• Latest
Tazkirah - 69725DB3 AA41 4D5E 9377 B4D3D8D0233D | Bacaan | Potret Online

Tazkirah

Juli 15, 2022
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tazkirah

Redaksi by Redaksi
Juli 15, 2022
in Bacaan, Bingkai, Catatan Perjalanan, Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Tazkirah - 69725DB3 AA41 4D5E 9377 B4D3D8D0233D | Bacaan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Jonson Effendy

Berdomisili di Palembang

Jika mendapat ujian dari Allah, jangan hitung kerugian materi berapa besar derita kita, tapi lihatlah seberapa besar angka yang akan Allah berikan atas kesabaran, atas musibah tersebut. Jika Allah menguji hamba-Nya, tandanya Allah masih sayang pada kita. Dengan adanya ujian agar iman kita menjadi lebih berkualitas.

Antara hidup dan mati. Begitu banyaknya orang berpikir tentang hidup, sehingga dia berusaha untuk selalu mempertahankan kehidupannya. Apapun akan dikorbankan, asalkan bisa tetap hidup. Sedangkan sedikit sekali orang yang berpikir tentang mati, bahkan takut mati.

Siapakah orang yang celaka?

Mereka adalah: orang-orang yang ditinggalkan oleh orang banyak karena takut dengan kejahilannya karena mereka merasa tidak aman dari gangguannya.

***

Berikut ini kisah perjalanan saya waktu ke Malaysia. Selepas Salat Subuh, saya tak segera pulang ke rumah melainkan duduk sejenak mengamalkan zikir pagi. Baca tasbih 100 X, baca salawat atas nabi 100 X, baca istiqfar 100 X setelah ditutup dengan doa barulah saya pulang. Namun, betapa terkejutnya saya saat  melangkah ke luar surau sendal saya tinggal sebelah.

Pak Cik yang ada di surau bertanya pada saya, ketika mereka melihat saya mondar-mandir mencari sesuatu seperti ada yang hilang.

“Kenapa?” tanya Pak Cik.

“Sendal saya hilang sebelah.”

“Oh! Salah sorong orang tu, tak tengok lagi dia punya sendal,” ucap Pak Cik mendamaikan hati saya.

Saya pikir juga begitu mungkin dia tidak sengaja memakai sandal saya kalau dia niat ambil tentu dua-duanya dia bawa. Setelah mencari setiap sudut ruangan pelataran surau tak juga ditemukan. Akhirnya saya pulang membawa sendal sebelah, sebelahnya lagi kaki ayam. Saya naik flat ke rumah saudara tempat saya menginap.

“Assalamu’alaikum, Jo! Sendal saya hilang sebelah.” Saya menuturkan kejadian hilangnya sendal kepada Ajo, maksutnya (Kakak) dalam bahasa Pariaman.

“Oh! Mungkin orang salah pakai coba cari  turun lagi ke bawah dekat surau.”

Saya pun turun dari plat sementara Ajo mengikuti di belakang. Sampai di surau tidak ada tanda-tanda keberadaan sendal itu.

“Di mana menaruh sendalnya?” tanya Ajo.

“Di sana sebelah, di sini sebelah,” jawabku.

Maksudnya letak sendal itu berjauhan sambil menunjuk sudut ruangan latar surau tempat saya menaruh sendal.

Tak begitu lama saya lihat ada seorang bapak berbadan tegap turun dari motor, setelah memarkirkan motornya di dekat suarau saya lihat dia berjalan menuju tangga flat mau naik ke atas, saat itu hati saya berkata, “Sepertinya bapak itu memakai sendal berbeda satu sama lainnya.”

Saya lalu memanggil Ajo.

“Jo! Lihat orang itu memakai sendal seperti punya saya.”

Saya lalu berlari mengejar bapak itu, “Pak Cik! Itu sendal saya yang Pak Cik pakai, sebelah lagi ada di atas.”

“Oh!” jawab Pak Cik, seperti orang terkejut.

Setelah dilihatnya sandal yang dia pakai berlaian satu sama sebelahnya, saya pun mengambil sendal itu. Alhamdulillah sendal saya berjumpa lagi, kalau masih rezeki ada saja jalannya untuk kembali.

Jonson Effendi

Malaysia, Lembah Jaya, 13/07/2018

*Jonson Effendi, Palembang*

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Selamat Malam, Secangkir Kopi, Habis tak habis

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com