo.

79948184-8FE7-48AA-876D-214C5655CDE7.jpg

C79FF17B-8632-4E49-8BC2-F551F11EEAFA.jpg

Gambar 12. Taksi (kiri) dan Van Penumpang (kanan) di Bangkok

 

Bentuk transportasi lain dalam Kota Bangkok adalah Bus  yang merupakan moda transportasi umum paling murah. Akan tetapi, karena banyaknya jalur yang dilalui dan penomoran bus menggunakan bahasa Thailand, naik bus agak sedikit membingungkan sekaligus menantang.

Selain itu, Express Boat yang mengelili sungai Chao Phraya juga sering dijadikan alat transportasi umum. Kami pernah mencoba naik boat ini. Tarifnya antara 15 – 60 THB. Transportasi ini menghubungkan pusat kota Bangkok dan Nonthaburi, provinsi di wilayah utara Bangkok. Pada akhir pekan, perahu ini juga menawarkan perjalanan wisata bagi para turis. Jika mau disewa secara khusus, juga tersedia opsi untuk disewa secara harian. Satu lagi bentuk transportasi yang terlihat adalah sejenis angkot di Jakarta, tetapi bentuk terbuka, hanya diberikan atap dan besi pembatas. Tarif sekali jalan, berapapun jaraknya tetap 7 THB. Walaupun kelihatan menarik, saya tidak sempat mencoba jenis transportasi ini.

85585E35-BC6D-4DA8-88AA-5AE4440D7F81.jpg

5DC61A98-ECDF-4FEF-A0B4-B2C8AE07B6D0.jpg

Gambar 13. Boat yang melintasi sungai Chao Phraya (kiri) dan Angkutan umum

 

Jalanan

Jalanan kota Bangkok sama saja dengan Kota Jakarta, tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraannya. Banyak jalanan sempit yang hanya cukup dilalui oleh satu mobil, tetap juga dilalui oleh relatif banyak mobil karena terbatasnya jumlah jalan yang tersedia. Sama seperti di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, setir kenderaan berada di sebelah kanan, dan kendaraan melaju dari sebelah kiri. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi pejalan kaki karena secara default saya melihat bahwa pejalan kaki kalau berpapasan cenderung akan menggeser ke sebelah kanannya masing-masing. Hal ini juga terlihat di beberapa tempat ketika menggunakan eskalator ada petunjuk untuk menggeser ke kanan kalau berdiri sehingga memberi ruang bagi orang di belakang untuk melewati dari arah kiri. Saya coba konfirmasi ke anak-anak mahasiswa Indonesia yang kuliah di sini, dan ternyata memang begitulah keadaannya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Bike to work,why not?

CATATAN NANIK S DEYANG

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00